Catatan : Pasar Sepi, Kios Kosong, Pedagang Laris

Hari libur karena Hari Raya Nyepi [07/03/2019], mendadak otak saya ikut sepi. Sampai sekira menjelang Maghrib, tak ada ide yang mampir untuk meramaikan otak, dan meramaikan website eceran ini. Jadinya seharian hanya glundang-glundung, dan sama sekali tidak produktif.

Rencana untuk mengunjungi makam simbah di Wonogiri juga tak jadi terlaksana. Padahal rasanya sudah kangen tak karuan. Nyuwun pangapunten nggih Mbah, mbenjang sanes wekdal kulo sowan.

Daripada website kemudian sepi, tak ada tulisan untuk diunggah, dan kemudian itu menjadikan terputusnya amal baik kontinuitas, maka saya putuskan untuk tetap menulis. Asal saja, pokoknya nulis. Saya mempunyai target pribadi untuk selalu membuat minimal satu tulisan, saban hari, untuk diunggah di website ini. Sekadar untuk menguji ketahanan otak dan jari, apakah masih cukup sanggup meladeni hati.

Akhirnya terbersit untuk menuliskan mengenai pasar. Sama sekali tidak menarik, ya?
Masih lebih menarik menuliskan politik, pilpres, netralitas ASN, dan segala bangkai yang menyertainya.
Tetapi saya sedang muak dengan politik, terlebih lagi dengan birokrat dan pejabat yang berpolitik praktis.
Makanya kemudian terbersit tentang pasar.

Gegara pada pagi hari tadi saya ke pasar. Mengantar istri yang cerewet merajuk minta ditemani membeli cilok. Yawlaaahhhhh…membeli cilok harus sampai ke pasar Pyongyang Piyungan. Untung tak harus bertemu Kim Jong Un.

Katanya cilok yang mau dibeli itu, enak. Pakai telur. Saya tak peduli, saya tak terlalu suka cilok. Sampai di pasar, segera mencari keberadaan penjual cilok termaksud. Setelah salah mencari pada tempat yang tak semestinya. Yang seharusnya di sebelah selatan pasar tetapi kami mencarinya di sebelah barat pasar, akhirnya ketemu juga dengan penjualnya. Penjual Cilor, bukan cilok thok. Cilok telur.

Bulatan ciloknya dimasak atau digoreng ulang menggunakan adonan telur, dalam wajan kecil. Wajan yang mirip untuk membuat apem, tetapi dengan diameter per lubang lebih kecil. Ciloknya semacam didadar dengan adonan telur, baru dinikahkan dengan tusuknya. Harga per tusuknya seribu rupiah. Dalam satu tusuk berisi empat glundung pringis cilok.

nih proses membuat cilor

Ramainya minta ampun, pembeli cilor tersebut. Sampai harus antri, dan mau tidak mau harus menunggu sekian menit. Kalau tidak salah ingat, kami harus menunggu sampai lima belas menit. Bah.
Tetapi, ternyata cilornya enak, hehehe….

Ramainya pembeli di tempat penjual cilor itu, hampir seperti anomali terhadap kondisi keseluruhan pasar. Pasar Piyungan, terlihat sepi. Banyak kios kosong, dan tak banyak pembeli. Padahal hari libur. Atau karena hujan?

Semenjak berangkat menuju pasar, langit memang masih memuntahkan sisa-sisa air hujan semalam. Gerimis. Aspal dan jalanan masih basah, beberapa pengendara lain di jalanan masih terlihat menggunakan jas hujan.

Sampai di pasar, beberapa petugas keamanan terlihat berjaga di pintu masuk. Berseragam kaus berwarna hitam. Usia mereka rata-rata sudah lebih dari separuh baya. Satu diantaranya saya lihat berdiri ketika kami akan melewati mereka, saya kira akan mencegat dan memberi karcis parkir, ternyata ia hanya berdiri saja. Sialan.

Begitu memarkir sepeda motor, saya lihat beberapa kios yang tepat berada di depan saya, tutup. Saya kira memang belum buka, atau sedang tidak buka. Tetapi ketika memasuki pasar dan berjalan untuk mencari penjual cilor di atas, memang banyak kios yang kosong.

Saya kemudian teringat beberapa waktu yang lalu, di hari Minggu, ketika juga melihat banyak kios kosong pada beberapa pasar tradisional. Selain banyaknya kios yang tutup, tidak terisi pedagang, juga pasar terlihat sepi tak banyak pembeli. Pada beberapa waktu yang lalu di hari Minggu itu, pasar pertama yang saya lihat sepi di pagi hari dengan banyak kios kosong, adalah Pasar Imogiri.

Pasar kedua adalah Pasar Bakulan.

Pasar ketiga adalah Pasar Pandak.

Pasar keempat adalah Pasar Lempuyangan.

Pada keempatnya saya melihat banyak kios kosong, bahkan kios-kios yang berada di tempat strategis, dekat pintu masuk atau berdekatan dengan tempat parkir kendaraan. Saya lihat juga tak banyak pengunjung yang dalam bayangan saya pasti berjubel, di pagi hari.

Pada keempat pasar itu saya tidak tahu apa penyebab sepi dan banyaknya kios kosong. Saya tak sempat melakukan observasi dan penelitian. Hanya saja jika dikaitkan dengan keberadaan pasar modern, sepertinya juga tidak relevan. Pada ketiga pasar [Imogiri, Bakulan, dan Pandak], tidak ada toko atau pasar swalayan modern berdiri berdekatan.

Atau mungkin karena revitalisasi pasar yang dimulai semenjak lebih dari sepuluh tahun lalu, tidak menyertakan peta jumlah penjual. Maksudnya, jumlah kios dan luas pasar yang dibangun, tidak sesuai dengan potensi jumlah penjual. Terlalu banyak kios, terlalu luas pasar, terlalu sedikit penjual atau pedagang Maka kemudian pasar terlihat lengang.

Pasar yang terlihat lengang bagi pandangan saya pribadi, menjadi terlihat kurang sehat. Ia tidak menunjukkan semangat dan gelora pembangunan ekonomi kerakyatan, yang pada prakteknya menjadi tulang punggung penyangga ekonomi Indonesia di masa krisis, dari waktu ke waktu. Lebih mudahnya, ia tidak memperlihatkan guyub serta ramainya suasana pasar.

Lengang dan sepinya pasar tradisional dengan bangunan baru, saya saksikan juga terjadi pada Pasar Prambanan. Gedung yang terlihat menjulang megah itu tidak kemudian diikuti dengan suasana jual beli yang bergairah. Beberapa kawan menyampaikan, kalau Pasar Prambanan tak seramai dulu.

Mungkin penyebabnya memang karena, peningkatan jumlah kios dan luas bangunan pasar, tidak diikuti dengan bertambahnya jumlah pedagang secara signifikan.
Saya kira, hal ini harus menjadi pertimbangan bagi pengambil kebijakan, ketika akan melakukan revitalisasi pasar. Jangan sampai tujuan revitalisasi yang sebenarnya baik, menjadi kurang mengena pada tujuan dikarenakan kurangnya perencanaan.
Revitalisasi pasar yang pada akhirnya membuat pasar terlihat redup dan sepi, harus ditinjau ulang.

Anomali dari Pasar Piyungan yang terlihat sepi tak hanya berhenti pada penjual atau pedagang cilor. Tetapi juga pada salah satu pedagang bakmi. Pedagang bakmi itu menghadap beberapa wadah besar berisi aneka masakan. Ada bakmi putih goreng, bakmi cokelat goreng, cap jaek [tjap cay?], kering tempe, dan juga setenggok nasi putih. Kesemuanya masih dalam kondisi panas, terlihat dari mengepulnya asap di tengah lengangnya pasar. Pedagang bakmi itu menempati satu kios yang sepi pada kiri kanannya. Ia sendirian menghadap pembeli yang berjubelan.

penjual bakmi yang ramainya keterlaluan.

Dalam mengantri membeli bakmi itu, setengah jam harus dilewati. Ramai, sungguh ramai, berkebalikan dengan suasana pasar secara keseluruhan. Bakminya juga enak, silahkan sekali waktu anda mampir kesini.

Pasar Piyungan juga tidak berdekatan dengan pasar swalayan modern di sekitarnya. Kembali saya sangka bahwa lengangnya pasar dan terlihat banyaknya kios tak berpenghuni, adalah karena terlalu banyak kios yang dibangun, tanpa mempertimbangkan jumlah pedagang yang akan menempati.

Selain berlebihnya jumlah kios dibandingkan jumlah pedagang, mungkin sewa kios juga dinilai terlalu mahal?

Itu hanya persangkaan pribadi saya sendiri, sebab di luar bangunan pasar, ada beberapa pedagang menggelar dagangannya hanya dengan beratap payung besar. Padahal sekali lagi, kios di dalam bangunan, masih banyak yang kosong tak berpenghuni.

Saya selalu galau tingkat akut kalau menyaksikan pasar-pasar tradisional terlihat lengang dan sepi. Saya takut kehilangan cerita-cerita, dan segala rupa kejadian di dalam pasar. Pasar tradisional selalu menyenangkan. Banyak celoteh dan teriakan antar pedagang, tawar menawar, perbincangan, yang kesemuanya terlalu manis untuk dilupakan.

Pasar-pasar yang saya temui dalam keadaan sepi, mungkin memang baru kebetulan sepi. Mungkin ramai pada hari-hari yang lain.

Setidaknya karena pada beberapa pasar tradisional lain, saya temui pasar-pasar itu ramai.

Pasar Rejondani di dekat Banteran misalnya, selalu ramai setiap hari. Apalagi di Minggu pagi atau hari-hari libur lain. Ramai oleh pedagang dan juga terutama pembeli.

Pasar Colombo Jalan Kaliurang juga masih ramai, baik pedagang maupun pembeli. Padahal pasar ini berdekatan dengan beberapa pasar swalayan modern.

Pasar Kembangsari juga masih ramai, sangat ramai bahkan.
Pasar Kembangsari?
Yup, pasar tradisional kecil yang hanya berjarak dua kilometer dari rumah saya.

Pasar kecil yang menyediakan berbagai kebutuhan dan keperluan hidup sehari-hari. Meski kecil saja, tetapi aneka dagangan digelar oleh para penjualnya. Mulai dari sayur mayur, mentah maupun matang, kebutuhan pokok seperti beras, minyak, tepung, atau bahkan pasti gigi. Semua ada. Bahkan nasi aking pun, ada.

Yang tidak ada sepanjang pengamatan saya adalah, penjual jabatan.

Ah, pasar tradisional memang selalu menyenangkan.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

22 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.