Catatan : Menikah Itu Sederhana, Yang Rumit Tafsir dan Bayangan-Bayangannya

Saya paling suka berkumpul dan mengobrol dengan anak-anak muda. Seperti kemarin, Minggu [3/3/2019]. Karena tetangga ada acara, pertunangan anak sulungnya, maka beberapa anak muda komplek juga datang, dan berkumpul di teras rumah. Mendapuk diri sendiri sebagai tukang parkir, dan oleh karena itu bisa bebas merokok tanpa terikat acara resmi.

Salah satu yang saya suka dari ngobrol-ngobrol bersama anak muda adalah, saya ikut merasa muda, dan paling tidak bisa sedikit-sedikit mencuri dengar perihal istilah yang sedang hype di kalangan mereka. Biar tak semakin tenggelam ditelan kebotakan.

´╗┐Sebenarnya tak terasa juga bahwa beberapa anak muda yang saya sempat ngobrol dengan mereka itu, kini mereka telah beranjak dewasa. Ada yang sudah kuliah, ada yang sudah bekerja. Padahal dulu ketika saya datang ke komplek perumahan ini, mereka masih anak-anak. Ada yang SD, ada yang SMP. Apakah ini juga sebagai pertanda kalau saya beranjak tua?

Ya tidak juga, saya hanya lebih matang saja pada sisi usia. Haha…

Memang usia muda tak lantas menjamin adanya inovasi, atau pembaharuan. Tetapi jelas, muda menjamin ketersediaan energi. Energi yang berlimpah untuk menggenggam dan melawan kehidupan. Bagi anak-anak muda itu, termasuk bertunangan.

Anak tetangga yang kemarin bertunangan itu, juga sebaya dengan anak-anak muda yang mengobrol dengan saya. Dulu ketika saya datang dan mulai bertempat tinggal di komplek perumahan, anak itu masih SMP.

Karena mereka hanya berusia sebaya, maka tak ada alasan untuk tak memprovokasi pemuda-pemuda di depan saya. Provokasi untuk lekas mengambil satu perempuan, untuk dijadikan pasangan.

Pada salah satu pemuda itu, yang sudah bekerja, saya sarankan untuk mendekati salah seorang [saya sebutkan nama]. Tak saya sangka jawabannya cukup menohok,

“Kalau nanti minta bedak, mumet ndhasku Pak.”

Jawabannya membuat saya tergelak. Anak-anak muda memang lucu tak karuan. Kalau nyari pacar milihnya yang cantik, tapi takut kalau diminta ongkos make up. Tapi saya besarkan hatinya,

“Yang penting yakin dulu. Bedak urusan belakangan.”

“Aku sudah yakin kok Pak.”

“Lha gene?”

“Yakin ditolak.”

Lagi-lagi jawabannya membuat saya, dan beberapa tetangga tergelak, dan misuh-misuh.

“Wuuuuu pemuda cap opo kuwi?”

“Menikah ki tidak mudah je Pak.” katanya, membela diri.

Saya kok akhirnya trenyuh juga, menikah memang tak mudah. Dan akhirnya saya bertanya,

“Sudah punya pacar?”

“Belum Pak.”

“Haa ya kuwi yang bikin tidak mudah.”

“Belum punya rumah juga Pak.”

“Bukan masalah.” Asal saja saya menyahut.

“Yang penting calonmu ada dulu.” Saya melanjutkan.

Akhirnya saya terpaksa memberikan tips singkat pada pemuda takut bedak itu cara-cara mendapatkan pacar.

Tentu saja tips yang tidak pernah saya praktekkan sendiri, cara-cara yang tidak pernah saya gunakan sendiri.

Yang jelas menikah memang tak sederhana, sebenarnya. Tak seperti klaim beberapa pihak yang mengklaim ‘halal’ dulu. Boleh saja halal dulu, tapi perkara bedak dan make up memang harus dipikirkan. Benar apa kata pemuda yang dulu adalah rekan saya bermain futsal itu.

Bolehlah mengedepankan alasan tak semua perempuan doyan bedak dan make up. Tetapi perempuan pasti selalu ingin terlihat cantik dan menarik. Kalaupun bukan melalui make up, maka dengan penghidupan yang layak. Makanan bergizi, misalnya. Asal ‘halal’ tetapi tak memikirkan urusan belakangan, termasuk urusan bedak, dapur, dan kamar, rasa-rasanya kelak akan jadi haram juga. Banyak toh yang alasannya halal dulu, belakangan akhirnya cerai. Ituh, bahkan yang katanya hafidz Qur,an cerai juga, nikah muda. Yaa meski tak semua pasangan nikah muda lantas bercerai juga. Maksud saya, perlu juga dipikirkan perkara bedak itu. Begitu.
Bukannya asal tubruk saja.

Maka kemudian ketika pemuda di depan saya dengan pandangan melantur mengisap sebatang rokok, saya menyimak kata-kata berikutnya,

“Gek sekarang harga rumah sudah hampir satu milyar ya?”

Tak jelas pertanyaan itu ditujukan pada siapa. Tetapi pemuda itu mempunyai pandangan yang luas, jangan sampai kelak calon istrinya sengsara.

Sampai disini, bagi para perempuan, lupakan laki-laki yang hanya bisa memberi lembar-lembar surat cinta, puisi, dan narasi kehidupan yang indah berdua selamanya. Kecuali kalau surat cinta, puisi, dan narasi-narasi itu laku secara ekonomi, jadi buku misalnya. Best seller pula, baruuu….
Tapi kalau cuma gombal-gombalan, apalagi puisinya cuma cuplikan dari buku atau koran bekas bungkus ikan asin, buang ke sungai saja…..

Senyatanya, benar apa kata pemuda anak tetangga saya itu, bahkan bedak pun akan membuat pusing tujuh keliling. Belum lagi rumah, kendaraan, piknik, perhiasan, dan kebutuhan pokok sehari-hari.

Tetapi bisa jadi ketakutan semacam itu memang hanya bayangan. Ketakutan akan sesuatu yang multitafsir, sekaligus multi sudut pandang, dalam lorong samar. Tak ada seorang pun yang akan mengetahui isi di dalam lorong, keadaannya, atau bahkan ujung lorongnya, selain memasuki dan melihatnya sendiri.

Bahkan ketika masuk di dalamnya, sampai pada ujungnya, masing-masing orang akan bercerita mengenai pengalamannya masing-masing. Tentu, cerita yang berbeda-beda, tergantung apa yang ditemuinya.

Sesederhana itu pernikahan, namun lengkap beserta kerumitan bayangannya.

Saya tak membuat perhitungan serta menyampaikan panjang dan lebar perihal kerumitan-kerumitan tersebut, kepada para pemuda yang menyimak obrolan dengan gelak tawa. Tentu tak harus saya sampaikan narasi-narasi detail pernikahan. Saya sampaikan saja,

“Lamar sik, urusan liyane pikir keri.” semata untuk membesarkan hatinya.

Yo tep angel Pak.”

“Kalau mau enak, nikahi anak-anak orang kaya.”

“Saya mau Pak. Aku gelem-gelem wae. Haa ning po kono gelem ro aku?”

“Haa mbuh piye carane.”

Jujur saja saya seakan bercermin ketika berdialog dengan mereka. Mengingat diri saya sendiri yang berpikir ulang sekian ribu kali, ketika dulu memutuskan untuk mendekati perempuan, dan kok apalagi memutuskan untuk lebih serius berhubungan.

Sedang saya waktu itu, gaji juga hanya sekian ratus ribu, dan belum juga mempunyai tanah atau rumah. Lengkap sudah bayang ketakutan untuk menikah.

Maka, ketika persis mengetahui kondisi mereka mirip dengan saya dulu, saya bisa meledek dan memprovokasi mereka. Yaaa karena sebenarnya kami ini sama.

Sampai disini, bahkan isi pembicaraan kemarin baru satu faktor yang membicarakan kerumitan saja dari bayang pernikahan. Baru faktor ekonomi, dan belum yang lain-lainnya.

  • Hati, perasaan, kecocokan, kenyamanan. Bah.
  • Belum lagi keterpaksaan, perjodohan. Cuih.

Kalau saya sampaikan kepada anak-anak muda itu, bisa jadi mereka akan semakin gentar untuk menikah. Kalau sudah begitu, saya yang akan merasa sangat bersalah.

Eits tunggu dulu, Portisio…..

Apakah di era industri 4.0 ini masih ada pertimbangan selain ekonomi untuk sepasang manusia jatuh cinta melangsungkan pernikahan?

Apakah masih ada pemaksaan di tengah era kebebasan. Kebebasan memilih, apalagi pasangan?

Yaaa mungkin saja masih ada. Pemaksaan terselubung.

Misalnya, terpaksa menikah dengan seseorang karena balas jasa keluarga atau dirinya sendiri. Misal keluarganya pernah dibantu oleh keluarga lain, dan balas jasanya dengan menerima perjodohan atau pernikahan.

Semisal yang lain, mungkin dirinya pernah dibantu oleh seseorang, untuk membayar hutang dalam jumlah cukup besar, atau karena sudah dicarikan pekerjaan, maka sebagai balas jasanya ia mau menikah dengan seseorang yang sudah dijodohkan oleh pihak yang membantunya.

Itu hanya contoh sekelumit kerumitan-kerumitan bayang pernikahan, selain faktor ekonomi. Hanya satu faktor lain, yang menambah bayang rumit di balik sederhananya proses menikah.

Menikah memang sederhana, yang rumit adalah bayangan-bayangan, serta tafsirannya.

Ah tapi tentunya para pemuda itu kelak tetap akan menikah. Jangan sampai mereka bermental lembek dan takut menikah seperti anak-anak muda modern dari Jepang.

Jepang terancam pada beberapa dekade ke depan, akan menjadi negara manula. Karena rendahnya angka kelahiran, sebab takutnya generasi muda mereka melangsungkan pernikahan.

Yaelah, rumit benar.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

14 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.