Catatan : Tes Darah, Tensi, Dan Berhenti Merokok

Kemarin siang, hari Senin tanggal 18 Februari 2019, kepala bagian belakang saya rasanya seperti ditusuk paku, pada beberapa tempat bersamaan, dan juga berat. Anehnya tanpa terasa pusing, dan badan juga baik-baik saja.

Denyut nyeri yang seperti ditusuk paku dari dalam itu, berulang dalam interval waktu sekian menit. Sekali berdenyut, sepertinya batok kepala akan lepas.

Saya coba mengingat apa kira-kira sebab yang melatarbelakangi.

Durian, mungkin.

Beberapa hari terakhir sebelum hari kemarin, saya makan durian dalam jumlah cukup banyak. Durian gratisan, pemberian tetangga. Mumpung gratisan, dan mumpung juga dimakan ramai-ramai bersama tetangga, maka saya cukup kalap memakannya. Hingga kemudian kepala terasa ditusuk paku itu.

Mungkinkah kolesterol?

Tetapi dari berbagai sumber, katanya kolesterol menggejala pada tengkuk yang terasa kaku, dan disertai pusing. Yang saya rasakan bukan pada tengkuk, tetapi pada batok kepala bagian belakang, dan tanpa terasa pusing.

Satu-satunya efek yang menjalar dari rasa sakit itu, adalah mengantuk. Sepulang bekerja, saya memilih tiduran, niat hati ingin memejamkan mata. Saya benar-benar berpikir durian sebagai penyebabnya. Padahal, sebelum makan durian, saya sudah bisikkan padanya untuk tak menyebabkan kerugian apapun pada tubuh, selain kenikmatan yang tercecap lidah. Saya membiasakan diri untuk berkhotbah pada makanan atau minuman yang akan saya masukkan ke dalam tubuh. Semata agar mereka hanya menjadi kebaikan, dan mau bekerjasama untuk menyehatkan tubuh saya.

Beberapa menit merebahkan diri di kasur, tak juga membuat sakit kepala mereda. Saya memilih untuk merebus air, dan menyiapkan kopi. Satu setengah hari saya tidak minum kopi. Sebenarnya untuk sedikit saja mengurangi konsumsi gula, karena saya tak bisa meminum kopi pahit tanpa gula.

Aroma khas kopi Kapal Api tercium bersama menguarnya kepulan tipis asap serupa kabut dari panasnya air yang tertuang. Tercium pada hidung, segar. Sembari menunggu jeda agar kopi ‘matang’ dan siap diberi gula, saya nyalakan laptop untuk bersiap menulis perihal listrik.

Sembari menunggu laptop tua itu siap, berganti saya menambahkan gula karena merasa kopi sudah matang di dalam gelas beserta air panas beberapa saat. Lebih kurang jeda waktu lima menit sewaktu saya menambahkan gula.

Kepala bagian belakang masih terasa terganjal paku. Sebatang rokok saya nyalakan dan mengisapnya perlahan, agar tak terlalu terasa kelu.

Sembari menulis, perlahan kopi dengan sedikit gula itu saya seruput. Dan tanpa terasa, tulisan selesai bersama tandasnya segelas kopi hitam itu. Sekaligus, ada yang hilang….

Tusukan paku pada kepala bagian belakang yang sebelumnya terasa mengintimidasi, hilang, lepas. Heran juga. Saya tidak meminum obat kimia apapun.

Mungkinkah karena kopi?

Beberapa kejadian seringkali membuat saya mengaitkan keterlibatan kopi di dalam self healing yang dilakukan. Mencoba men-sugesti diri sendiri untuk tidak manja dan dapat sembuh terhadap keluhan penyakit ringan. Maka kemarin, saya juga kemudian curiga bahwa sebenarnya suplemen kesehatan pribadi diri ini tak lain hanyalah kopi.

Tetapi juga saya tetap berencana untuk melakukan tes darah ringan dan sederhana. Sekadar untuk mengetahui kadar gula, asam urat, dan juga kolesterol. Siapa tahu memang ada kolesterol yang cukup banyak hinggap pada pembuluh darah yang beranjak menua. Siapa tahu.

Maka tadi siang, sembari akan menjenguk salah seorang saudara di rumah sakit, saya mampi ke sebuah apotek di Rejondani. Dekat dengan Banteran. Kebetulan nama apotek itu juga Rejondani. Apotek Rejondani.

Apotek Rejondani yang hanya menempati bangunan kecil serta ruangan sempit itu, terkenal cukup murah untuk melakukan tes darah seperti yang saya kehendaki.

Akhirnya saya kesana juga, dan melakukan tes darah itu.

“Baru sekali ini melakukan tes, atau sudah sering Pak?” tanya pegawai yang hendak membuat saya berdarah-darah.

“Sudah sering Mbak, hanya saja beberapa bulan terakhir saya tak melakukannya.”

Akhirnya pegawai apotek berhasil melukai dan membuat saya berdarah-darah, dan mengusapkan darah itu pada alat-alat yang telah disiapkan sebelumnya. Sembari menunggu hasil, saya cukup was-was juga.

“Gula darah masih normal Pak.” kata pegawai apotek yang sepertinya adalah anak dari pemilik apotek tersebut.

Saya sedikit lega.

“Asam urat juga masih normal.” perempuan berusia muda itu melanjutkan.

Saya menghela napas panjang, namun belum sepenuhnya lega.

Hasil kandungan kolesterol masih belum keluar, membutuhkan waktu beberapa menit lebih lama. Dan sembari menunggu diputuskan untuk mengecek tekanan darah atau tensi.

“Tensi juga bagus Pak.” katanya sembari melepas alat dari lengan tangan kiri saya.

Tensi saya selalu bagus sebenarnya, berada pada kisaran 120/80. Tetapi kolesterol masih membuat saya belum merasa lega.

“Kolesterol juga masih bagus Pak.”

Plong, dan saya tersenyum lebar ke arah istri saya.

“Fisikmu ki sehat, makane hasile bagus. Embuh nek kejiwaanmu.” kata istri saya.

Hasshhh, tweleg po. Tapi bisa juga. Stres mungkin?
Tetapi stres karena apa?
Rasa-rasanya saya ini termasuk salah satu dari sedikit orang yang menjalani hidup dengan slow motion dan tanpa dikejar target-target serta ambisi.
Tapi kok kemungkinan stres?

Setelah hasil tes darah dan juga tensi dicatat pada selembar kertas serta diberikan, saya segera membayar. Rp 40.000,-.
Murah. Di apotek dekat tempat tinggal saya di Piyungan, untuk rangkaian tes yang sama diberi banderol harga Rp 60.000,-.

Kami bergegas ke rumah sakit, tempat salah satu saudara dirawat. Kata Bapak ketika kami bertemu pada hari Minggu, saudara kami itu sedang menyandang sakit radang paru-paru.

Sampai di rumah sakit yang kami tuju, masih cukup ramai. Rumah sakit kecil yang cukup populer di daerah tempat asal saya. Kami segera menuju ruangan tempat saudara menginap. Ternyata sudah diperbolehkan pulang, dan hanya tinggal menunggu menyelesaikan administrasi. Tinggal menunggu perawat membuat tagihan dan juga resep obat yang harus dibawa pulang. Selang infus sudah dilepas, dan Paklik saya itu sudah bisa berbicara banyak dan panjang lebar.

Kami mengobrol dan membicarakan banyak hal, namun hampir tak lepas dari tema sakit yang sedang disandangnya.

“Jare dokter wis ra entuk ngrokok Nang.” [kata dokter sudah tak boleh merokok Nang] katanya kepada saya.

“Ya wis rasah ngrokok kok.” [ya sudah ga usah ngrokok] saya menjawab santai.

Tentu saja, saya harus mengiyakan kata dokter yang disampaikan pada Paklik saya. Meski kemudian saya mengeluarkan bungkus Samsoe dari saku, dan memperlihatkannya pada Paklik saya itu.

“Sudahlah, ga usah merokok lagi.” kata saya tulus, setulusnya, meski dengan nada sedikit menggodanya.

Paklik saya terlihat tersenyum kecut.

Saya tak tahu apakah Paklik saya itu mengalami radang pada paru-parunya, oleh sebab rokok, atau sebab yang lain. Angin malam mungkin, atau berbagai sebab holistik yang erat berkelindan dan tak hanya karena sebab satu faktor saja.
Tetapi saya jelas memang mendukung Paklik saya untuk sementara tidak merokok terlebih dahulu. Sedang di rumah sakit soalnya.

“Ora ngrokok ki pahit je.” [Tidak merokok itu pahit] katanya.

Saya juga kemudian teringat orang-orang yang kemudian berhenti mengkonsumsi nasi, karena terindikasi mempunyai penyakit diabetes atau leluhurnya juga menyandang diabetes.
Tetapi bukankah semua disebabkan oleh dosis yang berlebihan dan tak sesuai kebutuhan tubuh ya?
Untuk makanan, minuman, atau zat apapun yang masuk ke dalam tubuh?

Entahlah, bukan ranah dan kompetensi saya untuk menilai dan menyarankan suatu hal yang berkait dengan kesehatan orang lain. Cukuplah sementara saya menghafal dan menandai tubuh saya sendiri.

Sekira setengah jam, kami berpamitan. Paklik saya juga sebentar lagi diperbolehkan pulang. Sampai rumah Banteran, Mamak sedang membuat ingkung ayam. Aromanya….

Dan ketika akhirnya saya makan, dengan ingkung beserta kuahnya, juga nasi putih yang hangat, serasa masuk surga tak harus melewati barisan malaikat yang berjaga. Cukup dengan sesuap demi sesuap nasi beserta ingkung ayam.

Tak lupa setelah berdoa sebelum menyantapnya, saya bisikkan pada makanan yang berada dalam piring di depan saya, untuk tak usah menjadi hal lain yang aneh-aneh, selain kebaikan dan kesehatan bagi tubuh saya. Nyam-nyam….

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)