CATATAN SETENGAH HARI, 22-9-2018 ; REMI, KOPI, JALAN, DAN NOMOR ANTRI

Dini Hari
Kartu-kartu berserak, warna merah dan hitam dominan. Bergambar hati, kotak wajik, daun lumbu, dan daun keriting (krentil?). Terkadang, sebentuk gambar badut berwarna merah atau hitam, muncul. Kadang sorak gembira mengikutinya, kadang umpatan menjadi sela.
Gelas-gelas kopi, puntung rokok, kulit kacang, berserak pada tempatnya masing-masing.

Lebih dari sepi, beberapa orang duduk bersila. Tak ada yang lebih khidmat selain tangan-tangan dan mata yang terampil membaca kartu, serupa pialang saham menekuni deret pergerakan angka-angka. Terlalu berlebihan?
Tidak, tinggal ditambah beberapa nominal uang, jadilah serupa pasar saham.

Semua orang bergembira, merayakan pertemuan yang tak lagi tentu. Tanpa sekat, masih sama seperti dahulu. Jika ada yang berbeda, tentu karena saya tak hanya bergembira, namun sangat bergembira. Tersebab acara dihelat dirumah seorang kawan yang baru saja mempunyai seorang anak, putri, cantik, dan entah mengapa saya ikut merasa sangat berbahagia. Selamat kawan.

Pagi Hari
Kabut tipis serupa tirai, bergerak pelan, tenang dan damai. Beberapa teori menyebut perihal kabut, tentang uap air yang mengudara dari tanah lembab, pepohonan, sungai, air, atau lautan. Ditahan sedemikian rupa oleh udara untuk melayang pada suhu tertentu, dengan ruang dan waktu yang tak tentu.
Tapi, pagi ini, kabut tipis berasal dari segenap harap, dan lantunan doa yang melayang rendah. Tak lagi menyentuh bumi, namun juga malu-malu untuk naik melangit menuju yang Maha Tinggi. Kabut pagi ini, bukan tentang uap air dari tanah lembab, tetapi dari perasaan yang menghangat.

Teh, bukan kopi. Bukan karena enggan, lebih karena segan. Teh pagi di tempat ini, adalah teh yang tak akan saya dapatkan ditempat manapun di dunia, tak pula di surga.

Kabut masih mengudara, terbang rendah, menelisip manja di sela dedaunan dan pandangan mata.
Ah, damai pun tak lagi tersedia setiap hari.

Mandi, sebelum melawat menuju siang hari. Bukan berniat membersihkan diri, tetapi sekadar mencarikan tempat yang lebih layak dan semestinya bagi daki-daki.

Jalanan sepi, sedikit ramai pada tiap pertemuan atau persimpangan jalan. Sepeda motor, dan sedikit mobil. Roda-roda menggilas aspal, menghangatkannya dari dingin yang mencengkeram. Entah apakah aspal merasa damai pagi ini.

Deret kursi, besi, dan orang-orang yang mengantri. Muda, paruh baya, lebih banyak orang tua. Sebagian menunduk, sebagian lagi mengantuk, sebagian lagi bercengkerama, berbicara dalam suara rendah dalam ruangan yang (masih) sepi.

Segelas kopi berpindah tangan, dari sebuah mesin. Tak ada barista. Hanya sebuah mesin dengan lampu berkedip yang berganti menyala memberi tanda. Kelak, mungkin akan ada mesin pencetak bakmi Jawa, tanpa koki.

Menjelang Siang Hari
Fucking Red berlari, beraksi. Tenang Red, kau tak jadi kujual. Penawar-penawar itu mencari barang dagangan, bukan mencari teman.
Ah, sebatas itu penghargaan manusia pada benda-benda.

Jalanan masih juga sepi. Seseorang terlihat berhenti di tepi jalan, mengambil sebuah gambar masjid besar nan megah diseberang. Ya, kini manusia begitu takjub pada gedung-gedung dan bangunan, dan seperti tak lagi merindukan luas lahan persawahan.

Red berhenti, pada sebuah tempat serupa lobby. Kursi roda berpindah tempat, memberi manfaat. Jauh lebih berguna dari politisi-politisi tak tahu malu yang terus maju meski kasus korupsi pernah menjerat. Ah, bangsat.

Ruang luas, beberapa deret kursi (lagi), wajah-wajah pucat.

“Ruang 10, Pak.”

“Langsung?”

“Ya.”

“Terima kasih.”

Kursi roda kembali berpindah tempat.

“Tak perlu lagi kembali kesini.”

“Sudah bagus?”

“Iya.”

Terima kasih.

Kembali, lorong panjang nan sepi, dilewati. Bangku-bangku panjang, berjajar rapi. Jauh lebih banyak daripada tadi pagi.

“Terima kasih.”

“Sama-sama. Semoga lekas sembuh.”

Fucking Red kembali melaju, jalanan tak lagi sepi.

Siang Hari
Kopi, lagi. Sepasang stick PlayStation terdengar berderit, melengkapi. Bukan sekadar permainan, atau pertandingan. Lebih bergengsi dari El Clasico, atau derby sepakbola manapun di jagat raya.
Memenangkan pertandingan pada siang hari ini, ceritanya akan selalu mengabadi.

Suara kendaraan bersahutan, dari jalanan tepat di depan. Beberapa truk terdengar melaju. Boleh saya katakan truk sialan? Sudah jelas bertanda tak boleh melintas, berlubang jalan terlindas.

Obrolan-obrolan ringan, dari Mekkah sampai ke Merauke. Dari kurma sampai sampai senapan Yaman.
Saya baru tahu, buah kurma memang manis dari pohonnya. Bukan karena gula, atau diolah sedemikian rupa.
Ah, kenapa saya baru tahu?

Siang berada pada puncaknya, tak terlampau panas, sedikit terlihat awan hitam di kejauhan, banyak debu berterbangan.

Jare arep jemput anake?

“Oh iya.”

Sebelum siang tergelincir dan jatuh mendaku sore, bolehlah sebentuk harap dan doa kembali mengudara, meski tanpa lagi kabut yang melangitkan doa-doa.
Ah, apakah manusia mesti selalu berharap? Meski sebenarnya ada ‘Dia’ yang selalu memberi, tanpa diminta.

Bolehlah, agar sekali waktu serupa dengan kebanyakan manusia.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

11 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *