Catatan : Menjaga Jarak Dengan Media Sosial, Berbicara Dengan Diri Sendiri

Sudah lebih dari dua minggu [semenjak 14/04/2019] saya meninggalkan media sosial. Bising dan hingar bingarnya tak saya ketahui, pun tak saya dengar. Akun Facebook saya matikan sementara, begitu juga dengan Instagram. Kebetulan saya tak aktif di Twitter, maka tak ada yang perlu saya non-aktifkan.

Untuk berjaga-jaga, saya sudah mengunduh semua berkas yang menurut saya penting, terutama foto dan video. Semua sudah saya simpan rapi, dan saya simpan dalam sebuah folder khusus pada laptop tua saya. Apa yang sebenarnya menakutkan bagi saya ketika memutuskan untuk sejenak menghindari media sosial, adalah bahwa saya tidak akan bisa lagi melihat-lihat foto atau video yang sudah diunggah. Beberapa konten yang saya unggah, memang saya tak memiliki salinannya.

Maka ketika memutuskan untuk sejenak rehat, saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Paling tidak, kelak ketika pada akhirnya saya tidak kembali ke media sosial, saya mempunyai salinan berkasnya.

Awalnya, semua terasa aneh.

Dalam keseharian biasanya tangan saya tak bisa lepas dari hape. Sekadar membuka beranda Facebook, melihat-lihat apakah ada hal atau berita baru. Dari halaman-halaman yang saya ikuti, atau dari kawan-kawan saya. Sepuluh tahun saya ber-Facebook. Ketika ingin meninggalkannya, rasanya juga berat dan eman-eman. Banyak relasi dan pertemanan yang sudah terjalin. Pun sebenarnya saya sedang merintis untuk mengenalkan blog yang baru saya buat beberapa bulan sebelumnya.

Selama ini, Facebook menjadi media paling rasional yang bisa saya gunakan mempromosikan blog, dikarenakan keterbatasan ilmu serta pengetahuan dalam bidang teknologi informasi utamanya perihal SEO atau apapun cara-cara agar blog ramai pengunjung.

Kekhawatiran kedua adalah perihal blog itu, selain yang pertama adalah tentang arsip-arsip.

Saya takut blog kemudian tak banyak pengunjung.

Memang niat awal membuat blog sederhana adalah untuk belajar menulis, dan menumpahkan segala apa yang seharusnya tumpah keluar, serta tak layak untuk disimpan sendirian. Awalnya saya juga tidak peduli apakah tulisan saya akan dibaca orang lain ataukah tidak.

Tetapi, seiring waktu, senyatanya saya kemudian takut bahwa nanti blog saya akan [kembali] sepi setelah mengalami peningkatan traffic pengunjung.

Terlihat absurd sebenarnya, bahwa dalam kenyataannya jumlah kawan saya di Facebook tak lebih dari 600 orang. Sangat sedikit.
Dan dari yang sedikit itu saya yakin tak sampai 5% tertarik membuka blog yang setiap hari saya promosikan dengan tulisan-tulisan baru.

Jujur saja, bahkan selepas mengunggah sebuah tulisan kemudian mempromosikannya di Facebook tetapi ternyata tak banyak yang membacanya, saya sedikit stress. Niat serta tujuan awal untuk hanya belajar menulis, nyatanya mengalami pergeseran yang cukup jauh.

Saya kemudian banyak berharap bahwa tulisan saya akan banyak dibaca, serta blog banyak dikunjungi. Terkadang saya cukup tertekan mendapati kenyataan jika blog tak banyak pengunjung meski saya sudah berusaha membuat konten yang baik serta optimal sesuai kapasitas saya, dan juga sudah mempromosikannya.

Tetapi mungkin Tuhan dan semesta sedang berbaik hati kepada saya. Melalui gelaran pilpres dan pemilu serentak, saya mempunyai sepenggal waktu berkontemplasi.

Ceritanya, suatu kali saya terlibat pembicaraan dengan istri. Kaitannya dengan berbagai tulisan saya yang terkadang cenderung pedas, kasar, dan bahkan oleh beberapa orang diartikulasikan sebagai ajang pencarian musuh.

Padahal, saya hanya ingin bertukar pikiran melalui tulisan. Bukan untuk mencari musuh dan memicu permusuhan.

Tetapi memang tak semua orang mau bisa berpikiran secara sama dengan apa yang saya maksudkan. Beberapa orang membawa perbedaan pendapat di media sosial, pada ranah pribadi keseharian. Beberapa kawan bahkan menjauh. Mungkin merasa tersakiti dengan tulisan-tulisan saya.

Dengan segera, dan dengan sedikit tergesa tanpa banyak berpikir panjang serta menimbang, saya memutuskan untuk mematikan sementara akun media sosial yang saya punya.

Diawali dengan Facebook, kemudian Instagram.

Sudah lebih dari dua minggu. Bagi beberapa orang mungkin ‘baru’ dua minggu. Tetapi bagi saya yang sepertinya sudah kecanduan dengan media sosial, dua minggu adalah pencapaian yang spesial.

Saya sama sekali tak mengintip media sosial. Sama sekali tidak.

Awalnya, sedikit tersiksa. Terutama ketika saya tak lagi bisa mempromosikan blog baru yang saya punya.

Jujur saja, sebenarnya saya ingin mempunyai penghasilan tambahan dari blog itu. Entah dari banyaknya traffic, atau dari hal-hal yang bisa saya lakukan disana ketika blog saya ramai. Berjualan secara online misalnya. Sebagai PNS golongan dalit, tentu wajar semata saya ingin mempunyai penghasilan tambahan.

Beberapa hari pertama sungguh menyiksa. Berbagai alasan dan godaan untuk segera kembali, menyeruak menari di depan muka. Rasanya ingin minum bir dan mabuk agar sejenak lupa.

Tetapi saya tahan juga. Apa bedanya ‘sembuh’ dari mabuk media sosial, lantas kemudian mabuk minuman keras.

Pada penggalan-penggalan waktu kosong, yang biasanya saya gunakan untuk memantau pergerakan media sosia, akhirnya menempatkan diri saya dalam ruang sepi. Ruang sepi yang hanya berisi saya, dan diri saya sendiri.

Sembari merokok, kami banyak berbincang. Terutama, tentang apa dan bagaimana nasib blog yang kami punya. Kami bertukar pikiran. Mungkin anda akan menganggap saya gila, ah….tak mengapa.

Ketika saya bertanya perihal ‘bisnis’ yang sebenarnya sudah dipersiapkan dengan keberadaan blog itu, diri saya yang lain menjawab dengan sebuah pertanyaan lain :

“Apa tujuan awal blog itu dihadirkan?”

Ya, blog itu pada awalnya seperti sudah saya kemukakan, memang saya tujukan sebagai media untuk menyimpan semua tulisan. Sebagai media untuk belajar, dan untuk misuh-misuh secara bebas. Bukan untuk berbisnis.

Dalam hari-hari pertama itu, saya banyak memberikan sanggahan. Toh suatu perjalanan bisa berubah rute dan tujuannya, bahkan di tengah jalan.
Tetapi diri saya yang lain mengingatkan perihal konsistensi.

Saya tercenung, konsistensi.

Ketika dalam banyak tulisan saya menyebut mengenai idealisme, pada sisi yang lain saya melupakan konsistensi.

Setidaknya belajar konsisten untuk tak banyak mengubah tujuan, agar tak menjelma menjadi manusia pragmatis yang hanya mengejar keuntungan pribadi serta memanfaatkan kesempatan.

Diri saya yang lain terus berusaha menghibur, dengan memberikan beberapa bukti mengenai ‘derajat kesehatan’ yang meningkat selepas memutuskan berhenti dari media sosial.

Salah satunya, kini dalam satu hari saya bisa menyelesaikan dua atau tiga tulisan. Dulu ketika masih bermedsos, saya hanya bisa menyelesaikan satu tulisan dalam satu hari. Yah, meski tulisan saya juga hanya tulisan-tulisan receh, setidaknya tujuan awal untuk belajar menulis bisa menjadi semakin baik. Dua atau tiga tulisan dalam satu hari bagi seorang pemula seperti saya, —yang menulis jelek saja belum pantas—, rasanya sudah luar biasa.

Salah duanya, saya bisa rutin berolahraga. Hal yang dulu malas serta berat saya lakukan. Dulu saya akan lebih banyak memilih duduk sembari memelototi perkembangan berita melalui media sosial. Kini, dengan banyak waktu luang yang [kembali] saya punya, saya bisa berolahraga.

Selepas melewati dua minggu dan banyak berbincang dengan diri sendiri, rasa-rasanya satu bulan pun akan mudah saya lewati.

Saya mempunyai harapan sederhana, bahwa kelak ketika kembali bermedsos, saya tidak akan lagi kecanduan terhadapnya. Saya hanya akan menggunakannya untuk sesuatu yang benar-benar berguna, serta tidak membuat tertekan dan memicu permusuhan.
Saya tak pernah berharap permusuhan, hanya memang penerimaan masing-masing orang tentu saja berbeda.

Semoga saja bia demikian itu nantinya, entah satu bulan, dua bulan, atau satu tahun kemudian ketika saya memutuskan kembali bermedia sosial.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

11 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *