Catatan Setengah Hari : Minggu, dan Sleman yang Ragu

Minggu pagi yang syahdu, sampai-sampai saya terbangun sudah lebih dari pukul tujuh, dan bingung sedang berada di mana. Saya lupa kalau sedang menginap di Banteran, dan membutuhkan waktu beberapa puluh detik setelah membuka mata, untuk meyakinkan diri sendiri sedang berada di mana.

Di luar hujan, deras. Setelah malam panjang yang cerah. Dan Subuh yang telat, harus dibayar dengan sholat sembari menutup gordin, biar seakan masih gelap. Heuuuu….muslim cap apaan…..

Segelas teh panas sudah tersedia, di dapur. Tinggal ambil dan menyeruputnya. Pasti bikinan Mamak, tak mungkin bikinan Bapak.

Segera teh panas itu saya bawa ke teras, dan bergegas mengambil laptop milik adik saya, di kamarnya. Manusia label Gen Z itu masih tidur juga.

Sembari menghadap laptop, segelas teh panas, dan beberapa batang rokok, saya menikmati minggu pagi di Banteran, di temani hujan yang masih cukup deras. Di jalan depan, kendaraan ramai berseliweran. Mau kemana mereka hujan-hujan.

Saya kemudian teringat obrolan bersama Bapak, pada malam hari sebelum acara Kumpulan Pemuda di mulai. Tentang Desa Wisata yang mati suri, —atau mati permanen?—, dan juga berbagai konflik kepentingan yang melatarbelakanginya.

Dulu, Padukuhan Banteran adalah salah satu dari sedikit Desa Wisata di Sleman, yang menjadi rintisan. Kalau tidak salah ingat, hampir bebarengan dengan Desa Wisata Brayut di Kecamatan Sleman, Desa Wisata Trumpon di Kecamatan Turi, dan Desa Wisata Gamplong di Kecamatan Moyudan.

Setiap ada gelar promosi wisata, desa-desa wisata di atas selalu ikut dibawa dalam agenda pemerintah daerah setempat, Sleman. Saya pernah melihat beberapa kali, dalam beberapa acara gelar potensi wisata, di beberapa tempat yang berbeda. Rasanya saat itu ingin berteriak di dalam ruang-ruang pameran :

“Wooeeyyyyy, lihaaatttttt, ini desa sayaaaaa.”
Tetapi ya selalu urung juga. Selain saat itu saya belum gila, saya juga akan bingung jika ditanya berapa biaya untuk menginap dan menyaksikan atraksi wisata yang ada.

Jujur saja, memang tak pernah ada komunikasi terbuka tentang biaya serta standar baku tarif menginap dan mengikuti atraksi wisata di Banteran, antara para pengelola dan masyarakat awam seperti saya. Ada pengelola desa wisata atau warga Banteran yang mau membantah atau menyangkal bahwa memang tak pernah ada komunikasi terbuka perihal standar biaya dan pengelolaan?
Saya siap berdebat!!!

Desa Wisata

Iseng saya mengetik dengan kata kunci seperti dalam gambar di atas pada Google, dan tidak saya sangka, Desa Wisata Tanjung (masih) berada dalam urutan nomor dua. Ya, nama yang dipakai memang mengambil nama ‘Tanjung’, bukan Banteran. Karena memang icon yang pertama dimunculkan mengenai desa wisata ini, adalah keberadaan sebuah Joglo yang cukup tua, dan terletak di dusun Tanjung. Salah satu wilayah administrasi RT di dalam padukuhan Banteran.

Namun pada kenyataannya, dulu, desa wisata ini bergerak dan beroperasi bahkan tidak hanya dalam lingkup Padukuhan Banteran saja, tetapi juga Padukuhan Bakalan/Panasan, dan juga Padukuhan Bantarjo.

Dulu, sekira lima belas tahun yang lalu, gegap gempita desa wisata selalu terasa. Hampir setiap pekan, selalu saja ada tamu atau pengunjung yang menginap. Paling banyak, dari Jakarta.

Saya pernah ikut menjadi pendamping ketika ada tamu dari Jakarta, dari sebuah sekolah swasta elite, yang ingin mengenalkan anak didiknya pada lingkungan desa. Dan memang, Desa Wisata Tanjung/Banteran cukup potensial untuk menjadi semacam pengantar bagi anak-anak muda dari kota besar, untuk mengenal alam dan kehidupan desa. Hampir semua anak-anak sekolah itu, bahkan belum pernah melihat kodok secara langsung, juga tak tahu bagaimana rupa pohon pisang. Bahkan, tanaman padi yang masih hijau, mereka sangka rumput liar.

Mereka juga terkesima, pada tuan rumah tempat mereka menginap, yang mereka sangka ramahnya menggunakan obat kimia buatan. Pada kenyataannya, hampir semua penduduk yang mereka temui, ramah. Bukan hanya tuan rumah atau induk semang tempat mereka menginap saja.

Bung dan Nona, tetapi itu dulu, lebih dari lima belas tahun yang lalu.

Kini, tak bisa lagi saya lihat tamu-tamu berlalu-lalang yang terkadang membuat saya merasa segar seketika, saat melihat dan memandangnya.

Bahkan selama lebih dari tujuh atau delapan tahun belakangan ini, jumlah kunjungan bisa dihitung dengan jari.

Penyebab pastinya, saya tidak tahu. Saya hanya tahu banyak konflik kepentingan disana, yang tak bisa diakomodir dan dijembatani oleh pengelola, dan juga pemerintah daerah sebagai pembinanya.

Saat ini, gegap gempita dan geliat desa wisata di Banteran, hampir padam dan sirna. Menyedihkan? Tentu saja.
Selain karena sebenarnya banyak potensi yang ada, padam setelah berjaya adalah jenis kesia-siaan yang disebabkan oleh kecerobohan belaka.

Andai boleh, sini berikan pengelolaan desa wisata kepada saya. Akan saya kembangkan bersama anak-anak muda penuh semangat dan cita-cita yang malam sebelumnya sempat saya temui dan saya ajak berdiskusi.

Ragu-ragu

Pemerintah daerah sendiri, kalau saya lihat ragu-ragu dalam mengembangkan potensi wisata yang ada. Cenderung tidak membuat skala prioritas, perihal potensi wisata yang akan dikembangkan serta dipromosikan.

Saya berikan sedikit contoh :

Dengan banyaknya potensi wisata yang secara ‘legal’ bisa dikembangkan, pemerintah daerah terlihat kebingungan. Salah satunya dengan tetap memberikan akses serta ‘ijin’ meski tidak tertulis, pada beberapa tempat serta pengelola wisata, pada daerah Kawasan Rawan Bencana (KRB). Ijin yang tidak tertulis itu tertuang dalam tetap beroperasinya beberapa lokasi wisata, dengan bangunan permanen, pada kawasan rawan bencana, yang sebenarnya terlarang untuk didirikan bangunan.

Itu hanya salah satu contoh saja, mohon maaf jika terlampau tendensius.

Kebingungan juga terlihat dalam pembiaran terhadap pendirian bangunan-bangunan, pada daerah yang ditetapkan sebagai daerah resapan air, juga daerah pertanian.

Silahkan anda berkeliling daerah Sleman, mulai dari Moyudan sampai Cangkringan, dari pojok Berbah sampai ke Turi, dan lihat sendiri sawah-sawah sudah mulai beranjak berganti menjadi bangunan-bangunan. Bahkan pada daerah yang ditetapkan terlarang bagi pendirian bangunan permanen seperti yang saya sebutkan.

Perihal banyaknya mal, hotel, atau papan reklame yang berserakan tak beraturan, tak usah saya sebutkan di sini.

Memang bukan hanya tanggung jawab pemerintah daerah saja perihal kegamangan dan keraguan dalam pengembangan potensi wisata. Peran serta masyarakat juga adalah faktor yang utama. Seperti yang sudah saya sebutkan perihal melempemnya desa wisata di Banteran. Untuk contoh bagaimana penduduk atau warga mempunyai daya juang dan daya kreasi untuk mengembangkan potensi wisata pada desa mereka, Desa Wisata Pulesari di Turi bisa dikemukakan sebagai contoh yang sangat baik. Pernah mendengar atau berkunjung ke Desa Wisata Pulesari? Jika belum, sekali seumur hidup saya sarankan anda untuk berkunjung ke sana.

Peran serta pemerintah daerah dalam campur tangannya menetapkan perda tentang kawasan hijau, resapan air, juga ketegasan dalam penindakan jika ada pelanggaran, juga adalah pra-sarana yang tak kalah penting.

Kelestarian alam sebagai atraksi utama wisata untuk menarik pengunjung dan wisatawan, adalah keniscayaan.

Bagaimana mungkin sebuah atraksi wisata yang mengandalkan alam serta lingkungan akan mampu bertahan, jika bertentangan dengan arus modal utama yang ‘menghendaki’ perusakan, dan tak terlindungi dengan aturan serta peraturan?

Saya rasa belum terlambat bagi Sleman untuk berbenah, menghilangkan keraguan demi keraguan yang bergelayut untuk mampu bersaing dalam kompetisi wisata. Tak ada salahnya untuk berkompetisi dalam hal pariwisata, apalagi jika potensi yang dikembangkan selaras dengan pelestarian alam serta lingkungan.

Tak ada yang salah dengan membuka keran modal swasta untuk pengembangan potensi wisata. Hanya saja memang harus dengan catatan serta tanda kutip tebal :
“Bahwa masyarakat sekitar, tetap adalah tuan rumahnya.”

Dalam hal ini bukan berarti saya mengedepankan chauvinisme yang bertentangan dengan asas keterbukaan. Tetapi lebih kepada bahwa masyarakat sekitar adalah pihak yang paling merasakan dampak dari adanya suatu atraksi dan gelar wisata, dalam baik atau buruknya.

Ah, saya ini hanya seorang desa, dengan lingkup pergaulan desa, dan pola pikir dan cara pandang yang sangat ndesa.
Maka maafkan jika catatan ini banyak salah serta kurangnya, dan hanya mengambil satu sudut pandang untuk memberikan penilaian. Sudut pandang desa.

Sekali lagi, maaf.

Selamat malam, tanpa salam hangat.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

15 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *