Catatan : Rumah Sakit Yang Berubah

Ilustrasi rumah sakit. Gambar : Pixabay

Untung saja berubahnya menjadi lebih baik, kesemuanya. Jiwa dan juga raganya. Bukan hanya raganya yang bersolek, atau jiwanya saja yang makin mengendap dan matang. Tetapi kesemuanya, bersamaan, berubah menjadi lebih baik.

Tentu masih ada proses yang harus dijalani, untuk menjadi semakin lebih baik, dan lebih baik lagi. Dari satu standar minimal saat ini, menuju standar minimal berikutnya di masa mendatang.

Saya sedang membicarakan sebuah rumah sakit umum daerah di Sleman. Rumah sakit daerah yang [kini] cukup besar dan menempati lahan cukup luas. Dulu, lima belas tahun yang lalu, lahannya belum seluas saat ini [2019]. Lima belas tahun yang lalu, pelayanannya juga belum seperti saat ini. Baik pelayanan di bangsal rawat inap, poliklinik, maupun instalasi gawat darurat [IGD].

Rumah sakit ini tak asing bagi saya. Baik pada bangsal rawat inap, poliklinik rawat jalan, atau bahkan instalasi gawat darurat. Pada semua bagiannya saya pernah mempunyai pengalaman terhadap pelayanannya.

Semasa SMA, saya pernah terkapar di instalasi gawat daruratnya, karena kecelakaan sepulang sekolah. Dulu instalasinya masih menempati bangunan yang lama. Yang jarak antar bagian pendukungnya terpisah cukup jauh. Dari instalasi gawat darurat menuju loket pendaftaran maupun apotek, terpisah jarak cukup jauh.

Dulu selepas terkapar dan mendapat perawatan di IGD, saya harus tertatih berjalan sendirian menuju apotek untuk menebus resep obat. Meski luka yang saya alami tak seberapa parah —hanya beberapa jahitan saja pada organ vital—, tetap saja harus berjalan sendiri untuk menebus obat dalam jarak yang cukup jauh, menyiksa segenap perasaan.

Belum lagi waktu itu, apotek dan tempat pendaftaran untuk mendapat perawatan di IGD masih menjadi satu dengan pasien dari poliklinik dan pasien rawat jalan.

Maka jangan kemudian dibayangkan bagaimana rasanya menahan sakit karena luka, trauma kecelakaan, dan masih harus berjalan serta mengantri obat di apotek. Waktu itu rasanya saya ingin nglesot tidur di lantai, biar sedikit terasa dingin. Karena ruang tunggu juga belum representatif dan terasa panas karena tidak ber-AC.

Berkali-kali saya bersentuhan dengan IGD rumah sakit tersebut. Dua kali saya sendiri yang harus dirawat disana, dan beberapa kali mengantarkan keluarga.

Dari dulu saya rasakan memang tak ada prosedur yang berbelit, namun perihal keberadaan fasilitas pendaftaran dan apotek untuk kemudahan pasien, masih terasa kurang.

Namun saat ini, per tahun 2019 ini, rumah sakit sudah banyak berubah. Saya lihat alat-alat yang ada pada IGD sudah banyak diperbaharui, selain gedung yang juga baru. Ruang pada IGD juga sudah terpisah untuk penanganan pasien anak-anak, pasien keluhan penyakit dalam, maupun pasien kecelakaan.

Tempat pendaftaran dan apotek untuk IGD juga terletak berdekatan tidak bercampur dengan tempat pendaftaran pasien umum, begitu juga dengan tempat pembayarannya.

Perawat dan dokter serta semua tenaga kesehatannya juga sudah lebih profesional. Tak lagi nampak kesan amatir pada tenaga kesehatan rumah sakit umum pemerintah yang dulu lekat dengan pelayanan mereka.

Ketika beberapa waktu yang lalu saya berada disana, dua kali saya menyaksikan mobil ambulan memasuki pelataran dan membawa dua pasien kecelakaan. Petugas yang berjaga langsung sigap memberikan perawatan. Tak terlihat lagi saling tunjuk dan gerak malas untuk memberikan pertolongan. Kini mereka sudah jauh lebih baik.

Mohon maaf dengan sangat, sekira lima belas tahun yang lalu itu, berkali-kali ketika berada di IGD, saya menyaksikan tenaga kesehatan dengan gestur tubuh yang malas merawat pasien, termasuk pasien karena kecelakaan.

Tetapi memang kini semua sudah lebih baik, dari gedung, petugas, maupun standar pelayanannya. Mungkin karena tuntutan perkembangan jaman, atau karena keinginan diri mereka sendiri. Sebab perubahan jaman memang selalu menuntut perubahan, menuju perbaikan, apalagi jika bersangkut paut dengan lembaga pelayanan kesehatan.

Beberapa hari yang lalu tak ada lagi basa-basi bertele-tele mengenai penanganan yang harus dilakukan terhadap pasien. Dokter yang berjaga dengan sigap dan cekatan memberi keputusan perihal tindakan yang harus dilakukan. Saya tahu bahwa mengambil keputusan terhadap sesuatu yang menyangkut hajat hidup orang lain tidaklah pernah mudah. Maka tentu ada apresiasi tersendiri ketika dokter mampu mengambil keputusan dengan cepat, dan dengan metoda yang tepat.

Dulu rumah sakit ini terkenal dengan pelayanannya yang buruk dan keputusan penanganan pasien yang lambat. Banyak yang berujar bahwa jika sakit dan dirawat di rumah sakit ini, maka kemungkinannya cuma ada dua :
“Kalau tidak bertambah parah, game over.”

Tetapi semenjak beberapa tahun yang lalu, perlahan semuanya sudah berubah. Yang paling kentara, adalah dari cara mereka melayani pasien. Sudah lebih ramah.

Banyak tenaga kesehatan yang sudah beranjak lebih ramah dalam melayani pasien. Sudah jarang terlihat perawat atau tenaga kesehatan memarahi pasien dan juga keluarganya, —sesuatu yang lazim terlihat di waktu yang lampau—.

Orang sakit mencari obat tetapi dimarahi, tentu saja akan cepat mati.

Begitu juga keluarga yang mengurusnya, alih-alih merasa lega dan terbantu, mereka akan stres dan tertekan.

Salah satu yang terus saya ingat perihal perubahan mereka, meski belum terlalu signifikan di bangsal rawat inap, pada sekira lima tahun yang lalu :

“Tak ada lagi perawat dengan muka tertekuk mengganti botol infus yang hampir kosong di tengah malam.”

Dulu, lebih dari lima tahun yang lalu, anda akan menemui banyak perawat menggerutu ketika mengganti infus pasien di tengah malam.

Semoga saja perubahan mereka adalah karena kesadaran, bukan karena tuntutan, agar bisa mendapatkan kenaikan tunjangan.
Semoga.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

15 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.