Celoteh Tolol Doa Di Tikungan

Tuhan…

Sekali waktu, ikutlah bersamaku, berjalan disampingku, atau kubonceng Kau dengan sepeda motorku. Jangan hanya bersembunyi saja sehingga bisa Kau dalihkan kalimat ‘Aku lebih dekat dari urat lehermu’.

Tidak, sekali waktu berjalanlah ikut bersamaku, disampingku, sembari kita mengobrol sepatah dua patah cerita.

Akan kutunjukkan padaMu pada setiap Senin pagi, betapa Gunung Lawu seolah memuntahkan matahari pagi. Itu terlihat tepat sebelum memasuki kota Boyolali, berdampingan dengan udara dingin dan deru suara mesin truk yang mengangkut pasir. Jika tak disampingku, bagaimana Kau akan tahu pemandangan dan suasana semacam itu?

Atau jika bukan Gunung Lawu, akan kuajak Kau makan di warteg langgananku. Ada banyak sayur dan lauk yang bisa dijadikan pilihan. Tak usah khawatir perihal harga, aku yang akan membayarnya. Silahkan ambil sayur dan lauk apapun, silahkan saja…karena kita teman.

Setidaknya karena aku menganggapMu sebagai teman, bukan sebagai Tuan. Maafkan. Andai kuanggap Kau sebagai Tuan, maka Kau yang harus membayar makanan. Maka Kau kuanggap sebagai teman, bukan karena lancang, lebih agar kita semakin karib dan erat tak terpisahkan.

Nasi dengan sayur dan lauk telur beserta segelas minum, harganya sepuluh ribu rupiah lebih sedikit. Tak apa, karena kita teman, aku yang bayar. Kau ikut saja dan nikmati apa yang kunikmati setiap hari. Maka, datanglah dan jangan hanya bersembunyi dibalik diksi ‘lebih dekat daripada urat nadi’.

Atau Kau mau kuajak ke meja kantorku?
Ah ya bukan kantorku, melainkan kantor tempat dimana aku bekerja.

Akan kutunjukkan betapa tak rapinya mejaku. Betapa banyak kertas berserakan, betapa aku memakai banyak alat yang canggih dan mutakhir. Akan kutunjukkan padamu, aku yakin tak ada komputer di ‘Arsy Mu.

Tuhan…ayo berjalan-jalan.

Khawatirkah Kau dengan lelah?
Tenang, aku akan menggendongMu, tak apa. Bukan karena aku berharap akan mendapatkan imbalan ketika menggendongMu. Aku tak pernah berharap imbalan atas suatu pekerjaan yang dengan sukarela dan senang hati kulakukan. Dan tentu saja menggendongMu adalah sesuatu hal pekerjaan yang akan dengan sangat sukarela aku lakukan.

Karena aku sayang padaMu, maka aku akan menggendongMu. Karena aku menyayangiMu…

Akan kuajak Kau berjalan menyusuri rute-ruteku ketika bersepeda. Namun kita berjalan saja, jangan menggunakan sepeda. Agar bisa lebih detail kuperlihatkan padaMu, betapa menyusuri jalan adalah keniscayaan bagiku. Tak ada jaminan keselamatan disana, bahkan jika sudah diawali dengan berdoa.

Begitu, bukan?

Berharap selamat dengan berdoa adalah kata yang dipilih untuk meneguhkan ketidakberdayaan, bukan?

Kau suruh aku berdoa, agar selamat. Sedangkan aku tak mendapatkan jaminan apapun darimu, perihal keselamatan itu. Aku akan mendapatkan ketenangan dan kemanan serta rasa selamat, jika Kau bersedia berjalan disampingku.

Ooohhhhh, bukan aku tidak percaya pada sabdaMu. Aku selalu percaya. Justru karena aku sangat percaya, maka aku mengajakMu berjalan-jalan. Selalu menetap keyakinan itu, mengenai sabdaMu, maka aku mengajak bertemu dan berjalan-jalan sembari bertukar cerita.

Ceritakan mengenai Muhammad, manusia yang tak rentan oleh dunia dan bahkan akhirat itu. Manusia yang sinarnya jauh lebih abadi daripada Jibril atau Azazil. Ceritakan padaku tentang beliau yang katanya kekasihMu itu. Aku juga ingin menjadi kekasihMu, maka aku bersedia menggendongMu.

Sembari Kau ceritakan mengenai Muhammad, akan kutunjukkan warung tempat biasa aku membeli air galon dan rokok. Itu di dekat kos-kosanku.

Oh iya kalau berkenan, kita bisa duduk di teras depan kamar kosku. Kalau di dalam kos, panas. Hanya ada kipas angin kecil dikamar kosku. Belum tentu itu bisa meredakan udara panas. Aku khawatir jika bau keringatku menggangguMu. Lagipula, kamar kosku sempit, oleh karena itu kita berbincang saja diluar. Setidaknya diteras depan kamar kosku, kita bisa melihat gerumbul pohon sengon diatas rumah tetangga. Sedikit saja terlihatnya, namun sudah lumayan daripada hanya melihat tembok semen. Kalau beruntung, kita bisa melihat kucing betina yang kerjaannya hamil dari waktu ke waktu. Pernah kucing itu suatu waktu hampir melahirkan didepan kamar kosku. Kalau sampai dia melahirkan didepan kamar kos, aku khawatir anak-anaknya akan memanggilku bapak. Untung saja aku tak jadi dipanggil bapak.

Oh iya Tuhan, ijinkan aku bertanya. Selama ini, adakah doaku selama ini salah padaMu…?

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)