Catatan Setengah Hari : Akhir Pekan Yang Penuh Basa Basi

Mendung terlihat menggumpal di sebelah barat, dari tempat saya berdiri memandang. Mungkin di sana sudah turun hujan, di bawah mendung yang menggantung itu. Saya bergegas mematikan komputer kantor, dan berencana untuk segera berangkat, sebelum hujan tumpah ruah sampai di sini. Saya tak terlalu suka beranjak pergi dengan hujan yang menemani. Kalau sudah setengah jalan, boleh lah.

Maka saya bergegas, ada janji dengan seorang kawan. Janji yang setengah dipaksakan, sebab saya tahu dia terpaksa akhirnya bertemu, untuk menandatangani sebuah buku.

Pada pagi ketika kami berbalas pesan di kolom komentar Facebook, di sepakati bahwa kami akan bertemu di Kafe Basabasi. Fix.

Saya segera mencari alamat kafe tersebut. Google menunjukkan Nologaten, sebelah barat Ambarukmo Plaza. Oke, saya tahu daerah sekitar situ. Kami janjian untuk bertemu jam 4 sore.

Jam setengah 4 saya berangkat, dengan mendung yang sudah siap menumpahkan bulir-bulir airnya. Saya ucap mantra, sembari menengadahkan wajah ke langit, memohon belas kasihan agar jangan sampai kehujanan. Ingus saya sudah hampir dua minggu tak habis-habis meski setiap saat dan setiap waktu saya usir keluar. Mungkin volumenya sudah hampir satu liter kalau ditampung.

Alhamdulillah lancar, mendung terlihat menyibak, langit merona manja dengan biru yang menelisip malu. Pertigaan pada Bandara Adisucipto terlihat macet. Beberapa bis terlihat ngawur dengan menghabiskan sisi kiri jalan. Sepeda motor sampai harus turun ke bahu jalan. Sial.

Selepas pertigaan bandara, lancar jaya.

Menjelang jalan layang Janti, hujan turun dengan deras. Bah, langit muntah-muntah. Terpaksa berhenti, memakai jas hujan, daripada harus berpeluk basah. Beberapa pengendara sepeda motor lain juga berhenti, juga memakai jas hujan. Beberapa tetap melaju, sembari sesekali kepala mereka mendongak ke atas. Aneh memang, pada sebelah selatan jalan, mendung pekat menghias langit. Namun pada sisi utara jalan, terlihat langit tersenyum lugu dengan warna membiru. Ah….

Sampai di Jalan Nologaten, hujan sudah reda. Hanya menyisakan genangan air di atas aspal, juga di tepi jalan. Hampir sampai. Jam menunjuk empat lewat lima menit ketika saya sampai di kafe Basabasi. Tidak cukup tepat waktu. Semoga kawan saya maklum.

Saya belum pernah ke kafe Basabasi sebelumnya. Maka saya tidak tahu tata cara pemesanan yang ada di sana. Pakai jurus kuno, datangi kasir. Pegawai menyambut, bertanya maksud. Saya sampaikan bahwa ingin memesan beberapa menu, sebuah buku diberikan. Daftar menu makanan dan minuman, beserta harga yang tertera. Saya pesan secangkir ‘kopi kotok manis’, dan seporsi roti tawar bakar cokelat keju.

“Kopi kotok itu apa mbak? Kopi dari daerah mana?” saya bertanya karena memang asing dengan namanya.

“Ooh itu kopinya direbus Pak.” pegawai memberi tahu, dan kemudian saya merasa sedikit malu.

Di kafe Basabasi, setelah pesan langsung bayar. Sedikit informasi saja untuk anda yang belum pernah kesana, dan suatu saat ingin kesana. Sebutkan nama, dan tunjukkan di mana akan mengambil tempat duduk. Nanti nama anda akan dipanggil oleh pegawai yang mengantarkan pesanan. Sore kemarin, saya memakai nama Aji. Biar tak terdengar agak muda saja, daripada memakai nama Anang.

Sore itu Basabasi Nologaten hampir dipenuhi pengunjung, yang rata-rata berusia muda. Mungkin anak-anak kuliah. Ada yang sendirian, ada juga yang berombongan. Ramai. Saya mengambil tempat duduk dekat dengan pintu masuk. Tentu dengan tujuan, agar kawan saya tak kesulitan mencari. Sebab, ketika saya sampai, saya belum melihat kelebat rambut gimbal kawan saya itu. Berarti dia belum sampai, demikian pikir saya.

Sebatang rokok saya nyalakan, sembari mata melihat ke kiri dan ke kanan. Seorang laki-laki terlihat kusut duduk di samping kanan saya, berselang satu meja. Menghadap laptop, dan beberapa piring kosong. Di sebelah kiri saya, duduk berombongan beberapa anak muda, laki-laki dan perempuan. Salah seorang dari mereka manarik perhatian saya, karena kausnya. Laki-laki muda itu memakai kaus bertuliskan :
“Laki-laki memang tidak menangis, tetapi hatinya berdarah, dik.”

Ah, saya kenal pencetus kalimat yang kemudian disablonkan pada kaus berwarna hitam itu.

Sekira lima belas menit setelah saya duduk, tiba-tiba terdengar suara setengah berteriak menyebut sebuah nama. Saya dengarkan, sampai beberapa kali. Aji….aji….aji….

Saya hampir lupa, itu nama saya. Saya menoleh, dan mengangkat tangan.

Kembali saya sulut sebatang rokok, bersamaan dengan beberapa bule yang datang, dan kawan saya tak kunjung datang. Bah, begini kalau janjian dengan orang terkenal.

Sampai hampir empat puluh menit, kawan saya mengirim pesan via Whatsapp, kalau dia sudah berada di kafe Basabasi. Ah keterlaluan.

Di pojokan, katanya. Saya berdiri, melangkah, bahkan sampai pada saung-saung yang terletak di sebelah kiri bangunan utama jika kita menghadap ke jalan raya. Tetapi kawan saya itu tak terlihat ada.

Di seberang perpus. Kafe Basabasi memang menyediakan satu sudut dengan beberapa rak penuh buku. Kawan saya menyebutnya perpus. Saya melangkah ke sana, dan tetap tak terlihat bahkan batang hidungnya. Sialan.

Saya pastikan bahwa tidak salah tempat. Saya berada di kafe Basabasi Nologaten, kawan saya menjawab Basabasi lawas [lama].

Lhah, bajingan.

Saya meminta share lokasi, ternyata dia di Sorowajan. Dekat saja sebenarnya. Tetapi ya tentu takkan ketemu.

Saya kembali misuh, kali ini dengan suara keras, dan kemudian tertawa. Beberapa anak muda melihat, termasuk yang memakai kaus dengan tulisan menarik itu tadi. Saya tak peduli. Saya ambil jaket, berkemas, dan segera pergi. Tak lupa, sebelumnya saya kembali membuang ingus di parkiran. Banyak, dan kental. Jrooottttt……

Sepanjang perjalanan menuju Sorowajan, saya terus menerus tertawa sembari mengumpat. Begini ini jadinya kalau dua orang dengan masing-masing persepsi kurang berkomunikasi, jadinya terjadi miss informasi.

Bwahahahasyuuuuu….

Sampai di Basabasi Sorowajan, saya menuju rak buku, sembari tolah toleh mencari kawan saya. Seseorang melambaikan tangan. Ketemu.

Saya menghampiri tempat duduknya, kawan saya sedang bersama dua orang lain yang tidak saya kenal. Saya sedikit canggung. Eh, tapi yang satu orang saya mengenal namanya, Mahfud Ikhwan, penulis kondang. Satu bukunya yang berjudul “Dawuk, Sebuah Kisah Kelabu Dari Rumbuk Randu” membuat saya sangat terkesan. Saya salami, kapan lagi berjabat tangan dengan penulis kondang, ngalap berkah.

Satu orang lagi saya tak kenal, pun saya juga tak memperkenalkan diri, meski nanti pada akhirnya kami terlibat obrolan yang cukup hangat dan menyenangkan. Saya sudah cukup grogi jika harus memperkenalkan diri.

Tak lain tujuan utama saya bertemu kawan saya itu, untuk meminta tanda tangan pada sebuah buku, yang sudah saya beli semenjak dua tahun lalu. Selama dua tahun pula buku itu tidak saya baca, karena belum ia tanda tangani. Semacam undang-undang, kalau belum ada tanda tangan pengesahan, ya tidak laik baca dan belum sah menjadi rujukan.

Maka selama dua tahun buku itu hanya menjadi penghuni rak, dan baru saya baca pada bagian pengantar dan prolognya saja, juga judul sampulnya.

Berselang dua puluh menit, Cak Mahfud berpamitan. Sebenarnya saya ingin minta foto, tetapi malu menjadi tabir bagi keinginan yang sungguh kurang adab itu. Akhirnya saya urungkan.

Setelah Cak Mahfud pergi, saya keluarkan buku dan sebuah pulpen bertinta warna biru. Saya berikan pada kawan saya itu. Satu orang yang saya tidak sempat bertanya nama nampak heran, dan saya kemudian memberi penjelasan.

“Dua tahun buku ini tidak saya baca mas, karena belum di tanda tangani.” Dia tertawa.

“Benar-benar belum dibaca?” mengulang.

“Belum mas. Saya memang tidak mau membacanya sebelum si gimbal ini memberi tanda tangan.”

Kami tertawa.

Jujur saja, lama saya tidak tertawa karena hal-hal konyol seperti ini. Salah tempat janjian, dan juga gara-gara tanda tangan. Dan saya sungguh berharap akan ada momen-momen lain ketika saya bisa tertawa untuk hal-hal konyol dan remeh temeh penuh basa basi seperti ini. Tawa yang menyenangkan, sekaligus melegakan. Bukan tawa yang berasal dari himpitan duka mendalam. Bukankah terkadang, duka mendalam juga bisa kemudian memantik tawa? Tawa yang terasa getir tentu saja.

Tak sampai satu jam kami terlibat obrolan, yang kesemuanya basa basi. Basa basi memang menyenangkan, setidaknya tak harus terlampau banyak memakai tenaga dan pikiran, tetapi membahagiakan. Tak sampai satu jam saya berada di sana, dan memilih berpamitan. Kawan saya itu setelahnya akan juga mempunyai keperluan lain dengan istrinya.

Ini menjadi akhir pekan yang penuh basa basi. Mulai dari langit berbasa basi menurunkan hujan yang sebentar, kafe Basabasi yang ternyata ada dua, dan juga tanda tangan keparat yang baru ada setelah dua tahun lamanya.

Tetapi, itu semua, menyenangkan.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)