Catatan Singkat

Entah semenjak kapan saya senang mencatat. Mencatat apapun, terutama hal-hal yang sebenarnya tak terlampau penting bagi kehidupan saya. Sedang untuk hal-hal yang sebenarnya penting, saya jarang mencatatnya.

Dulu, dulu sebelum negara api menyerang ketika belum ada komputer atau laptop di dalam semesta kehidupan saya, saya mencatat semua hal yang ingin saya catat, dalam buku “Gelatik”. Itu, buku yang biasa dipakai bang plecit di pasar-pasar.

Buku itu saya pakai untuk mencatat apapun. Mulai dari ‘pemasukan-pengeluaran’ uang harian saya yang berasal dari pemberian orang tua. Atau catatan perihal keseharian saya. Pernah buku itu kemudian tak pernah saya sentuh selama beberapa bulan, gegara catatan tentang pemasukan-pengeluaran itu kacau luar biasa. Kacau karena ternyata saya tak bisa mengikuti alur rencana keuangan yang sudah saya rencanakan sendiri.

Misalnya saja ketika dalam satu minggu saya mendapatkan jatah uang dua belas ribu rupiah. Saya akan membaginya untuk masing-masing pos. Ada pos untuk bensin, pos ecer rokok, pos untuk nongkrong, dan sebisa mungkin saya sisihkan sekian ribu untuk masuk ke dalam anggaran tak terduga. Prakteknya? Ambyaaarrrrrr!!!!

Semua rencana itu omong kosong belaka. Seluruh catatan itu tak lebih dari catatan. Semua rencana itu tak lebih dari sekadar rencana. Semuanya omong kosong.
Yang lebih membuat saya enggan mencatat lagi, kok bisa pada akhirnya dalam satu minggu tersebut, terjadi minus!!!!

Untung saja pembukuan harian keuangan pribadi semacam itu tak harus dilaporkan kepada Kementerian Keuangan. Jika dilaporkan, sudah pasti saya akan disita dan dijadikan aset negara.

Namun tetap saja, setelah tragedi minus anggaran tersebut, buku tetap kembali saya buka. Saya baca ulang tulisan dan catatan yang sudah berlalu, dan kemudian merenungkan semuanya.

Ternyata, sumber minus dan kekacauannya terjadi karena diri saya sendiri. Saya kurang disiplin mencatat. Misalnya, ketika saya mendapatkan uang tambahan dari Mamak atau Bapak, saya tak mencatatnya. Yang saya catat secara rutin hanya pemasukan awal dan pengeluaran-pengeluaran. Sehingga, terjadi minus.

Maka kemudian saya mencatat lagi, dengan mencoba untuk lebih disiplin. Hasilnya? Tetap minus…..

Akhirnya saya menyerah, dan tak mencatat lagi perihal pemasukan-pengeluaran itu. Saya lebih memilih untuk mencatat hal-hal lain. Perihal perahu kandas, misalnya….

Seiring waktu berlalu, buku konvensional berbahan kertas mulai saya tinggalkan. Itu semenjak ada komputer di dalam kehidupan saya. Menulis di komputer [menurut saya pribadi waktu itu] lebih mengasyikkan. Bisa memilih aneka macam jenis huruf, warna, dan yang terpenting ada menu untuk menghapus tulisan tanpa meninggalkan noda.

Berbeda dengan menulis diatas kertas, yang jika terjadi kesalahan akan meninggalkan noda berupa bekas type-ex, atau juga garis coretan.

Bertahun-tahun saya meninggalkan kertas untuk mencatat, bahkan juga setelah kemudian memiliki blog minimalis ini. Semua catatan hampir selalu saya tuangkan disini. Beberapa yang tidak saya tuangkan, saya simpan dalam bentuk soft file dalam laptop. Hanya sesekali saja kertas saya pergunakan untuk menulis catatan, dan itu pun lebih banyak berupa catatan singkat, atau puisi picisan.

Namun dalam tiap kali menulis catatan singkat atau puisi picisan diatas lembar kertas itu, saya merasakan gelora dan desiran aneh di dalam dada, yang tak saya temukan ketika menulis diatas keyboard laptop atau komputer.

Desiran aneh yang lebih serupa romantika menjelang senja. Seakan senja hanya akan ada sore ini, dan tak akan ada lagi esok hari. Seakan itu adalah tulisan dan catatan terakhir yang diguratkan atas kerjasama jari tangan dan pena. Seolah itu adalah memoar yang kelak akan lebih abadi dari byte-byte data dalam laptop atau komputer.

Akhirnya saya berusaha mencatat [lagi] dengan media kertas. Tetapi…katanya itu tak ramah lingkungan. Ini adalah era digital. Era Four point O.
Tak ada lagi kertas, paperless.

Beberapa catatan dalam kertas yang sudah terlanjur saya buat, akhirnya saya lipat. Dan sekarang entah berada dimana. Saya kembali menyuntuki tuts-tuts laptop dan komputer. Saya mengasingkan diri dari kertas. Menjauh dari segala romantika yang menghangatkan hati dalam setiap lembarnya. Saya mengabaikan itu, dan memilih untuk tetap produktif di tengah suasana dingin. Seperti menyelaraskan diri ditengah pagi yang dingin dlaam dekapan hujan. Basah, tak nyaman, namun harus tetap melangkah dan berjalan.

Terkadang godaan untuk menarikan jari diatas kertas masih datang menerpa. Kadang hasrat itu saya luapkan ketika bertemu kertas-kertas bekas. Kertas yang tak terpakai akibat suatu kesalahan dalam proses pemakaiannya yang terdahulu. Saya menulis pada sebaliknya, atau diantara sela yang masih memungkinkan untuk menggoreskan beberapa kata dan kalimat. Terkadang juga saya menulis diatas kertas, ketika menghadapi secarik dua carik kertas di meja rapat atau pertemuan. Saya tuliskan, saya ambil gambarnya, kemudian kertas itu saya sobek dan buang.

Mungkin saya termasuk manusia kolot, yang enggan maju dan menyelaraskan diri secara holistik terhadap perkembangan jaman. Pada bagian tertentu, saya enggan mengikuti kemajuan jaman dan teknologi. Salah satunya pada menulis catatan itu. Bagi saya menulis dengan jari dan pena, diatas kertas yang pasrah telentang, jauh lebih terasa suci dan tintrim untuk dilakukan.

Saya seperti diantar untuk mengunjungi masa-masa ketika masih belajar menulis dan menghafal abjad demi abjad, yang diajarkan oleh Mamak atau Bapak. Seperti semacam time traveller.

Tetapi pada kenyataannya, manusia memang harus bergerak menuju segala macam perubahan. Menuju rentang waktu yang berbeda dan takkan pernah sama pada ruas-ruas detailnya. Menuju segala hal yang bisa saja kita sukai, atau tidak kita sukai.
Kita? Tidak, maaf…hanya saya saja.

Pun sebenarnya tanpa dituliskan dalam lembar kertas atau digital, manusia sendiri itu pun juga adalah catatan. Catatan berjalan yang terkadang memuat detail, atau memuat ringkasan secara garis besar. Hanya saja yang kemudian menjadi kurang menyenangkan, catatan itu dibaca dan ditafsirkan secara berbeda oleh masing-masing pasang mata dan kepala yang membacanya. Terkadang tafsiran itu benar, namun terkadang meleset jauh dari kenyataan.

Manusia juga hanyalah catatan. Catatan singkat di dalam kehidupan.

Abadi atau tidak, tergantung pada apa yang dilakukan.

Selamat pagi, selamat menikmati akhir pekan.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *