Catatan : Segala Keterbatasan Manusia

Meski didaulat sebagai makhluk paling sempurna, senyatanya, manusia penuh dengan keterbatasan.

Tenaga, kemampuan olah pikir, dan yang paling gamblang, —usia—. Secara fisik maupun psikis, manusia rentan terhadap batasan-batasan, yang terkadang secara tak sadar, hampir mereka lampaui.

Hampir melampaui, tak lantas berarti manusia bisa melampaui batasnya.

Selalu ada kendala yang mencegah manusia melampaui batasnya, —kodrat kemakhlukan manusia—.

Makhluk, selalu mempunyai batas. Seperti halnya malaikat, yang berbatas kehendak atas dirinya sendiri. Atau iblis, yang berbatas kemakhlukannya sendiri, untuk menjadi partner dialog manusia. Apakah anda belum menyadari bahwa iblis adalah partner dialog manusia yang paling sempurna?

Keterbatasan membuat manusia rentan, terhadap segala sesuatu yang berada di luar batas kemampuannya. Terhadap segala sesuatu yang berada di luar batas, baik batas pikiran maupun kemampuan, manusia akan menjadi rentan.

Kerentanan itu akan disikapi dengan cara yang berbeda, pada satu manusia, dan manusia lain. Untuk satu hal yang sama-sama membuat rentan dan terhinggapi banyak pertanyaan, akan ada banyak cara menyikapi atau menghadapinya. Sebanyak jumlah kepala yang merasakannya.

Untuk kerentanan terhadap masalah pertambahan usia, satu manusia dan yang lainnya, akan mengambil sikap yang berbeda. Tentu saja, termasuk anda, bukan?

Berolahraga, mengatur pola makan, rutin melakukan check-up kesehatan, adalah satu dari sekian banyak sikap yang diambil manusia untuk menyikapi rentannya terhadap pertambahan usia.

Tentu ada tindakan lain, yang diambil manusia lain.
Ada yang menganggap usia sebagai hal yang tak terlalu mengkhawatirkan, dan karena itu tak perlu disikapi dengan berbagai ‘tindakan berlebihan’.
Tak perlu berolahraga, mengatur pola makan, atau check-up kesehatan.

Terserah saja. Karena manusia berangkat dari terminal pemahaman yang berbeda-beda, dalam menjalani dan melewati hari-hari kehidupannya.
Tak ada manusia yang benar-benar berangkat dari terminal pemahaman yang identik dan serupa, meski lahir dari rahim biologis, ataupun rahim ideologis, yang sama.

Ya, jangan pernah berpikir hanya ada satu rahim yang melahirkan manusia. Ada rahim lain, selain rahim ibu, yang melahirkan, dan membentuk karakter manusia. Rahim ideologis.
Tak mesti, seseorang akan sama dengan ayah atau ibu kandungnya, dalam hal pemikiran dan penyikapan atas kehidupan. Tak mesti pula ia sama dalam tumbuh kembang bersama saudaranya, meski berasal dari rahim yang sama.

Pengalaman, persentuhan dengan suatu ideologi baik langsung maupun tak langsung, akan membuat manusia berbeda-beda, dan melahirkan mereka untuk kedua kalinya.

Pengalaman itu, baik yang di dapat dari lingkungan pergaulan, atau dari lembaga pendidikan, yang membuat manusia bisa melakukan banyak hal, dengan banyak perbedaan antara satu dan yang lainnya. Penyikapan terhadap kerentanan usia, adalah salah satunya, dan sudah saya contohkan pada paragraf sebelumnya.

Terhadap pekerjaan, manusia juga mengambil sikap dan pemikiran yang berbeda-beda. Dalam hal ini, manusia berada dalam kerentanan yang sama, sebenarnya. Yaitu kerentanan mereka terhadap ancaman, yang berupa tuntutan untuk sanggup bertahan di dalam kehidupan.

Bekerja, adalah bentuk penyikapan terhadap kerentanan yang berupa eksistensi, keberlangsungan keberadaan mereka.

Namun, ada manusia yang bekerja semata untuk bertahan hidup, memenuhi kebutuhan pokoknya, dan ada juga yang bekerja lebih dari sekadar untuk bertahan hidup. Ada yang untuk memperjuangkan ideologi serta keyakinan, dan ada juga yang lebih dari keduanya. Untuk menjaga kehormatannya sebagai manusia.

Ya, manusia bekerja, semata adalah untuk kehormatan dirinya. Manusia yang tidak bekerja, tidak mengolah hidupnya, rentan kehilangan marwah dan kehormatannya sebagai manusia. Silahkan buktikan, saya hanya menyampaikan.
Begitulah salah satu takdir kemakhlukan manusia.

Manusia, penuh dengan keterbatasan, dan dikelilingi oleh begitu banyak kerentanan.

Untuk segala kerentanan yang sudah berusaha dicapai dengan berbagai usaha dan upaya, dan hampir menyentuh batas-batas kemampuannya, manusia pun akan mengambil sikap yang berbeda-beda. Sekali lagi, tergantung pada pengalaman hidupnya. Tergantung pada kelahirannya yang kedua.

Terhadap upaya dirinya bertahan dalam kerasnya kehidupan. Terhadap upayanya memperpanjang usia. Terhadap upayanya menghalau makhluk bernama kematian. Setiap manusia mengambil jalan yang berbeda-beda. Termasuk, dalam upaya mereka mendapatkan keturunan.

Ya, ada hal-hal yang memang tak bisa dicapai, dengan hanya berusaha dan berupaya. Selalu ada batas yang menandai manusia, bahwa mereka sebenarnya hanya sekadar menjadi pemain saja di dalam kehidupan dunia.

Kematian, akan tetap datang meski manusia berusaha melakukan apapun untuk menghalaunya.
Nafkah yang dihasilkan dalam usahanya bekerja, takkan pernah datang sesuai dengan harapan dan keinginan.
Keturunan, takkan bisa datang tanpa ijin dan kehendak, yang senyatanya hal itu bukan ijin dan kehendak manusia.

Anda ingin tahu kerentanan apa yang paling bisa membuat saya tersungkur?
Bukan usia, harta, atau keturunan, bukan juga kematian.

Hal-hal tersebut tak membuat saya merasa berada dalam kerentanan.

Kepercayaan.

Itu adalah hal yang selalu membuat saya rentan, dan menyadari batas-batas kemampuan manusia.

Kepercayaan terhadap orang lain, kepercayaan terhadap diri sendiri, kepercayaan terhadap hari esok…

Senyatanya, manusia tak mempunyai daya dan kuasa untuk menjaganya, seberapapun ia berusaha…

Saya selalu percaya manusia. Saya selalu percaya kebaikan manusia. Saya selalu percaya ketulusan manusia. Saya selalu percaya sesama manusia tak akan saling menyakiti. Saya selalu percaya, dan semua semu belaka.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

17 Comments

  1. I am just writing to make you understand what a perfect experience my wife’s girl obtained using your webblog. She noticed so many pieces, which included what it is like to possess an excellent helping spirit to let others with no trouble learn about specific specialized things. You truly surpassed readers’ expected results. Thank you for providing these priceless, trusted, informative as well as fun tips about this topic to Lizeth.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *