Catatan : Kopi Pagi, Tanda Tangan, dan Selembar Kertas, 8 Januari 2019

Kopi dan Pagi

Kopi pagi yang tak seperti biasa, tanpa semangat, meski masih dari air sumur yang sama, kopi dari wadah yang sama, gula yang serupa, dengan takaran yang tak berbeda. Gundah, gelisah.
Seperti ada sesuatu yang mendesak keluar untuk mencari jawaban, namun enggan bersusah mencarinya.

Sudahlah. Kelak, akan datang sendiri jawaban itu.

Sedikit berkabut, nyala mentari terhalang di baliknya, temaram. Bleky tersenyum manis setelah mendapat semprotan lemon pledge dan usapan lembut kain lap bekas. Awalnya, dengan membersihkan Bleky dari noda lumpur hari kemarin, dikira cukup untuk menghalau gelisah yang hinggap semenjak kemarin siang. Nihil, tak ada yang hilang, dan semakin bertambah dengan rasa kopi yang tak genap seperti biasa.

Pada situasi demikian, layak ada sepatah dua patah kata pisuhan. Tetapi, nihil juga. Tak ada pisuhan yang keluar. Lidah serasa kelu, mata menatap nanar pada daun hijau yang tertunduk lesu.

Mulai 6.40, jalanan tak terlalu ramai. Tak terlalu hingar bingar, tak seperti biasanya. Lagi-lagi. Kini jalanan, setelah sebelumnya kopi. Baru pada sepenggal pagi, semua sudah nampak tak sama, menumpuk pertanyaan di dalam hati.

Sebuah sepeda motor mendahului, dengan cara memotong, tanpa ragu-ragu.
Bajingan, mengumpat dalam hati, masih dengan tanpa suara yang keluar. Seorang anak bercelana abu-abu. Semoga selamat sampai tujuan, dik.

Kantor, mesin absensi. Ritual yang selalu sama, setiap pagi.
Ouwh, lagi-lagi. Kopi, jalanan, kini mesin absensi.
Ya, mesin absensi yang melacurkan dirinya untuk bersedia disentuh banyak orang itu juga terasa berbeda. Tetapi tentu tak harus membayar 80 juta rupiah. Gelisah.

Masih belum ada jawaban, dari hal-hal dan kejadian yang terlihat tak sama, dari hari kemarin.

Meminjam catatan, dari hari kemarin, tentu tak mungkin. Tak pernah ada catatan pasti, dari hari-hari yang telah lewat dan dilalui. Tak pernah ada catatan, untuk tiap definisi suka duka, tenteram atau gelisah, nyaman atau rusuh, semuanya terlewat begitu saja. Tak pernah benar-benar ada arsip dan tempat untuk menyimpan segala, agar tak kebingungan atas tanya, kenapa?

Semua terlewat begitu saja.

Ini hari yang menyebalkan. Semua nampak tak sama, namun dengan waktu, tempat, kejadian yang serupa.
Bangs*t.

Tanda tangan

Ada yang semestinya harus diganti, tanda tangan, untuk melengkapi berkas. Dunia kian rumitnya, dengan berbagai password dan tanda tangan, dengan berbagai ancaman dan peraturan. Tanpa reward atas prestasi dan keberhasilan. Beberapa semut berjalan, tepat di sebelah layar monitor, mungkin menertawakan.

Selesai, Bleky menanti, menuju Jalan Kusumanegara.

8.30, KPPN sepi. Empat kali. Kopi, jalanan, mesin absensi, KPPN.
Sepagi ini, sudah empat hal terasa janggal.

Harusnya, ada upaya untuk mencari jawab dari tanda tanya yang menyeruak. Kenyataannya?

Menikmati kegelisahan, serupa candu yang menyenangkan.

Takutnya, ada semacam penyakit yang hinggap, atas pembiaran rasa gelisah, yang terkadang berujung rasa saki.
Ya, menikmati rasa sakit dengan tangisan, dan sedikit senyuman.

Selesai, tanda tangan menyelesaikan semua.
Setelah pada beberapa berkas, kini pada beberapa lembar kertas. Tanda tangan jauh lebih berguna dan bermanfaat daripada penciptanya.
Tanpa tanda tangan, tak akan ada yang bisa mengambil uang tabungan di bank, meski uang milik pribadi, dari keringat sendiri.

Tanda tangan, jauh lebih dihargai daripada manusia itu sendiri. Yang terkadang saling tikam, saling khianat, saling ancam, saling berpaling, saling membohongi, saling menyembunyikan, atas nama harga diri, atau terkadang balas dendam.

Masih tanpa suara, masih dengan lidah yang kelu, masih dengan bibir yang terkatup rapat.

“Terima kasih.”
Satu-satunya kata yang terpaksa keluar, atas karena bantuan, yang dilakukan, di KPPN, untuk pekerjaan.

Setelahnya, tak ada lagi suara dan kata-kata. Hanya asap rokok yang mengepul, dari sebatang sisa dua hari belakangan.

9.30, bengkel.
“Maaf, kemarin terpaksa kami tanda tangani.”

“Ya, tidak apa-apa.”

Kalimat kedua, untuk memaklumkan ‘penyelewengan’ tanda tangan, tanpa ijin dan konfirmasi. Ya, benar-benar tak mengapa. Tak ada yang perlu dipermasalahkan. Toh, itu bukan bersangkut paut dengan anggaran negara, atau dengan penyelewengan anggaran.

Tengok kanan kiri, gaduh, riuh, raung sepeda motor bersahutan. Tentu saja, ini bengkel dengan banyak mekanik sedang mencoba memperbaiki, sesuatu yang sedang tidak baik, pada sepeda motor.

Ah, andai ada bengkel yang bisa menghilangkan rasa gelisah, memberi jawab atas samar yang mengganggu pandangan.

Sepertinya, harus mencari secangkir kopi. Agar tak limbung dalam perjalanan pulang, dan tak harus berbaring di atas aspal.

Selembar kertas

Harus ada yang diganti, lagi, pada berkas yang sudah terkumpul dan diterima serta diakhiri, dengan tanda tangan.

Semua, hanya karena perubahan nama, nomenklatur, yang membuat repot semuanya. Dari Prambanan, menjadi 8.

Kenapa mereka terlalu senang terhadap angka-angka, lalu menuangkannya dalam selembar kertas, dengan tanda tangan, dan harus ditaati sekaligus ditakuti.

Harus diganti, tak harus nanti. Bisa esok, atau esoknya, atau esoknya lagi, asal tak sampai kadaluwarsa angka yang tercantum pada tanggal.

Ah, …

Belum juga selesai satu tanya, menguar tanya berikutnya. Perihal kenapa hari ini, pagi ini, seakan tak pasti. Seolah goyah adalah adalah nama tengah yang pantas tersemat, untuk dipakai bersanding bersama gelisah.

Entah apakah sampai nanti, esok lagi, lusa nanti, atau…

Biarkan catatan menjawab teka-teki hari ini, yang selalu samar bertanya, dan tak jelas terhadap jawabnya…

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

30 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.