CATATAN : PASAR, DAGING LADA HITAM, DAPURAN PRING, DALAM LAMUNAN SECANGKIR KOPI

Selain senja yang redup, temaram, hangat disertai nyanyian serangga dari pepohonan, saya menyukai pagi yang samar, tipis kabut, serta nyanyian burung yang bebas hinggap dari satu dahan ke dahan lainnya. Menyenangkan.

Pada keduanya selalu saya beri penghormatan dengan menyajikan secangkir kopi, dan linting tembakau.

Pagi ini, sembari mengisap linting tembakau trowono yang sudah bercampur dengan tembakau virginia, dengan taburan cengkeh, saya pandangi satu petak kebun dengan aneka pepohonan yang tumbuh tak beraturan. Saya kira, pepohonan yang tumbuh tak rapi masih jauh lebih bagus daripada deret bangunan yang tumbuh rapi menggantikan persawahan.

Secangkir kopi hitam merk kapal api juga turut serta. Sayangnya, ia tak turut serta mengantarkan samar pagi menuju terang sempurna, karena harus berakhir di dalam perut. Maaf ya, kopi.

Tiba-tiba saya teringat bahwa kemarin sore, istri meminta hari ini untuk dibuatkan olahan ‘daging lada hitam‘. Olahan sederhana, dan murah meriah, maka saya menyanggupinya. Saya tinggal pergi ke pasar, membeli bawang bombay, dan bumbu-bumbu lain yang belum tersedia. Nanti tinggal perbanyak jahe dan laos digeprek sedemikian rupa, agar serupa daging ketika sudah berbalur kecap dengan sempurna. Haa, bercanda. Masih ada sisa sedikit daging dari gegap gempita Idul Adha.

Ooh ya, apakah anda juga merasakan, bahwa pada setiap pagi yang merangkak menuju siang, selalu ada sisa pertanyaan mengenai mimpi-mimpi samar? Mimpi yang terkadang membuat kita bertanya-tanya mengenai arti dan maknanya, untuk kemudian kita abaikan dan menganggapnya sebagai bunga tidur belaka.
Bunga yang sama sekali tak wangi, karena begitu terbangun yang ada adalah nafas bau dari mulut kita sendiri. Bah

Segera setelah tandas secangkir kopi, saya bergegas ke pasar. Pada hari Minggu, pasar sudah ramai sedari pagi. Petugas parkir terlihat sibuk mengurus deret kendaraan, beberapa orang berlalu lalang dengan berbagai macam belanjaan. Ramai, gaduh, yang menyenangkan.

Tak ada jamur kancing, habis, kata pedagang sayur. Tidak ada, kata pedagang lain.
Hanya wortel dan bawang bombay yang akhirnya terbeli. Beserta dua sachet kecil saus tiram.

Kembali berjalan, menyusuri pasar yang tak terlalu besar. Hanya dua bangunan utama yang terpisah sebuah jalan kecil, dengan atap tinggi dan cor semen memanjang berseling dengan gang kecil yang sekaligus sebagai tempat bertransaksi. Para pedagang duduk, menggelar dagangannya dalam cor semen memanjang, beradu punggung dengan sejawatnya di belakang. Ramai, menyenangkan.

Tak jauh dari pedagang sayur paling laris di pasar ini, seorang kakek dengan taksiran usia lebih dari delapan puluh tahun, duduk menghadap barang dagangannya yang beraroma khas, harum. Pada jari tangan kanannya terselip selinting tembakau, pakaiannya rapi, berkaus dengan kerah memakai celana kain berwarna cokelat tua. Beberapa tas besar berisi dagangannya berjajar rapi, pedagang tembakau.

Saya sejenak berhenti, bertanya apakah boleh mencoba. Si kakek mempersilahkan. Saya mengambil sejumput tembakau Boyolali, berwarna cokelat tua hampir kehitaman, menaburinya dengan cengkeh setelah menatanya pada selembar kertas garet. Menyulutnya, dan…bedebah, seharusnya saya tahu dari aroma, warna dan teksturnya saja, tembakau ini untuk kretekus kelas berat. Kalau petinju ya sekelas dengan Mike Tyson atau George Foreman. Bukan kretekus pemula seperti saya. Tetapi saya tetap membelinya, setengah ons. Tembakau seperti ini, bagi saya akan membuat ‘mabuk‘ jika dilinting tanpa campuran tembakau lain, tetapi akan menjadi bumbu yang sedap jika dicampur dengan tembakau lain yang lebih ‘ringan‘.

“Setengah ons angsal Pak?” tanya saya sembari masih menikmati selinting tembakau gratisan.

“Angsal mas.”
Dan pedagang berusia sepuh tersebut cekatan mengambil tembakau yang saya minta, meski dengan kecepatan tangan yang telah terbatas oleh usia.

Dengan membayar 10 ribu rupiah saya dapatkan setengah ons tembakau beserta beberapa kertas garetnya.
Tentu beberapa waktu ke depan saya akan kembali pada lapak si kakek tua, membeli lagi, dan ikut bersemangat menjalani hari ke hari melalui perjuangan demi perjuangan.

Pasar, masih —dan semakin bertambah ramai—. Terdengar berbagai alunan transaksi, menyenangkan. Tak ada mesin-mesin dan ucapan terima kasih yang berulang layaknya rekaman. Percakapan seperlunya, sewajarnya, namun dengan hangat dan keramahan khas antar manusia.

Kembali sampai di rumah, dan segera sejumput dari setengah ons tembakau yang baru saja didapat, dicampurkan dengan tembakau trowono dan virginia dalam skala rahasia. Hasilnya…Indonesia memang tercipta dari cuilan surga.

Saya menulis ini dari dalam sebentuk sungai yang cukup lebar, tak jauh dari rumah. Alirannya kecil saja, beberapa bagian kering karena kurangnya debit air, dan memperlihatkan batu yang tersebar berserakan. Dari bawah rimbun pohon bambu yang terjaga kehidupannya. Ramai.
Semacam tempat wisata yang dikelola oleh warga masyarakat setempat, dan banyak dikunjungi oleh —menurut saya, orang kota—. Saya simpulkan secara subyektif dari banyaknya mobil, cara berpakaian, logat bicara, dan penyikapannya terhadap sungai dan rimbun pepohonan.

Bagi saya pribadi, tempat seperti ini kurang menarik. Saya lahir, tumbuh, besar dan berkembang dalam lingkungan yang demikian ini. Beberapa tempat di Banteran dan sekitarnya, dulu, jauh lebih menarik.
Tetapi tentu saja rasa hormat yang mendalam layak untuk diberikan. Atas usaha menjaga dan mempertahankan kondisi lingkungan, agar tak semuanya berubah fungsi menjadi modal-modal kapital termasuk gedung dan bangunan.

Anak-anak kecil terlihat asyik bermain air, dalam aliran sungai dengan bebatuan. Beberapa orang dewasa asyik tenggelam dalam obrolan, beberapa lagi asyik berkerumun pada penjaja makanan.

Saya sendiri, kemudian asyik dalam lamunan. Melamunkan ketika kelak tak ada lagi rimbun pepohonan, dan juga sungai untuk bermain dan bergembira. Mungkin anak cucu saya kelak hanya akan mengenal air dari kran dan selang-selang.

Oh iya, lalu kapan memasak daging lada hitamnya, ah…

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

4 Comments

  1. Thank you for your entire labor on this web site. My mom really loves managing investigations and it is obvious why. My partner and i learn all regarding the lively tactic you present sensible things through your web site and in addition invigorate response from some others on the situation then our favorite princess is really starting to learn a whole lot. Take advantage of the rest of the year. You have been doing a stunning job.

  2. I wanted to put you the tiny remark to be able to thank you over again on your pretty suggestions you have provided on this page. It was really strangely open-handed with you to make unhampered precisely what many people would’ve offered for sale for an ebook to get some money for themselves, particularly now that you might have tried it in case you desired. These strategies in addition served to be the good way to know that some people have the identical interest really like my personal own to learn much more when considering this matter. I believe there are several more pleasant sessions in the future for many who read through your site.

  3. Needed to write you this very small word to help thank you very much yet again with the superb tips you have shown on this website. This is so unbelievably open-handed with you to provide without restraint what exactly numerous people would have supplied for an electronic book to make some profit on their own, principally since you might well have tried it in the event you wanted. Those thoughts likewise worked to become good way to realize that some people have the identical keenness similar to my personal own to realize significantly more when it comes to this matter. I believe there are several more pleasant sessions up front for people who scan your site.

  4. We are a group of volunteers and opening a new scheme in our community. Your website offered us with valuable info to work on. You’ve done a formidable job and our entire community will be thankful to you.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *