Catatan : Selasa, Ahmad Dhani dan PKI

Saya hampir tidak percaya kalau akhirnya Ahmad Dhani dijatuhi vonis penjara, 1,5 tahun. Seperti tak percaya juga ketika ia meninggalkan Maia, untuk merengkuh yang lainnya. Demi sandal jepit, sesungguhnya Dhani sedang ngunduh wohing pakarti.

Ya tentu saja, semua manusia bakal menuai apa yang diperbuatnya. Termasuk Dhani. Sudah ada UU ITE yang serba karet itu, lha kok nekat.

Sudah tahu kalau politik itu kejam, Bang Iwan sudah memperingatkan lewat lagu, lha kok juga nekat maju.

Untung saja kubu BPN paslon 2 berjanji takkan meninggalkan Dhani. Alasannya sebenarnya hanya sederhana. Dhani adalah pendulang suara. Ia masih mempunyai pengikut yang akan mendengarkan petuah dan arahannya. Terlepas dari banyak atau sedikit yang mau mendengarkannya, itu perkara belakangan. Sekecil dan sedikit pun, suara tetap suara dalam kompetisi yang mensyaratkan perhitungan semacam itu, termasuk dalam pemilu. Maka jangan heran, meski di penjara, Dhani takkan ditinggalkan BPN kubunya. Entah kalau ditinggal Mulan.

Hari Selasa ini begitu banyak berita berseliweran, di depan mata juga masuk ke dalam telinga. Beberapa ada yang layak diberikan komentar, beberapa cukup untuk disimpan, sebagai pengingat diri.

Termasuk ketika Selasa ini membaca berita, kalau Hashim Djojohadikusomo menyatakan bahwa mereka menerima dukungan dari manapun kecuali iblis, anak-anak [eks] PKI masuk dalam daftar yang diterima. Salah satu tautan beritanya disini. Sebenarnya tak masalah mau anak mantan anggota PKI atau Masyumi, atau PNI mendukung apa dan siapa saja. Yang sedikit menjadi masalah, adalah kecenderungan politik kubu mereka dalam lima tahun terakhir, yang sangat anti terhadap kata PKI. Bahkan simpatisan mereka gencar menyerang Jokowi, dengan tuduhan anak PKI.
Berarti maksudnya, mereka menyerah dan ingin berkoalisi dengan Jokowi, atau bagaimana?

Dhani dan PKI adalah dua narasi yang tak asing bagi saya. Secara samar saja tentunya. Lewat lagu dan lewat buku pelajaran sejarah.

Dhani saya kenal namanya dari lagu-lagu yang sangat ramah di telinga, juga di dada. Apapun lagu karya dari Dhani, telinga dan dada saya selalu bisa menerimanya. Mulai dari Elang, Kirana, Separuh Nafas, Sayap-sayap Patah, bahkan juga Aku Cinta Kau dan Dia.

Semua lagunya, membuat saya bisa menyandarkan kepala sembari memejamkan mata. Meski mendaulat diri sebagai musisi rock, nyatanya lagu dan musiknya lebih cenderung menuju rock yang slow, sehingga enak dan empuk di telinga.

Sedang PKI, saya mengenalnya secara lebih obyektif, melalui buku-buku sumber sejarah ketika pernah ikut nunut kuliah di Jurusan Sejarah UGM. Apa yang disampaikan buku-buku itu, dari penulis-penulis dan peneliti sejarah yang diakui seluruh dunia sebagai orang yang kompeten dan obyektif, dapat saya temui bahwa selama ini narasi tentang PKI sama sekali berbeda.

Dulu ketika sekolah, semenjak SD sampai dengan SMA, narasi tentang PKI adalah kekejaman, kemudian pengkhianatan. Dari 1948, dan juga 1965.
Padahal, PKI sudah bergerak sejak tahun 1920an, melawan pemerintah kolonial Hindia-Belanda, untuk tujuan kemerdekaan Indonesia.
Mulai Mas Marco Kartodikromo, Semaun, sampai dengan Tan Malaka, adalah tokoh-tokoh PKI yang berjuang demi tujuan kemerdekaan Indonesia.

Nah, sekarang narasi mengenai Dhani dan PKI di dalam pikiran saya, bergabung dalam satu fragmen yang merupakan bagian dari sesuatu yang besar, politik praktis. Lebih spesifik, politik praktis yang sedang dimainkan Gerindra. Gerindra, Gerakan Indonesia Raya. Partai politik yang saya juga sempat bersimpati, karena iklan-iklannya di televisi.

Sebagai musisi, Dhani harus diakui sebagai salah satu yang paling jenius di Indonesia, bahkan di seluruh penjuru bumi. Jarang ada musisi, yang seproduktif Dhani, dan se-kemaki Dhani.

Karya-karyanya langsung menjadi klasik, bahkan sebelum menua. Hanya dalam hitungan bulan, karya-karyanya langsung bisa diprediksi, akan menempati ruang-ruang batin para pendengarnya. Bohong kalau anda tak ikut berdendang ketika mendengar Separuh Nafas sedang diputar.

Dhani adalah jenius yang membungkus seluruh performa serta kualitasnya, dalam keangkuhan. Keangkuhan yang elegan.

Keangkuhan yang elegan itu tercermin nyata dalam perjalanan bermusiknya. Ia tak lantas ambruk ditinggal Ari Lasso yang lebih memilih narkoba. Lantas karena tetap tegak berdiri, ia temukan Once. Vokalis yang membuat penjualan album Dewa menjadi paling banyak sepanjang sejarah.

Tetapi, itu dulu. Sekarang, Dhani sedang melakoni akibat dari perbuatannya, bermain-main dengan dunia politik, yang tentu saja meski berseni tinggi, berbeda dengan dunia musik.

PKI, hampir serupa dengan narasi pertama mengenai pemusik itu, jenius. Baru berdiri semenjak 1920, PKI sudah mempunyai banyak massa, banyak organisasi pendukung, dan juga gerakan bawah tanah yang rapi.

Jaringan mereka luas, dan tindakan mereka lugas. Sampai-sampai mereka berani mengadakan pemberontakan pada tahun 1926. Meski pemberontakan itu sebenarnya ditentang oleh Tan Malaka, karena ia sudah memprediksi sebuah kegagalan. Nyatanya, memang benar adanya bahwa pemberontakan gagal total.

Meski kemudian dinyatakan terlarang, PKI tetap mempunyai banyak massa, pra maupun pasca kemerdekaan. Banyak unit paramiliter yang merupakan bagian dari PKI, dan ikut berjuang melawan Jepang untuk meraih kemerdekaan.

Hanya saja, friksi antar anggota dan ketidakdisiplinan membuat PKI kembali jatuh dalam lubang yang sama, pemberontakan, pada tahun 1948. Dipimpin oleh Musso dan Amir Syarifuddin, selepas penandatanganan perjanjian Renville yang banyak merugikan Republik Indonesia itu.
Tentu saja seperti yang kita tahu, pemberontakan itu gagal total. Musso ditembak mati, Amir Syarifuddin yang mantan Perdana Menteri juga ditembak mati.

Seperti Dhani, PKI juga enggan mati. Meski melalui tragedi dan kontroversi, PKI kembali bangkit pada 1949.
Mirip seperti Dhani, yang ditinggal vokalis utamanya, PKI juga ditinggalkan tokoh-tokoh utamanya yang mati pada pemberontakan 1948.

PKI bangkit sepanjang tahun 1950an, dan menjadi salah satu yang terbesar.

Jika Dhani menemukan Once, maka PKI menemukan Aidit, dan juga Njoto serta yang lainnya. Orang-orang baru yang memberikan nafas baru serta semangat dan corak baru. Semua serba baru.

Dhani juga memberikan lagu dan musik yang sama sekali baru, kepada Once. Dengan meninggalkan angka ’19’ sehingga hanya bernama Dewa, Dhani mampu meninggalkan ciri khas Dewa 19 bersama Ari Lasso, dan menjadi Dewa dengan lagu-lagu ‘milik’ dan khas Once. Lagu-lagu Dewa yang dinyanyikan Once, kalau anda memperhatikan, tidak akan mempunyai ‘jiwa’ dan daya rengkuh jiwa yang sama ketika dinyanyikan orang lain.

Saya kira, di situlah letak kejeniusan Dhani. Ia mampu membuat lagu dan musik yang benar-benar otentik. Ia adalah legenda, yang sebentar lagi dipenjara.

Seperti halnya PKI yang berjaya setelah pemberontakan, dan [sekali lagi] karena kurangnya kedisiplinan, harus kembali terjungkal pada tahun 1965. Kali ini, selamanya.

Setelahnya, pada periode selanjutnya, sejarah bangsa menempatkan PKI dalam narasi paling kotor dan menjijikkan. Sehingga, siapapun akan merasa enggan berurusan dan bersentuhan dengan apapun atau siapapun yang ‘berbau’ PKI.

Kini, musisi jenius dan elegan itu dipersatukan oleh junjungannya, Gerindra, dengan narasi kotor bernama PKI.

Dhani yang begitu bangga mengenakan seragam Nazi beberapa tahun lalu itu, kini harus bersedia berbagi tempat dengan anak keturunan PKI.
Kalau mau dirunut, ya jelas Nazi dan PKI berseberangan. Yang satu fasis, yang satu komunis. Mereka bertemu di medan laga, berperang. Salah satunya terjungkal.

Dan anda juga tahu siapa yang kemudian terjungkal dalam perang yang terjadi antara kaum fasis dan komunis itu dulu.

Kalau sekarang, semoga saja Dhani dan PKI bisa bersatu. Demi meraih kemenangan, seperti yang Hashim dan Gerindra inginkan.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

14 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *