Choki-choki, Antara Bonus dan Isi

Beberapa waktu yang lalu, Faiz —seorang anak tetangga— tiba-tiba datang ke rumah dan bertanya apakah saya mempunyai choki-choki. Itu, cokelat setengah cair yang kemasannya saya sertakan sebagai gambar utama. Cokelat dalam kemasan plastik kecil panjang, dan cara memakannya adalah dengan menyobek salah satu sudutnya.

Sebenarnya pertanyaan Faiz adalah pertanyaan retoris saja, ia tahu bahwa saya mempunyai choki-choki. Maka pertanyaannya adalah berarti bahwa ia ingin meminta cokelat tersebut. Saya jawab saja bahwa cokelatnya ada di meja dapur, diatas tumpukan teh, gula, dan minyak yang kesemuanya masih dalam kemasan dan belum digunakan. Begitulah nasib mempunyai rumah RSS, cokelat pun harus berbagi tempat dengan minyak dan gula, karena tidak ada tempat lain untuk meletakkannya.

Faiz mengambil satu, dan setelahnya keluar menuju tempat saya duduk di teras, mengucapkan terima kasih, dan berpamitan pulang. Namun tak lama kemudian ia kembali lagi, dan ada sesuatu yang sepertinya ingin ia katakan.

“Kenapa?” tanya saya menyelidik.

“Gak pa pa.” jawabnya singkat, sembari menikmati cokelat yang kini sudah menempel di bibirnya.

Kini Faiz duduk di sebelah saya, diam tak berbicara, meski dengan gerak tubuh yang masih terlihat mencurigakan. Saya mengenalnya sebelum ia bisa berjalan, dan kini ia sudah berusia hampir tujuh tahun, maka saya hapal bagaimana gestur tubuhnya menunjukkan perasaannya. Tetapi saya diamkan saja sampai ia nanti berbicara lagi.

Benar saja, tak lama kemudian ia bertanya lagi :

“Ada gambarnya gak Om?”

“Apanya?” saya bingung.

“Itu, di dalam kardus choki-choki.” jawabnya, sekaligus menjawab pertanyaan saya sendiri perihal apa yang digelisahkan anak itu.

“Ada.” saya menjawab singkat.

Faiz segera berlari masuk kembali ke dalam rumah, menuju dapur, dan mengambil kardus kemasan. Mengeluarkan isinya, dan wajahnya terlihat kecewa.

“Gak ada.” teriaknya.

“Wooo, kemarin ada. Mungkin disimpan sama tante.” jawab saya dari luar.

Saya datangi ia ke dapur, sembari menyalakan laptop. Saya biasa menulis di dapur, termasuk ketika menulis tulisan ini. Faiz masih memegang kardus kemasan, dan baru meletakkannya kembali ketika tahu saya menyalakan laptop di dekatnya.

“Ini gambarnya Mobile Legends Om.” katanya, masih penasaran.

“Gak tahu, tetapi kemarin ada.” jawab saya sekenanya.

Saya mulai menulis, dan anak itu masih asyik dengan cokelatnya.

“Ini lho, di kardusnya ada gambar Mobile Legends. Berarti gambarnya juga Mobile Legends.” anak itu memberi tahu saya, tentang suatu kesimpulan yang ia dapat dari barang di depannya.

“Ooooo, ya kayaknya gitu dek.” saya menjawab lagi.

Anak itu kini duduk di belakang saya, melihat saya mengetik.

Saya terkadang salut dengan usaha para produsen makanan, untuk menark minat konsumen. Bonus-bonus selalu disematkan, guna menarik pembeli. Terkadang bonus yang disematkan, jauh lebih menarik daripada isi atau konten makanan yang mereka jual. Tentu anda belum lupa dengan betapa hebohnya masyarakat terhadap produk makanan anak-anak bernama Kinderjoy?
Makanan yang harganya sama dengan satu kemasan besar roti tawar. Makanan anak-anak yang volume isi makanannya tak lebih banyak dari dua butir kacang tanah, tetapi harganya sungguh membuat orang tua memelototkan mata.

Choki-choki masih lebih mendingan daripada Kinderjoy, menurut saya. Jualan utama mereka tetaplah cokelat murah setengah cair yang legendaris itu. Hanya kini dalam setiap satu pack kardus, disematkan bonus berupa kartu warna-warni berisi gambar tokoh kartun atau figur dalam game populer.

Dulu pernah ada karakter Frozen yang menjadi bonusnya, dan kini karakter dalam Mobile Legends. Tentu saja anak-anak tertarik, dan bahkan terkadang meminta dibelikan itu hanya karena bonusnya, bukan karena makanannya.

Dengan strategi penjualan semacam itu, saya takkan menampik bahwa akan banyak anak-anak yang tertarik. Siapa yang tidak tertarik dengan bonus-bonus? Bahkan orang tua atau dewasa pun banyak yang tertarik dengan metoda bonus untuk pembelian suatu barang semacam itu.

Jangankan bonus, diskon abal-abal pun banyak orang dewasa yang tertarik dan kemudian tertipu.
Diskon abal-abal itu maksud saya, penjualan barang yang menyematkan tanda informasi bahwa barang tersebut diberikan diskon sekian persen. Padahal, harganya ya sama saja dengan sebelum disematkan tanda diskon. Harganya dinaikkan terlebih dahulu, baru diberi label diskon.
Begitu saja banyak orang yang mendaku dirinya sudah dewasa, tertipu.

Dalam konteks lain, bonus-bonus semacam itu nyatanya menarik minat banyak orang. Dalam beribadah misalnya.

Apakah anda ingin menyangkalnya?

Apakah anda beribadah murni dan benar-benar hanya karena sayang terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa?
Karena sayang lantas anda menjalankan perintah-perintahnya.
Yakin?

Bukankah anda beribadah karena menginginkan iming-iming hadia berupa bonus pahala, dosa, dan terhindar dari azab neraka?
Tidak?
Anda beribadah bukan karena iming-iming hadiah bonus? Tetapi karena benar-benar hanya sayang semata terhadap Tuhan?

Syukurlah….

Andai memang demikian, setidaknya hidup kita di dunia akan damai selamanya tanpa konflik berbalut agama.

Bukankah selama ini konflik berbalut agama adalah karena berebut ingin mendapatkan bonus-bonus termasuk surga itu?

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

15 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.