Cilacap Tiga

Apa kabar Sleman?

Apa kabar Bantul?

Apa kabar Semarang?

Hidup adalah selimut misteri, dari waktu ke waktu, hari ke hari, detik demi detik. Selimut tebal yang membatasi jarak pandang. Menegaskan bahwa manusia boleh berpikiran visioner, tetapi pun hanya satu detik yang ada di depan, manusia takkan mampu memperkirakan.
Menegaskan bahwa manusia hanya sebatas perencana, dan bukan penentu hasil.

Manusia boleh membuat rencana-rencana tentang masa depan, tentang waktu-waktu yang diperkirakan akan datang menjelang, tetapi pada akhirnya manusia harus mau menerima segala keterbatasannya. Menerima kenyataan bahwa ia hidup pada saat ini, bukan pada saat yang lalu atau juga saat yang akan datang. Menerima segala kenyataan bahwa apa yang ia rencanakan tak mesti sesuai dengan harapan.

Saat-saat yang telah lalu adalah media luas pembelajaran, sumber literatur untuk menjalani saat ini, dan mempersiapkan yang akan datang. Jelas, bahwa manusia tak hidup dalam rentang dimensi waktu apapun, selain saat ini.

Sampai satu tahun yang lalu, takkan pernah saya sangka kalau saat ini akan hidup dengan pola dan suasana yang baru. Benar-benar baru dan takkan pernah saya mampu membayangkannya dalam waktu-waktu yang lalu.

Benarlah kalau katanya “setiap kesulitan selalu datang bersamaan dengan kemudahan”.

Bukan setelah kesulitan datang kemudahan. Tetapi kemudahan datang bersamaan dengan kesulitan. Satu paket tak terpisahkan. Seperti dua sisi koin, sepasang bersamaan.

Dulu…duluuuuu….sekira tahun 2011, bahkan saya menangis ketika ‘hanya’ meninggalkan Sleman untuk kemudian tinggal di Bantul. Padahal Sleman dan Bantul hanya sepelemparan sandal. Jarak dari rumah orang tua saya ke rumah kreditan di Bantul itu, hanya berjarak lebih kurang tiga puluh menit perjalanan menggunakan sepeda motor. Tetap saja saya menangis. Seolah ada keping yang hilang, jatuh berceceran sepanjang jalan.

Baru saja, pada 2019, sekaligus saya meninggalkan Sleman dan Bantul, menuju Semarang.

Cukup gila, menurut saya. Dan benar-benar gila, kalau saya rasa. Tak ada modal persiapan apapun untuk pergi sejauh itu menuju kota tepi laut di pantai utara. Tak ada bekal yang cukup sebenarnya, baik material maupun immaterial. Semuanya berlalu dan berlangsung secara tiba-tiba, tanpa pernah bisa disangka dan direncana.

Eh eh eh….

Ini bukan waktu untuk melankolia. Ini adalah waktu untuk menikmati saat ini. Saat-saat yang hanya akan terjadi dalam sekali umur hidup manusia. Manusia boleh saja mengulang hari, mengulang bulan, mengulang tahun. Tetapi yang terulang dan diulang hanyalah pola saja, bukan perihal kejadian dan suasana. Manusia hanya mengenal de javu. Hanya mengenal seolah pernah mengalami. Karena pada kenyataannya, manusia takkan pernah bisa mengulang menjalani satu penggal waktu yang sama dalam hidupnya.

Anda boleh saja mengalami suasana Minggu pagi selama empat kali dalam sebulan terakhir Tetapi dalam empat kali itu, takkan pernah ada yang sama koordinat serta frekuensi jiwa anda dalam mengalaminya. Anda boleh memakai pakaian yang sama, tetapi nilai yang terkandung ketika memakainya, dalam suatu waktu akan berbeda dengan waktu lainnya.

Apa kabar Sleman?

Apa kabar Bantul?

Saya pernah mengatakan bahwa akan mencintai Sleman dari jarak kerinduan. Begitu juga yang sekarang akhirnya menjadi kenyataan. Waktu saya paling hanya berkisar satu atau dua hari dalam satu minggu untuk bisa menginjak tanah Sleman —juga Bantul—, menghirup udaranya, serta menatap setiap jengkal ruang-ruang serta dimensi fisiknya. Tetapi saya merasakan sesuatu yang sangat berbeda dengan ketika waktu-waktu yang lalu tak pernah lepas darinya. Saya merasakan lebih intim dengan Sleman —juga Bantul—, justru ketika saya pergi meninggalkannya.

Ada gelegak hangat kerinduan setiap kali datang waktu menjelang untuk pulang. Selalu ada ruas-ruas jalan kosong di dalam hati dan perasaan, untuk diisi dengan perjalanan menuju Bantul —juga Sleman—.

Menyenangkan? Tergantung pada koordinat mana kita menempatkan rasa susah dan senang dalam hidup kita. Satu yang lebih mengemuka, bahagia.

Kesenangan dan kesusahan itu bersifat sangat sementara.

Kadang kita merasa senang, kadang kita merasa susah. Manusiawi.

Tetapi manusia mempunyai pilhan, untuk merasa bahagia. Bahagia bersifat lebih abadi dari sekadar rasa senang. Bahagia meliputi rasa senang, atau rasa susah. Meliputi rasa suka ataupun kecewa. Dalam bahagia, termuat kesemuanya.

Beberapa hari terakhir, Cilacap memberikan kepada saya semacam teropong panjang. Teropong kelas bintang untuk mampu melihat Sleman, Bantul, Semarang dengan sudut pandang lain dari kejauhan. Memberikan perspektif baru mengenai hidup dan kehidupan manusia. Memberikan semacam penegasan lain ; “bahwa manusia hanya hidup di dunia untuk sementara”.

Dalam kesementaraan itu memuat pembelajaran, bahwa tanah air manusia adalah pada seluruh muka bumi. Seperti firman Tuhan, bahwa manusia adalah ‘khalifatul fil ardh’.

Bahwa tanah kelahiran adalah poros, pengingat, agar manusia tak lupa pada asal muasal. Tetapi tentang waktu-waktu dari rentang kelahiran sampai nanti kematian, seluruh muka bumi adalah kampung halaman manusia.

Pilihan untuk merasa bahagia itu bersifat universal. Berlaku untuk semua orang, darimanapun asal muasalnya. Dari mana saja asal tempat kelahirannya. Jauh dari tempat asal, dari tempat kelahiran, bukan sesuatu yang lantas harus disesalkan. Masing-masing manusia membawa buku takdir dan nasibnya sendiri-sendiri. Ada yang dari lahir sampai mati tak pernah pergi, namun ada pula yang dari lahir sampai mati selalu pergi. Tak ada yang patut disesalkan, asalkan bagaimanapun menjalaninya manusia tetap memegang teguh kebaikan universal. Memegang teguh nilai-nilai kebaikan universal berarti memegang kunci kebahagiaan.

Percaya saja, manusia takkan pernah merasa bahagia, jika ada sedikit saja dalam sikap dan tindakannya yang melenceng dari nilai kebaikan universal.

Apakah saya sedang menenangkan diri sendiri?
Tentu saja tidak.

Saya sedang menenangkan anda.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

22 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *