Coming Home

Saya hampir menangis ketika beberapa hari yang lalu membaca berita bahwa Cristiano Ronaldo akan berlabuh ke Manchester City dalam karir profesional sepakbolanya. Dari Juventus, Ronaldo hampir berlabuh ke tim kecil berwarna biru di kota Manchester. Saya hampir menangis. Hampir menangis itu didasari oleh suatu pertanyaan :

Kenapa tidak pulang?

Harusnya Ronaldo pulang ke Manchester United, ke Manchester Merah, pulang ke rumah.

Namun pertanyaan saya itu perlahan juga tereduksi oleh kenyataan bahwa Ronaldo adalah pemain yang sangat profesional. Dalam jagad sepakbola modern, profesionalisme adalah keniscayaan yang harus terus dipegang dan dijalani oleh pemain sepakbola jika ingin bertahan dan berkembang. Dan selama hampir dua puluh tahun terakhir, Ronaldo mampu bertahan, bermain, terus berkembang di level tertinggi, karena profesionalitasnya.

Dan dalam beberapa hari terakhir, Manchester City datang kepada Ronaldo dengan penuh harapan, cinta, ketika Ronaldo tak lagi merasakan kenyamanan dalam karirnya di Juventus. Pemain seperti Ronaldo membutuhkan tantangan demi tantangan untuk terus berkembang. Ronaldo menyambut tawaran City dengan profesionalisme penuh. Sebagai seorang profesional, Ronaldo mengabaikan romantika pribadinya dengan Manchester United.

Andai menerima tawaran City, Ronaldo jelas tahu bahwa ia akan banyak dikecam oleh pendukung Manchester United. Namun Ronaldo adalah seorang profesional. Ia tidak lagi melangkah di jagad sepakbola sebagai seorang bocah kurus penuh jerawat dari Madeira Portugal. Ronaldo kini adalah salah satu dewa yang dipuja.

Namun Ronaldo, dan begitu juga Manchester City, tak mampu untuk melawan ketentuan semesta mengenai arti rumah bagi manusia. Tak terkecuali bagi Ronaldo yang meski sudah menjelma sebagai dewa dalam jagad sepakbola, namun langkah-langkah kaki dan kehidupannya tetaplah langkah kaki manusia. Ia tak mampu menolak tawaran dari Manchester United, dengan begitu Manchester City juga tak lagi mampu memberikan penawaran yang akan bisa diterima oleh Ronaldo.

Begitu Manchester United memberikan tawaran untuk pulang kerumah, Ronaldo takkan bisa menolaknya. Dan meski Manchester City sekarang ini serupa hotel mewah, ia tetaplah tak senyaman rumah.

Pada akhirnya Ronaldo pulang kembali kerumah setelah lebih dari sepuluh tahun pergi mencari pengalaman dan jatidiri. Manchester United bahkan adalah rumah yang lebih nyaman baginya daripada Madeira tempat asalnya. Ronaldo membangun dan menancapkan segala kepercayaan dirinya di Manchester United. Dan Manchester United selalu mendukungnya.

Sir Alex Ferguson ketika masih menjadi manajer dan pelatih Manchester United dulu membawa Ronaldo dari Madeira. Mengasuh, membimbing dan memberikan banyak hal sebagai bekal untuk Ronaldo kemudian bisa menjelma menjadi pemain terbaik di dunia. Memenangi banyak gelar dan mengukir prestasi serta sejarah.

Kini meski tak lagi menjadi manajer dan pelatih Manchester United, senyatanya Sir Alex lah yang membawa pulang si anak kebanggaan dari perantauan. Diajaknya anak kesayangan dan anak terbaiknya untuk kembali pulang. Dan —sekali lagi— Ronaldo tak bisa menolak tawaran untuk pulang.

Sejatinya, Manchester United tidak lagi membutuhkan pemain di lini depan. Sudah ada pemain senior seperti Edinson Cavani. Sudah ada penerus gaya bermain Ronaldo yaitu Marcus Rashford. Sudah ada anak emas masa depan Mason Greenwood. Sudah ada Anthony Martial juga Daniel James.

Tetapi…begitulah rumah dan juga keluarga.

Keluarga akan selalu menerima apa adanya. Akan selalu ada tempat bagi anggota keluarga untuk pulang, meski kini rumah sudah penuh sesak oleh anggota keluarga baru.

Ronaldo selalu menjadi bagian dari keluarga Manchester United, dan ketika ia akhirnya memutuskan untuk pulang, maka seluruh anggota keluarga yang bahkan dulu belum ada ketika ia pergi, akan menyambutnya hangat. Manchester United memeluk hangat semua anggota keluarganya, dan dengan begitu Ronaldo pulang dengan suka cita.

Ronaldo membalas uluran tangan pulang dari Manchester United dengan pelukan yang jauh lebih hangat, dengan perasaan yang melebihi awal kedatangannya dulu pada tahun 2003. Dulu ia datang dengan malu-malu dan mungkin takut menatap wajah sangar Roy Keane. Tetapi kini ia datang sebagai anggota keluarga terbaik yang sudah mengharumkan nama keluarganya dimanapun berada.

Sir Alex takkan pernah tega membiarkan Ronaldo bermain bagi Manchester City di penghujung karirnya. Ia adalah ayah kedua bagi Ronaldo setelah ayah kandungnya meninggal dunia. Sir Alex tahu persis bahwa sebagai profesional Ronaldo memang tidak boleh menolak tawaran Manchester City. Maka Sir Alex datang sebagai keluarga, menawarkan jalan pulang yang nyaman bagi Ronaldo. Menyediakan kamar baginya, menyediakan makan malam yang sama dengan anggota keluarga lain. Duduk melingkar mengitari meja, bercanda, menyantap makan malam bersama dengan penuh kehangatan.

Berita terakhir sudah valid menyatakan bahwa Ronaldo memang pulang kerumahnya, ke Manchester United, pada tempat masa remajanya mengawali karir gemilang di dunia sepakbola. Ia akan selamanya berdarah Manchester Merah. Ronaldo adalah anak yang akan selalu mendapatkan tempat di dalam keluarganya. Dan keluarga yang baik tidak akan pernah membiarkan anggota keluarganya kesepian juga kebingungan, talkan membiarkan anggota keluarganya berjalan sendirian. Keluarga yang baik akan selalu mendukung, akan selalu saling ada, akan selalu saling menjaga.

Akhirnya, welcome home Cristiano Ronaldo, coming home is the best choice.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *