Catatan Setengah Hari : Jalan, Gorengan, dan Kumpulan Pemuda

Selepas Ashar

Jalan yang sama, aspal yang masih sama, tapi kini dengan pemaknaan yang berbeda. Jika dulu lebih sering lewat dengan niat bekerja, saat ini lebih kuat niat untuk sekadar tamasya. Lebih berkah dan barokah.

Dari banyak info pada media sosial, perempatan Kentungan macet parah. Maka pada perempatan Condong catur, belok kanan adalah pilihan. Lantas belok kiri sebelum terminal. Jalan Kaliurang juga tujuannya, toko Brownies Amanda.

Senyatanya jalan lengang saja.

Sampai Banteran hampir setengah lima. Justru saat ini, jalan depan rumah yang ramainya tidak bisa dicari pembandingnya. Jalan alternatif penghubung dari pusat pemerintahan Kabupaten Sleman menuju wilayah Pakem atau Cangkringan ini, padatnya hampir menyamai barisan semut pekerja. Rapat, dan cukup sulit untuk menyeberang. Apalagi pada pagi dan sore hari.

Dulu pada setiap musim penghujan, selepas turun hujan yang cukup deras, saya biasa membuat kapal kertas dan melayarkannya pada tepi jalan yang mengalir deras sisa air hujan. Tanpa khawatir terserempet, atau tertabrak kendaraan. Kini, jangankan bermain kapal kertas, berjalan dipinggir saja harus berhati-hati agar tak dihajar kendaraan.

Kopi, menemani sore yang mendung di sini, di tempat saya menghabiskan lebih dari separuh usia. Tempat bermain, dan tempat mengasah kenakalan. Saya rasa, tak ada tempat yang lebih baik untuk berkembang, daripada tempat ini, tentu saja. Haaa…

Menjelang Maghrib

Ada perintah untuk mengambil pesanan gorengan dari Kanjeng Mami, Mamak saya. Saya dan istri langsung berangkat saja, sekalian membeli sendok plastik, susu kaleng, dan semangka.

Tiga kilometer ke arah barat. Dekat dengan resto Jejamuran. Yang dulu berkali-kali disambangi Pak Bondan Winarno ketika masih berupa warung sederhana dengan beberapa meja kursi dan satu etalase. Kini, kondangnya sudah tembus antar galaksi.

Tiga kantung plastik berisi gorengan berpindah tangan, dari penjual ke pemesan. Percaya saja sudah sesuai, entah berapa isinya. Toh beli kopi juga tak pernah menimbang ulang apakah tepat sekian gram sesuai kemasan. Kadang, hidup tenang dimulai dengan modal rasa percaya.

Jalan ini juga masih sama. Hanya saja, pada kanan kirinya sudah jauh berbeda. Satu showroom mobil sudah berganti menjadi warung ayam goreng. Beberapa toko kelontong juga bertambah, mengisi lahan yang
dulu kosong, atau menempati bekas usaha lain. Ramai.

Sleman bertambah ramai. Pada geliat ekonominya, geliat pembangunannya, lalu lalang kendaraannya, juga geliat terbangnya sawah-sawah menjadi catatan sejarah. Ups…

Selepas Isya’

Melangkah pulang…..
Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu, demi satu impian, yang kerap ganggu tidurmu….

Kali ini niat menginap di Banteran memang karena ada acara dihelat di rumah. Adik bungsu saya kebagian giliran menjadi tuan rumah kumpulan pemuda.

Semenjak dua puluh tahun lalu, memang seperti itu namanya. Kumpulan Pemuda. Semenjak saya pertama kali ikut di dalamnya.

Beberapa anak muda, generasi selanjutnya dari Banteran itu, sebagian besar saya tak lagi kenal nama dan wajahnya. Baik laki-laki atau perempuan.

Semenjak menikah, delapan tahun lalu, sampai malam ini, baru sekali kembali berada diantara gelora darah muda itu.

Gelora penuh gejolak dan retorika. Gelora yang penuh semangat namun minim eksekusi. Begitulah, sepertinya masih sama, ketika saya masih di dalamnya, dan ketika malam ini kembali saya berada di dalamnya. Seingat saya, dulu, tak jauh berbeda. Saya juga begitu, banyak bicara, banyak ide, hampir tak ada yang terlaksana. Celakanya, banyak bicara dan banyak ide tanpa pernah terlaksana itu, terbawa sampai usia saya saat ini. Bah….

Anak-anak muda ini, penuh ide dan keinginan menunjukkan jati diri. Hanya terkadang, bingung dan gamang melakukan eksekusi. Atau bingung darimana harus memulai. Atau bingung, karena tak ada yang mendampingi…

Saya mendengar saja dari luar, segala macam pembicaraan di dalam rapat di antara mereka. Berbagai macam laporan dari seksi-seksi, laporan bendahara, juga laporan atas beberapa permasalahan yang harus diselesaikan.

Jika ada yang membuat saya terhenyak, laporan bendahara yang menyatakan mereka mempunyai uang kas sebesar 6 juta rupiah, lebih sekian ribu.

Apa-apaan ini.
Dulu, uang kas paling banyak hanya 5 juta rupiah lebih sekian ribu. Itu pun hasil dari menanam sereh dan menjualnya, mencari kayu, mengambil jimpitan ronda, dan hasil jatah preman dari parkir penonton yang ingin melihat latihan motocross. Dulu lahan kosong di utara Banteran memang dijadikan tempat latihan motocross, oleh sebuah paguyuban. Dan kami dari pemuda Banteran, nekat saja membuat retribusi parkir, dan memonopolinya. Padahal, lahan itu bersinggungan batas dengan kampung lain. Maklum, darah muda waktu itu. Kalau ada pemuda kampung lain tidak terima, yaa gelut saja. Haha…

Tapi kini anak-anak muda itu mempunyai uang kas lebih dari 6 juta. Itu pun menurut laporan mereka masih ada piutang lebih dari 4 juta yang dibawa pihak ketiga. Mantul neh anak-anak.

Hampir pada akhir acara, seorang dari mereka mengundang masuk, dan meminta saya berbicara, barang sepatah atau dua patah kata. Mereka meminta masukan, juga saran. Bagaimana cara agar mereka bisa lebih kompak, dan solid dalam berorganisasi.
Apa pula maksudnya?
Ada desas-desus yang berasal dari cerita konon, bahwa pada jaman ketika saya aktif di dalamnya, organisasi ini disegani. Tak hanya di desa, tetapi juga sampai kemana-mana. Semua karena solid dan kompaknya.

Bah, bedebah mana yang membuat berita semacam itu….

Saya terpaksa berbicara. Diawali dengan permintaan maaf, kalau selama delapan tahun belakangan ‘menghilang’ dari peredaran. Juga karena beberapa kali tidak bisa menghadiri undangan dari mereka.

Saya juga harus meluruskan satu dan lain hal, bahwa saat ini mereka jauh lebih baik daripada kami dulu. Memang seperti itu kenyataannya.

Saya juga hanya memberi saran serta masukan, agar mereka membuat suatu rencana program. Satu saja, dengan rentang waktu jangka panjang. Yang bisa mengasah kemampuan mereka secara personal, sekaligus merekatkan dan mendewasakan mereka secara komunal, dalam pergaulan sosial. Agar mereka berkembang menjadi pribadi yang mempunyai kompetensi, sekaligus peka terhadap kondisi sosial dan nilai kebersamaan.

Uang saat ini bukan masalah, ada donatur baik hati yang menyokong mereka, setiap bulan. Maka yang sekarang perlu ditindaklanjuti, adalah menggunakan uang itu untuk kemajuan mereka, sebagai sarana pembelajaran mereka. Belajar sembari bermain, mengisi masa muda dengan kegiatan yang akan menjadi bekal kehidupan mereka kelak. Kegiatan yang menyenangkan, mengakomodir bakat-bakat mereka yang beraneka ragam, dan yang terpenting, kegiatan tak harus berorientasi profit.

Detail ide dan rencana saya sampaikan pada pengurus inti, dan tidak akan saya sampaikan di tulisan ini. Ide itu khusus dan eksklusif saya persembahkan bagi adik-adik dan kawan-kawan saya di Kumpulan Pemuda Banteran. Sebagai hadiah sekaligus permintaan maaf karena selama delapan tahun tak pernah membersamai mereka.

Tapi itu sekali lagi hanya sekadar ide, bukan suatu paksaan atau keharusan. Saya hanya memberi contoh kegiatan yang mungkin bisa dilakukan, sekaligus detail bagaimana harus dilaksanakan. Saya tak ingin kembali hanya dengan membawa retorika.

Pada akhirnya mulut saya berbusa, dan tak berhenti hanya pada satu atau dua patah kata.

Ah, ternyata saya memang sudah tua, dan masih banyak biacara….

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

12 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *