CERITA TENTANG SEORANG PEMAIN SEPAKBOLA ; TANPA SERAGAM, TANPA KLUB, TANPA BERITA

Suatu waktu, seorang yang sudah lewat usia untuk menekuni olahraga, tiba-tiba mempunyai mimpi dan keinginan menjadi pemain sepakbola. Mimpi dan keinginannya berawal dari hal sederhana. Ia terbiasa melihat pertandingan sepakbola pada liga-liga Eropa, liga dari dalam negerinya, dan juga ia mengenal beberapa pemain sepakbola.

Saat ia melihat para pemain sepakbola menggiring bola sembari berlari, meliukkan tubuh melewati hadangan pemain lawan, menerjang, menendang, memainkan atraksi demi atraksi, sesederhana apapun selalu menggugah semangat dan imajinasinya untuk larut di dalamnya. Melihat pertandingan sepakbola tak lagi cukup memuaskan dahaganya, ia ingin menjadi bagian dari dua puluh dua pemain yang bertanding di dalam lapangan, ia ingin larut di dalam gegap gempita kemenangan, atau juga menundukkan kepala oleh karena kekalahan.

“Ia ingin berdiri berada diantara, dan bukan hanya melihat melalui jarak pandangan mata.”

Ia mulai rajin berlari, ia juga membeli sebuah bola sederhana, ia mulai membaca panduan dan aturan bermain sepakbola, ia mulai melihat banyak rekaman permainan dari pemain-pemain hebat di dunia. Ia ingin mewujudkan mimpinya.

Mulailah ia dengan segenap kesungguhan berlatih, waktu demi waktu, terangkum dalam hari demi hari yang silih berganti hingga menjadi hitungan bulan, serta hitungan tahun tanpa terasa. Tanpa ia sadari, tentu usianya juga semakin beranjak menua. Tetapi karena ia tak menyadari itu, ia tetap merasa bahwa segala olah latih mengenai hal-hal serta pengetahuan di dalam sepakbola sudah dikuasainya. Ia mulai merekam detik demi detik dari latihan olah bolanya, kemudian ia kirimkan pada beberapa pemandu bakat, pelatih, juga beberapa klub. Ia selalu percaya, bahwa setiap hasil takkan pernah mengkhianati usahanya.

Ia bersabar menunggu kabar dan tanggapan atas video-video rekaman yang ia kirimkan. Tak muluk ia ingin menjadi pesaing Ronaldo, Messi, Dybala, atau bahkan Egy, Evan Dimas, atau juga Hansamu Yama. Ia hanya ingin diakui sebagai pemain sepakbola, dengan seragam, pada sebuah klub, meski hanya pada tingkat lokal dan sekadar amatiran.

Tentu saja usahanya tetap menjadi sebuah hal yang sia-sia. Takkan ada sebuah klub, atau pelatih yang cukup bodoh merekrut untuk kemudian memainkannya sebagai bagian dari sebuah tim sepakbola. Olah bolanya sama sekali tidak menarik, larinya tidak kencang, staminanya terlalu gampang kendur oleh satu dua sprint cepat mengejar bola. Bahkan andai ia terus berlari selama sepuluh atau dua puluh menit saja, seorang pelatih berpendapat bahwa ia akan masuk unit gawat darurat rumah sakit. Seorang wartawan sepakbola menertawakannya sebagai seorang yang tak tahu malu, tak bisa mengukur kemampuan diri sendiri, dan tak pernah berkaca.

Ia sempat berputus asa, menyingkirkan satu-satunya bola yang ia punya ke dalam gudang. Ia juga enggan untuk kembali berlari, ia mulai malas melihat sepakbola, ia mulai tidak menyukai segala hal tentang sepakbola.

Namun hal itu tak berlangsung lama, ia sudah terlanjur jatuh cinta terhadap sepakbola.

Ia mulai kembali berlari, ia ambil kembali bola dari gudang penyimpanannya, dan ia mulai kembali berlatih secara sederhana, sesuai dengan kemampuannya, dan kali ini tanpa keinginan untuk bisa menjadi bagian dari sebuah tim sepakbola.

Ia kemudian lebih sering mengajak beberapa temannya untuk bermain bersama, berlari-lari kecil, sekadar untuk menggerakkan raga tubuhnya, sekadar untuk bersenang-senang, tertawa, menikmati berlari dengan bola, tanpa keinginan untuk menjadi pemain sepakbola.

Pada akhirnya, ia hanya ingin tubuhnya tak sia-sia, lebih banyak menggerakkannya, lebih banyak menikmati sepakbola sebagai media untuk tertawa melepas penat.

Sebatas itu, ia hanya ingin merasa sehat dengan sepakbola sederhana, hanya ingin tertawa bersama sepakbola dengan caranya, hanya ingin membagi pengalaman kecilnya bersama bola kepada kawan-kawan dekat, juga semua yang mengenalnya.

Meski begitu, bahkan dengan cara yang paling polos serta sederhana, beberapa orang tetap tak menyukai caranya memperlakukan atau memainkan sepakbola.
***

Hampir mirip seperti itulah blog sederhana ini kemudian muncul, menjadi media untuk berbagi tawa, dengan cara yang paling sederhana. Ingin menghadirkan serta bersama menjemput rasa bahagia tanpa tendensi muluk-muluk yang menyertainya.

Tentu saja nantinya akan lebih banyak kurang daripada lebihnya, mungkin akan juga dipandang lebih banyak madharat daripada manfaatnya, lebih karena ketidakmampuan pengelolanya.

Blog ini hanya ingin berbagi cerita, hanya ingin bersama menumbuhkan semangat untuk lebih peduli pada hal-hal kecil serta sederhana, dan sebisa mungkin menghindari polemik-polemik besar yang mengundang perselisihan, apalagi tentang politik yang semakin terjerumus pada cara-cara untuk saling menghina.

Terakhir, tentu saja blog ini tak lantas menjadi semacam media alternatif, media hiburan, atau juga jenis-jenis media lainnya, sama sekali bukan. Blog ini bukan media (jika diartikan sebagai suatu rujukan mencari informasi dan berita), tidak mempunyai kemampuan serta kompetensi untuk memenuhi hal-hal serta syarat sebagai sebuah media yang kemudian layak untuk dikunjungi serta dibaca. Blog ini hanya tempat untuk, sekali lagi, berbagi cerita.

“Terpenting, apapun agama serta kepercayaan anda, beribadah kepada Tuhan serta berbuat baik terhadap sesama dan alam sekitar, jauh lebih bermanfaat daripada mengunjungi blog ini dan membacanya.”

Sekian.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

1 Comment

  1. Thanks for your entire labor on this web site. My mother take interest in participating in research and it is simple to grasp why. My spouse and i notice all regarding the powerful tactic you produce useful thoughts via your website and in addition recommend response from the others on this subject then our own princess is truly studying a whole lot. Take pleasure in the rest of the year. You have been performing a superb job.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.