Cilacap Satu

Jika membicarakan Cilacap, maka bayangan pertama yang berkelebat di dalam kepala saya adalah Pantai Ayah. Saya tahunya Pantai Ayah ada di Cilacap. Itu karena saya baru sekali melawat ke Cilacap. Itu pun sudah beberapa puluh tahun yang lalu, ketika masih duduk di bangku SD. Satu yang terus saya ingat, lawatan itu adalah acara yang dihelat oleh PKK padukuhan Banteran.

Jadi, saya ke Cilacap bersama ibu-ibu dan simbah-simbah PKK. Keren?
Sangat keren. Pergi bersama ibu-ibu PKK menjamin perut akan aman dari serangan cacing yang kelaparan, banyak makanan selama perjalanan.

Setelah yang pertama itu, dua puluh tiga tahun kemudian, saya baru kembali ke Cilacap. Ya, selama itu. Dua puluh tiga tahun. Karena seingat saya, waktu itu saya masih duduk di kelas lima SD, dan Lilik adik saya masih ada di bangku TK.

Saya bukan orang yang banyak uang, dan mempunyai sumber daya melimpah untuk melakukan perjalanan-perjalanan. Meski pada kenyataannya saya menyukai travelling, jalan-jalan, tetapi sumber daya yang saya miliki sangat terbatas. Maka meski hati dan pikiran berkeinginan untuk pergi kemana saja, tetapi syahwat menahannya dikarenakan keterbatasan sumber daya.

Bahkan saya mempunyai prinsip, jika ada sedikit sumber daya keuangan yang saya miliki, maka saya akan menggunakannya untuk pergi ke tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi. Alih-alih untuk berinvestasi berupa barang atau modal tertentu yang menghasilkan keuntungan finansial di masa depan, saya akan menggunakannya untuk jalan-jalan.

Aneh, bukan?

Di saat banyak orang menggunakan sumber daya yang mereka miliki untuk berinvestasi, saya memilih membakarnya di jalanan, pada ruas-ruas ingatan dan kenangan terhadap berbagai tempat.
Bagi saya, mengunjungi banyak tempat di dunia ini juga adalah investasi. Paling tidak investasi untuk pembelajaran pada generasi mendatang. Bahwa dunia ini tak hanya seluas layar hape.

Cilacap, begitu saya turun dari bis persis di depan terminal, langsung tercium aroma laut yang menguar. Terhadap suasana semacam itu, saya mendadak teringat Cilegon dan Bontang. Dua kota yang memiliki letak geografis ‘hampir sama’ dengan Cilacap. Berada persis di tepi laut. Dan kebetulan pula saya pernah ke dua tempat tersebut secara tidak sengaja.

Pagi hari pada Senin 3 Februari 2020, ingatan saya terhadap Cilegon dan Bontang semakin menguat. Gegara mendapati beberapa orang memakai pakaian teknis lapangan. Pakaian teknis lapangan yang menandakan bahwa mereka adalah pekerja dari perusahaan besar. Bisa perusahaan kimia, kilang minyak, atau juga gas. Di Cilegon saya banyak menemui pekerja dengan pakaian seperti itu, pada jalan-jalan utama di kota. Pun di Bontang, pada pagi atau siang dan sore hari, banyak orang berpakaian seperti itu.

Hampir pada setiap perusahaan, saya akan menyebutnya ‘besar’. Berapapun jumlah modal dan skala operasinya. Saya akan menyebutnya perusahaan besar.

Dan Cilacap, kota kecil ini, ternyata juga adalah kota ‘besar’. Banyak hotel disini. Takkan mungkin kota kecil akan didirikan banyak hotel. Hanya kota-kota besar yang akan menarik investor untuk menanamkan modal pada bidang perhotelan.

Hotel yang saya tempati [secara gratis selama seminggu], adalah salah satu hotel ‘besar’. Setidaknya begitu menurut pengemudi ojek yang mengantar saya dari depan terminal bis Cilacap menuju hotel.

“Itu hotel besar Pak.” Katanya, “Cilacap ini kota kecil, tapi banyak hotel besar.” Lanjutnya.

“Iya to?” saya penasaran.

Besar atau kecil, atau apapun parameter yang digunakan untuk menyebut suatu hotel itu besar atau kecil, bagi saya tidak penting. Terpenting, saya menginap gratis. Itu saja.

Menurut informasi dari Google maupun dari petugas hotel maupun pengemudi ojek itu, hanya sepelemparan sandal dari hotel sudah sampai ke tepi laut. Yang paling bagus, Pantai Teluk Penyu. Semua sumber mengatakan bahwa dekat saja dari hotel menuju Pantai Teluk Penyu. Jika berjalan kaki, hanya membutuhkan waktu tak lebih dari lima belas menit dengan langkah konstan.

Maka saya pun mencoba berjalan kesana, melewati ‘jalan pintas’ yang ditunjukkan oleh Google Maps Yang Maha Benar. Benarlah, dan saya sampai ke gang buntu. GPS dari Google harus sementara bersedia saya gantikan dengan GPC [Global Positioning Cocot] khas manusia Indonesia.

Saya masuk ke gang-gang sempit yang berbau asin air laut. Kampung nelayan, dengan banyak orang sedang duduk di depan rumah yang sekaligus berbatasan dengan sempit jalanan. Duduk sembari bercengkerama dengan keluarga, saudara, atau juga tetangga. Saya tak tahu persis, lagipula saya tak bertanya ada hubungan apa mereka yang sedang duduk bercengkerama tersebut. Pertanyaan yang keluar dari mulut saya kepada sebagian dari mereka adalah.

“Kalau ke Teluk Penyu miyos pundi njih?” [Kalau mau ke Teluk Penyu saya harus lewat mana?]

Dengan ramah, semua yang saya berikan pertanyaan itu akan menjawab sembari menunjukkan arah persisnya. Tak hanya ramah, bahkan sangat ramah. Jika hanya melihat penampilan luar mereka untuk memberikan penilaian, saya yakin hampir sebagian besar orang akan member penilaian negatif. Mereka yang saya tanya itu berkulit hitam legam karena paparan sinar matahari, tubuh lengan dan tangan bertatto, serta rambut dan juga mata merah. Senyatanya, mereka sangat ramah.

Pada kasus-kasus ‘tersesat’ semacam ini, kadang GPC akan lebih efektif daripada GPS. Menggunakan ‘cocot’akan lebih bagus daripada menggunakan sinyal.

Lagipula, saya sebenarnya lebih senang berkomunikasi dengan manusia. Meski hanya sebatas komunikasi dalam bentuk senyum maupun anggukan kepala. Berkomunikasi secara langsung dengan manusia setidaknya akan memberikan semacam sinyal kepada diri saya sendiri, yaitu sinyal penanda kewarasan.
Jika saya masih nyaman berkomunikasi dengan manusia, berarti saya waras. Jika saya sedang merasa tak nyaman berkomunikasi denga manusia, berarti saya sedang tak waras. Sesederhana itu, karena sebenarnya manusia adalah makhluk sosial yang seharusnya berkomunikasi satu sama lain.

Akhirnya dengan GPC itu, sampai juga saya di Pantai Teluk Penyu. Pantai yang semakin mengingatkan saya pada Cilegon dan Bontang. Perihal kapal-kapal besar yang membuang sauh di kejauhan. Perihal menara-menara tinggi dari pembangkit listrik maupun kilang. Perihal debur ombak di tepi laut….

Cilacap sore kemarin [3/02/2020] memberikan sinyal kewarasan kepada saya. Saya masih waras. Setidaknya saya masih nyaman bertanya, masih nyaman mendengarkan manusia, dan yang terpenting masih percaya kepada manusia. Saya percaya pada petunjuk yang diberikan penduduk untuk sampai di Teluk Penyu. Beberapa waktu terakhir saya merasakan semacam goncangan batin perihal rasa percaya terhadap manusia. Beberapa waktu terakhir saya lebih percaya pada layar hape dan lembar-lembar kertas.

Dan Cilacap, secara kebetulan dan tak disengaja memberikan sinyal kewarasan kepada saya. Syukurlah.

Saya masih akan beberapa hari berada di Cilacap. Kali ini bukan untuk mengikuti ibu-ibu PKK. Menurut jadwal, masih sampai pada habisnya pekan.. Dengan catatan kalau Tuhan masih memutar kalender semesta sampai pada hari dan tanggal tersebut.

Semoga saja dalam beberapa hari ke depan Cilacap tak hanya memberikan sinyal perihal kewarasan, tetapi memberikan semacam terapi. Terapi untuk menyusun kembali kepingan-kepingan yang berserak sepanjang jalan. Kepingan-kepingan tajam bernama kepercayaan.

Eh tapi, pada dasarnya manusia memang tak bisa dipercaya. Termasuk saya. Maka anda jangan percaya begitu saja dengan apa yang saya tuliskan ini, kecuali pada poin ramahnya penduduk kampung nelayan di dekat Teluk Penyu Cilacap.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)