Catatan : Minggu, Obrolan Bis, dan Mendung Semarang

Hampir saja ada yang terlupa ketika pada pagi hari membuka mata, bahwa hari ini harus pergi, ke Semarang.

Bukan piknik, bukan tamasya.

Saya menganggapnya bukan begitu. Kalau piknik, tamasya, atau wisata, tentu saja tak harus memakai kaus yang serupa dan seragam.

Piknik kok seragam. Mau piknik atau upacara?

Tetapi ya tetap saja saya beranjak mandi, setelah sebelumnya menyeduh segelas kopi. Meski bukan piknik, tetapi saya memaksakan diri untuk ikut. Acara ini didaulat sebagai acara perpisahan Kepala Tata Usaha pada tempat saya bekerja, karena akan memasuki masa purna tugas atau pensiun.

Sungguh kalau bukan karena beliau, saya lebih memilih menarik selimut kembali. Minggu pagi, lebih menarik untuk diisi dengan perpanjangan waktu tidur.

Berangkat dari rumah untuk berkumpul di titik point, sudah jam 7 lebih sekian menit. Padahal, dalam undangan tertera jam 7 tepat harus sudah berangkat. Sengaja saja. Biar saja, ditinggal juga tak mengapa. Toh sudah berusaha sampai untuk menuju pada tempat awal berkumpul.

Sampai di tempat, semua sudah berada di dalam bis. Katanya, kurang saya sendiri yang belum datang.

Lhah, kok ya belum ditinggal, daripada gerundelan menunggu satu orang.

Dari Prambanan ke Semarang, semestinya jauh lebih menyenangkan kalau ditempuh via vallen Klaten-Boyolali-Salatiga. Tetapi ini lewat Magelang, karena satu hal. Tapi ya sudah, daripada lewat Gunungkidul.

Tujuan pertama, —katanya— Kampung Rawa, di tepi Rawa Pening. Karena belum pernah kesana, saya memaksa diri untuk antusias.

Dan memang saya senang tujuan pertama adalah Kampung Rawa, karena saya bisa lekas membuang air seni yang blas tidak ada unsur estetikanya, selain kenapa sebegitu banyak bisa muat di dalam satu ‘selang’.

WCnya di pojokan sana.

Ternyata Kampung Rawa ini, rumah makan, to?

Silahkan browsing sendiri perihal kampung rawa.

Saya mendadak tidak ingin menuliskannya setelah membeli sebotol Pocari Sweat isi 500ml, seharga 10.000,-.
Tempat wisata sih boleh saja, tetapi di lain tempat, paling mahal 8.000,-.

Tapi ya sudahlah, barangnya sudah terlanjur sampai ke lambung, tentu minus botolnya.

Tujuan setelahnya, saya tak tahu persis.

Menarik juga, saya sengaja tidak bertanya dimana detail tempat-tempat yang akan didatangi. Biar serasa misteri.

Ternyata, masih di seputar Bawen. Hortimart.

Tepat di tepi jalan Bawen-Ungaran.

Saya sangka, akan ada tour jalan kaki berkeliling perkebunan. Ternyata naik mobil yang sudah disulap sedemikian rupa. Sepertinya memang ada paket jalan kaki, tetapi sepertinya juga, bayarnya lebih mahal. Ya sudah, pilih yang lebih murah, tetapi naik mobil. Mosok ya bayar lebih mahal, tetapi jalan kaki. Ya to?

mobil modifan.

Yang paling menarik bagi saya, adalah jajaran pohon durian yang belum terlampau tinggi, tetapi sudah banyak berbuah. Lebat. Musang King, Montong, dan beberapa jenis durian lainnya. Beberapa pohon durian lain yang sudah mempunyai tinggi puluhan meter, dan saya lihat pada batangnya ada yang diberi tulisan Trenggono, Ponconoko, Bromo, dan beberapa lagi lainnya juga terlihat berbuah lebat. Menyenangkan sekali andai mempunyai kebun yang demikian luas seperti itu. Banyak pohon buah, dan sekaligus bisa untuk memelihara macan.

Katanya durian montong.

Saya jadi teringat tanaman durian yang beberapa tahun lalu ditanam oleh Bapak. Bagaimana kabarnya hari ini? Halo, Bapakku?

Dulu katanya sih, tanaman itu akan dirawat, setelah saya sempat protes karena diminta membantu menanamnya, yang juga berarti harus membersihkan sawah. Saya sangsi, apakah tanaman itu akan bisa hidup. Lebih karena saya prediksi, mereka takkan mendapat perawatan selayaknya. Tetapi Bapak tetap ngotot, bahwa akan merawatnya, sembari terus berbicara bahwa besok kalau sudah berbuah pasti akan sangat menyenangkan. Yasudah.

Bapak bilang sih, waktu itu, bibit tanaman durian setinggi satu meter itu akan hidup, tumbuh subur, dan berbuah dalam waktu yang tak terlampau lama.

Hallowwww Bapakkuuhhh….

Dan ketika berkeliling Hortimart ini, saya memang seketika membayangkan kalau pohon durian yang kami tanam itu, akan mampu hidup sehat dan sejahtera.

Kembali ke Bawen, Semarang. Hortimart ini katanya, mempunyai luas 20 hektar. Waow.

Berisi berbagai macam tanaman buah dan sayuran.

Silahkan kesana sendiri saja deh ya, dan beli buah tangannya.

Tour dengan mobil berjalan sekira dua puluh menit. Hanya sekilas-sekilas saja jika pengunjung yang mengambil paket 15.000,-, berkeliling dan mendapat penjelasan. Serba singkat.

Hortimart juga menyediakan tempat berbelanja oleh-oleh yang cukup menyenangkan. Sebagian besar berisi buah dan sayuran hasil dari kebun mereka sendiri.

Saya hampir membeli segelundung durian, tetapi urung begitu melihat harganya, 500.000,- lebih sekian.

yang gede berpita merah ini, harganya 500 ribuan.

Yassalaaammm.

Saya kira, selepas Hortimart, pulang. Saya sudah merasa lelah. Sangat.

Sebenarnya semenjak berada di Kampung Rawa, saya sudah merasa lelah mendadak. Sebab, ternyata kartu memori kamera saya, tertinggal di rumah. Hiks…

Ternyata, masih harus ke Cimory. Pabrik susu itu. Susu dan yoghurt sepertinya. Yang kemasannya plastik dan tidak kenyal.

Sampai di Cimory, saya hanya berada di luar, dibawah sebuah pohon besar yang juga difungsikan sebagai tempat parkir kendaraan roda dua. Saya lebih senang melihat lalu lalang manusia, dan juga kendaraan.

Sebenarnya, apa yang mereka cari dengan agenda bernama, wisata?

Apakah mereka benar-benar membutuhkannya?

Ataukah ada agenda selain itu?

Kebutuhan eksistensi dan pengakuan dari pihak lain?

Mengenai seberapa sering bepergian, dan seberapa banyak mereka tahu mengenai tempat-tempat tertentu?

Entah saja, sebatang rokok lebih nikmat daripada harus menjawab pertanyaan semacam itu.

Yang jelas, Semarang mendung, tapi panas. Ternyata anggapan awal saya bahwa ini bukan piknik, menjadi kenyataan. Sama sekali saya tak merasa puas, dan semua serba kentang [kena tanggung].

Padahal, saya berharap salah. Bahwa anggapan saya bahwa ini bukan piknik, berubahlah menjadi piknik. Tetapi….

Pulang, dan kembali lewat Magelang, karena satu hal.

Mampir pada satu tempat sebelum Secang, makan.

Tidak akan saya tuliskan perihal makan itu, sebab…menunya ga enak. Yang enak hanya teh panasnya.

Sampai di sini, sebenarnya hal-hal yang saya tuliskan di atas, sama sekali tidak penting. Catatan klomoh yang lebih mirip curhat.

Kalau ada yang lebih menarik, sebenarnya adalah percakapan-percakapan yang saya dengar ketika berada di dalam bis.

Misalnya :

“Novia Kolopaking ki mbiyen tau ngidoni Cak Nun pas dilamar. Kuwi kan bojone Cak Nun.” [Novia Kolopaking itu dulu pernah meludahi Cak Nun ketika dilamar. Itu kan istrinya Cak Nun] kata seseorang, ketika melihat sebuah video lawas yang diputar dari dashboard bis, menampilkan Novia Kolopaking menyanyikan sebuah lagu.

“Cak Nun ki sik nglengserke Soeharto to?” [Cak Nun itu kan yang (ikut) melengserkan Soeharto kan?] seorang yang lain menimpali.

“Ora. Cak Nun ki ra melu nggon kuwi.” [Tidak. Cak Nun tidak ikut hal-hal seperti itu] seorang yang pertama berkomentar, memberi klarifikasi.

Bagi saya, percakapan itu jauh lebih menarik daripada seharian berada di tempat-tempat asing, tanpa mengeluarkan kamera pusaka dari dalam wadahnya.

Ada juga pernyataan lain yang menarik :

“Itu sekarang timbangan truk semua tutup. Gara-gara Ganjar.” seseorang berkata kepada saya.

“Maksudnya?” Saya tak paham. Sebelumnya, saya sedang sibuk melihat video lawas Nike Ardilla ketika bernyanyi.

“Ya gara-gara Ganjar. Pas dia beberapa kali ikut berjaga di timbangan, trus menemukan praktik pungli. Trus Ganjar marah besar, melarang itu, jadinya sekarang malah tutup.” si pelontar pernyataan, memberi penjelasan.

“Ooo.” Saya bingung harus menjawab apa, atau bagaimana.

“Ya itu kan dilematis kalau memang harus benar-benar tertib berat muatannya, dan praktik timbangannya.” Lanjutnya.

Dan saya semakin tidak paham, apa maksudnya dengan pernyataan ‘dilematis kalau memang harus benar-benar tertib’?
Karena saya bodoh, tidak paham, saya hanya menganggukkan kepala saja.

“Pernikahan Cak Nun dan Novia kan sebelumnya sempat ditentang oleh keluarga.” Seseorang yang tadi sedang membicarakan Cak Nun dan Novia, kembali membuka wacana diskusi.

“Sebabnya?” Yang tadi menimpali dan bertanya apakah Cak Nun melengserkan Soeharto, kembali menimpali dengan pertanyaan.

“Sebabnya, Novia itu dulu Kristen.” Yang membuka wacana kembali memberi informasi, terdengar yakin dan meyakinkan.

Saya sungguh bersyukur mempunyai sepasang telinga yang sehat dan mampu mendengar dengan baik.

Lebih bersyukur lagi bahwa saya berada dalam lingkungan yang selalu memberi saya banyak bahan, untuk tersenyum dan tertawa. Setidaknya, meski tak jadi piknik, hati saya tetap gembira.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

33 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *