Catatan : Sabtu, Wayang, dan Umur Yang Cepat Berlalu

Kemarin pagi [23/02/2019], saya hampir tak menyadari kalau itu adalah hari Sabtu. Apa yang kemudian membuat teringat perihal hari, adalah ketika saya tertegun di depan lemari, dan sejenak merasa bingung harus memakai pakaian apa untuk bekerja.

Setelah sempat ‘blank‘, saya kembali tersadar bahwa harus memakai batik. Hari Sabtu, memakai batik. Sepertinya, baru sehari setelah saya harus memakai seragam identitas Kemenag di hari Senin, kenapa ini sudah Sabtu pagi. Berarti, besok adalah hari Minggu, dan lusa adalah Senin. Cepat.

Tujuh hari dalam satu minggu rasanya begitu cepat berlalu. Rasanya baru tempo hari bernyanyi-nyanyi pada malam tahun baru, dan kini Februari sudah hampir habis terlewati.

Adakah obat pelambat waktu?

Seperti halnya ada obat penghambat kebotakan dan pencegah penuaan?

Sabtu saya habiskan dengan bermalas-malasan sepulang bekerja. Mendung yang menghias langit membuat saya menjadi enggan bepergian. Takut kehujanan. Menulis, membaca, merokok, dan minum kopi akhirnya menjadi pilihan. Sebentar saja selepas ashar berselang dengan berolahraga. Sekadar untuk mengingatkan otot-otot tubuh agar tak manja, dan sekadar agar tak lupa aroma kecut dari keringat.

Selepas sebentar berolahraga, baca buku lagi, menulis lagi, merokok lagi, sembari menunggu keringat kering untuk kemudian mandi.

Setelah maghrib, saya membuka YouTube, dan melihat sepotong adegan wayang. Sepotong adegan dialog antara Bagong dan Petruk, dalam lakon Semar Mbangun Khayangan, yang dipentaskan oleh Ki Seno Nugroho.

Ceritanya Bagong sedang meng-khotbah-i Petruk yang ketakutan dikejar Baladewa. Gegara Semar dihina oleh Baladewa, dan Petruk kemudian muring karenanya. Singkat cerita, Baladewa membuat cerita seolah Petruk berani melawan bendara, berani melawan atasan, pepundhen, dan karena itu kemudian mengutus anak-anak Pandawa untuk menangkap Petruk. Padahal tak seperti itu, bukan karena Petruk berani atau melawan. Tetapi karena Petruk membela bapaknya, membela harga diri, membela kehormatan bapaknya yang dihina Baladewa. Tetapi terkadang memang seperti itu bukan, kebenaran yang dipegang oleh masyarakat kecil, rakyat biasa, harus kalah oleh manipulasi masyarakat kelas atas atau mereka yang mempunyai jabatan, pangkat, dan kedudukan.

Petruk yang ketakutan lari, karena tak ingin mati konyol di tangan anak-anak Pandawa yang kondang sakti mandraguna. Di tengah pelarian, Bagong menghentikannya, mengingatkannya. Perihal hakikat hidup, dan beragam macam sebab kematian. Ada mati yang utama karena membela agama, dan juga kehormatan orang tua. Ada mati tingkat madya, dan ada mati nista.

Perihal Petruk, ia diingatkan bahwa andai mati, ia akan mati utama dan diganjar surga. Bagong juga mengingatkan bahwa orang hidup tak lain hanya menunggu mati. Perihal umur dan usia, toh akan berlalu demikian cepatnya. Hanya seperti orang yang sedang tidur, dan tak terasa melewati malam ketika tiba-tiba sudah pagi. Begitu pula usia, tak terasa kemarin masih berlari kesana kemari dengan ingus keluar dari hidung, tetapi tanpa terasa kini uban sudah memenuhi rambut, dan kulit sudah mulai keriput. Maka Bagong menyarankan agar Petruk berani menghadapi Baladewa yang dibantu anak-anak Pandawa yang sudah terkena manipulasi cerita. Agar Petruk membela harga diri bapak dan keluarganya yang sudah dihina. Paling tidak, agar Petruk meluruskan fitnah yang mendera.

Selepas mendengar khotbah Bagong, saya sendiri yang tiba-tiba tertegun. Tak terasa kini usia saya juga sudah berjalan pada kepala tiga. Tua.

Sore selepas ashar, di tengah jeda berolahraga, saya berbalas pesan WA dengan adik bungsu saya. Ceritanya, adik bungsu saya itu berkonsultasi perihal masa depannya kelak jika akan masuk ke SMA.

SMA?

Rasanya baru beberapa tahun yang lalu saya mengantarnya ke TK sembari berangkat bekerja. Kini, ia sudah akan masuk ke SMA, pada tahun ajaran yang akan datang.

Rasanya juga belum lama saya sering menjemputnya sepulang sekolah ketika SD di dekat stasiun Lempuyangan, kini ia sudah akan lulus SMP.

Benar juga kata Bagong, perihal usia tak terasa saja seperti kita terbangun dari tidur. Tiba-tiba sudah pagi, tiba-tiba sudah tua. Tak terasa.

Rasanya seperti hidup ini hanya menghela nafas saja. Rutin, konstan, terus menerus, dan sekaligus tak terasa. Tiba-tiba suatu kali terasa sesak, atau suatu kali tak terasa nyaman menghelanya. Entah karena pilek, batuk, atau karena sebab yang lain.

Begitu juga perihal usia. Hanya terkadang saja terasa bahwa memang sudah beranjak tua. Karena sebab-sebab sakit atau sebab yang lainnya. Tetapi dalam perhitungan keseluruhan, pergantian waktu dan penambahan usia, seakan tak terasa.

Selepas melihat sepotong adegan wayang di youtube tersebut, saya kembali meraih buku yang berada di sebelah saya. Sebuah buku yang saya juga lupa menuntaskannya untuk membaca. Buku dari Emha Ainun Nadjib, berjudul “Saat-saat Terakhir Bersama Soeharto“.

Sebuah buku yang seingat saya, sudah berada dalam rak selama lebih dari enam tahun, dan saya lupa kalau belum selesai membacanya. Buku yang berisi prasasti perihal reformasi, kejadian-kejadian, dan juga pemikiran Emha pada kurun waktu itu.

Saya kembali tertegun. Reformasi terjadi ketika saya masih duduk di bangku SD, 21 tahun yang lalu. Sudah lama berlalu. Rasanya juga baru kemarin saja Pak Harto turun, dan hingar bingar reformasi menggema dimana-mana.

Kini sudah lebih dua dasawarsa berlalu, dan reformasi tak berjalan sesuai dengan cita-cita awalnya.

Semua catatan dan tulisan Emha yang di-kliping dalam buku tersebut menggambarkan semuanya. Perihal reformasi yang disinyalir akan ‘gagal’, dan berbeloknya tujuan serta perang kepentingan di dalamnya.

Persis digambarkan ketika niat-niat reformasi mulai melenceng, maka akan ada kegagalan dan jelas kesalahan sedang dibuat oleh anak bangsa ini.

Ternyata benar saja, sampai saat ini, nyatanya hampir seperti tak ada reformasi. Kegagalan pembentukan Dewan Negara atau Dewan Reformasi untuk menggantikan pemerintah dan kemudian menyelenggarakan pemilu secepatnya, berimbas sampai saat ini. Kegagapan beberapa pihak yang takut mengambil keputusan, dengan salah satunya menuntut pembubaran MPR/DPR selepas Pak Harto bersedia mundur, harus dibayar mahal dengan kenyataan bahwa para elite saat ini pun, adalah anak-anak orde sebelum reformasi.

Dari belasan partai dan juga dua kandidat capres beserta pendukung di belakangnya, tak ada satu pun yang sebenarnya pro reformasi. Semua adalah anak-anak orde sebelum reformasi. Semuanya adalah anak Golkar yang berhasil menebarkan benih beringin, kemana-mana.

Ah, ternyata bukan hanya saya saja yang menua tanpa menyadari bertambahnya usia. Sepertinya, reformasi juga tak menyadari bahwa kini ia sudah berusia lebih dari dua dasawarsa.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

9 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *