Cilacap Dua

Pagi ini, Rabu 5 Februari 2020, Cilacap mendung. Cilacap pada bagian sejauh mata saya mampu memandang, dari kamar hotel tempat saya menginap. Dua hari sebelumnya, pagi hari selalu berhias sinar mentari. Tetapi pagi ini, mendung menggantung dengan cukup indah. Menghias baris perbukitan di sisi barat laut, dan menghias sisi tenggara tempat laut berada. Berbeda dengan beberapa hari lalu, ketika saya berjalan melewati pemukiman nelayan.

Kali ini pula, saya bangun cukup pagi, ketika angka pada jam hape menunjuk 05:45. Bwahahaha…
Itu sudah cukup pagi bagi saya pribadi.

Malam tadi saya tidur dengan cukup nyenyak, karena sore harinya badan tua saya kemaki, mengajak untuk berenang. Dengan memanfaatkan Aji Mumpung, ajian sakti yang berguna untuk memanfaatkan berbagai kesempatan dan peluang, maka saya kemudian berenang. Mumpung ada kolam renang di hotel tempat saya menginap, hotel gratisan, yang tentu saja fasilitasnya juga gratisan. Sebenarnya tidak gratisan, kantor saya yang membayar. Haaa…

Berenang yang tak lebih dari bergerak aktif selama lima belas menit itu, membuat semua badan saya pegal-pegal, makanya pada malam hari saya bisa tidur dengan lebih pulas. Sudah lama saya tak berolahraga, apalagi seminggu sebelum ini saya terserang radang, otomatis badan saya sama sekali tak bergerak. Dan kemudian berenang yang sangat singkat itu, sukses membuat saya pegal-pegal. Badan tua yang manja….

Ternyata berolahraga membuat tidur bisa lebih pulas. Jika anda ingin banyak tidur, saya sarankan untuk banyak berolahraga…

Saat ini saya sedang menekuni olahraga yang masih baru. Masih baru bagi diri saya sendiri. Bersepeda.
Saya pernah bersepeda beberapa tahun lalu, tetapi bukan untuk olahraga. Hanya sekadar bersepeda santai di sore hari, atau pagi hari.

Kini, saya menekuni sepeda sebagai suatu olahraga. Sejenak saya tinggalkan fitness yang selama beberapa waktu terakhir menjadi kawan setia saya. Saya akan intim sejenak dengan sepeda. Menekuni berbagai tantangan, dan berbagai kesulitan di dalamnya.

Semua inspirasi mengenai bersepeda itu saya dapatkan sebelum berangkat ke Cilacap, dan semakin kuat ketika berada di Cilacap.

Sampai saat ini saya sudah bersepeda ke banyak tempat, dalam ribuan kilometer, yang kesemuanya dalam dan berupa hasil bacaan. Jyahahahaha….

Saya mulai bersepeda, dari layar hape. Melihat-lihat referensi mengenai olahraga sepeda, peralatannya, dari sumber-sumber di internet. Jangan percaya kalau saya sudah mulai bersepeda. Saya baru sebatas tertarik, itu saja. Dan saya baru sebatas membaca, belum mengayuh sepeda…jyahahaha

Begini, saya sedang menjalani suatu pertaruhan mengenai olahraga bersepeda itu, terutama dalam hal sepedanya, alat utamanya. Saya sedang menginginkan sepeda dengan merk tertentu, dan harga yang berada diluar kewarasan saya sebagai manusia. Maka saya sedang bertaruh, dengan istri saya, bahwa saya suatu saat akan bisa membeli sepeda tersebut. Tetapi pertaruhannya sungguh berat, saya boleh meminang sepeda yang saya inginkan tersebut, asalkan sementara waktu berhenti merokok. Nah, uang yang seharusnya untuk membeli rokok tersebut, dialihkan untuk membeli sepeda…Allahu…

Sungguh berat, bukan?

Tetapi ada yang lebih berat lagi sebenarnya, dari apa yang saya lakukan dengan hanya sekadar tidak merokok itu. Toh itu untuk kepentingan, keperluan, dan keinginan saya pribadi.

Ada yang lebih berat lagi. Berkorban bukan demi kepentingan pribadi. Berkorban untuk pihak lain, dengan mengorbankan hak serta kepentingan pribadi.

Itu adalah apa yang dilakukan oleh Pak Wahyudin, kepala MTsN 4 Cilacap. Dalam percakapan yang sempat kami lakukan pada hari Selasa 4Februari 2020, dia menyatakan kalau sertifikat tanahnya digadaikan sebagai jaminan untuk pembangunan gedung olahraga madrasah. Pernyataannya keluar karena saya bertanya perihal gedung olahraga yang berada di pojok lokasi madrasah dengan luas delapan ribuan meter persegi.

Madrasah itu yang digunakan sebagai lokasi diklat di wilayah kerja pada Kabupaten Cilacap. Madrasah dan kepala madrasah itu pula yang seketika mengingatkan saya pada Bu Sakinah. Kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri tempat dulu saya pernah bekerja disana. Bos saya yang sangat perhatian dan penuh dedikasi. Seperti Pak Wahyudin, Bu Sakinah juga menggadaikan sertifikat tanahnya sebagai jaminan untuk meminjam uang di bank. Uang itu digunakan untuk membangun gedung madrasah. Gedung madrasah harus dibangun karena kebutuhan, karena bertambahnya jumlah murid disana. Sedangkan berutang di bank harus dilakukan karena dana dari pemerintah pusat tak kunjung datang, meski pengajuan kebutuhan pembangunan gedung baru dengan disertai berbagai bukti pendukung sudah dilakukan.

Maka jadilah utang dengan jaminan pribadi, digunakan untuk kepentingan umum.

Salut? Tentu saja. Mengingat Pak Wahyudin maupun Bu Sakinah, seketika membuat segala omong kosong ambisi pribadi saya, seperti hanya semacam kerupuk melempem. Hanya seketika membuat saya terlihat bodoh dan dungu, serta kerdil.

Saya tak menyangka bahwa di Cilacap akan menemui hal yang mirip dan hampir sama dengan apa yang pernah saya saksikan sendiri di Sleman. Perihal menggadaikan sertifikat itu. Perihal bekerja yang hampir tanpa batas. Perihal mengabdi dengan penuh dedikasi. Perihal mengesampingkan ego dan kepentingan diri sendiri.

Dan sekali lagi, Cilacap memberikan sinyal kewarasan terhadap saya. Bahkan seperti apa yang saya harapkan kemarin, Cilacap memberikan lebih daripada sinyal. Ia memberikan semacam terapi. Terapi agar saya tetap waras, agar saya tetap mampu berpikir, menyelipkan suatu metoda penyembuhan terhadap diri sendiri. Self healing.

Apakah saya sakit?
Tergantung.

Tergantung dari apa dan bagaimana parameter penilaian rasa sakit itu.
Perihal gejala, dan juga metoda penyembuhannya.

Ah ah ah….

Yang jelas bahwa saya memang menemukan semacam terapi. Perihal kewarasan itu.

Harga sepeda yang tak waras, pertaruhan yang tak masuk akal, serta sengatan tajam perihal mengesampingkan ego serta ambisi pribadi.

Masih beberapa hari, dan mungkin masih akan ada cerita yang lain lagi. Terlebih, semoga ada kewarasan dari setiap cerita yang akan tertuliskan.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *