Contoh Penolong

ilustrasi berdoa

Sebagai manusia biasa yang lemah bagaikan rempeyek diluar toples, saya harus bersyukur bahwa saya mempunyai banyak penolong di dalam hidup saya.

Selain penolong dari dalam lingkungan keluarga, saudara, kerabat, teman, sahabat (saya bersyukur mempunyai mereka yang kebanyakan adalah penolong saya), saya juga mempunyai penolong lain. Penolong yang secara fisik sebenarnya tidak pernah menolong saya, tetapi pertolongan mereka terasa begitu melekat dalam hidup saya.

Pertama tentu saja Muhammad rasulullah. Beliau adalah orang yang banyak menolong saya. Misalnya saja ketika saya merasa terhina oleh perlakuan orang lain, Muhammad seolah mendatangi saya sembari berkata : “Baru begitu, kok sudah sakit hati?”

Ya karena saya merasa bahwa memang beliau Muhammad bekata demikian kepada saya, maka kemudian saya bisa sedikit mengabaikan penghinaan-penghinaan dari orang-orang kepada saya. Atau, sebenarnya itu bukan dimaksudkan sebagai penghinaan, tetapi karena saya terlampau sensitif untuk beberapa hal didalam hidup maka saya merasa terhina. Dan Muhammad, membisikkan sesuatu kepada saya beberapa kata : “Dalam hidup ini, lapangkanlah dadamu untuk menerima semua. Semua yang kamu anggap baik ataupun buruk. Terimalah semua, dan kamu akan menemukan kedamaian. Karena semua hal tidak lain hanya berasal dari Tuhan mu, tak ada yang berasal dari sumber lain.”

Ajaib bukan? Bahkan saya tidak pernah bertemu secara fisik dengan Muhammad. Tetapi begitu terasa bahwa beliau adalah penolong bagi hidup saya yang angin-anginan.

Berangkat dari nasihat Muhammad, maka kemudian saya juga menemukan banyak contoh penolong lain dalam hidup saya. Penolong yang secara kontekstual budaya lebih ‘dekat’ dengan saya daripada dengan budaya Arab tempat asal Muhammad.

Saya menemui Sutan Ibrahim atau Datuk Sutan Malaka. Asing di mata baca anda? Mungkin anda lebih mengenalnya sebagai Tan Malaka.

Ya, Tan Malaka adalah contoh penolong lain dalam hidup saya. Tentu saja saya juga tidak pernah bersua muka secara fisik dengannya. Saya hanya bertemu dengannya melalui buku-buku dan tulisan yang memuat pengalaman hidup sekaligus pemikirannya.

Apa yang membuat Tan Malaka juga termasuk penolong dalam hidup saya?

Sebenarnya, bukan karena pemikiran atau kapasitas intelektualnya yang membuatnya menjadi penolong saya. Tetapi lebih karena pengalaman hidupnya. Penerimaannya atas hidup dan kehidupan.

Saya membaca buku yang berisi tulisan-tulisannya, Dari Penjara Ke Penjara, dan saya tercenung lama.

Bagaimana bisa seseorang dari garis keturunan bangsawan sepertinya, dengan kapasitas intelektual yang lebih mumpuni daripada sebagian besar nama-nama kondang pada jamannya itu, bisa menerima hidup dan kehidupan yang menurut saya : menyakitkan.

Dan dari tulisan yang tertuang sebagai semacam buku harian itu, Tan Malaka menjalani semuanya dengan penuh kesungguhan. Kesungguhan dan keyakinan akan jalan hidup yang mengharuskannya menjalani hal semacam itu. Ia tidak menyesalinya, bahkan ketika ia melewatkan kesempatan untuk bisa menjadi : Presiden Republik Indonesia.

Pengalaman hidup Tan Malaka itulah yang membuat saya merasa bahwa beliau adalah penolong saya. Penolong saya untuk terus menjalani hidup dengan penuh kesungguhan dan keyakinan, meski terkadang hidup menyajikan sakit serta kesulitan.

Contoh penolong lain adalah : Njoto.

Anda tidak mengenalnya? Bagus lah, akan lebih baik kalau anda tidak mengenalnya.

Bagi saya Njoto menjadi salah satu contoh penolong adalah karena kejujurannya. Memang saya tidak mengetahui secara langsung apakah ia benar-benar jujur. Tetapi setidaknya saya juga mengetahui hal itu bukan hanya dari pandangan atau informasi sepihak.

Kejujuran Njoto tertuang dalam berbagai sikap dan suaranya dalam mengemukakan suatu pandangan pemikiran. Dengan jujur ia akan mengakui bahwa pihak lain lebih benar dalam suatu hal, jika memang itu yang terjadi, sekaligus ia akan mati-matian mempertahankan pendapatnya ketika pihak lain melenceng dari garis koridor aturan dan peraturan.

Ya, Njoto adalah anggota konstituante. Semacam anggota DPR pada masa itu. Apakah anda tahu bahwa Njoto adalah satu dari sedikit orang yang menolak wacana penggantian Pancasila menjadi Trisila dan juga Ekasila oleh orang-orang dari partai sayap kanan waktu itu? Apakah anda tahu?

Njoto dengan tubuh kecil dan kacamata tebal diwajahnya, berteriak lantang dalam sidang-sidang konstituante dan tulisan pada media massa, untuk menentang penggantian Pancasila. Dengan keberanian meluap bahkan ia mengajak debat terbuka dengan siapapun yang menginginkan perubahan Pancasila. Dan anda tahu? Tidak satupun orang yang didalam sidang mencetuskan serta mengusulkan perubahan Pancasila, berani menerima tantangan debat terbuka Njoto didepan rakyat Indonesia.

Contoh penolong selanjutnya dalam hidup saya adalah : Emha Ainun Nadjib.

Mungkin anda lebih mengenalnya dengan nama Cak Nun.

Meski tinggal dalam satu kota yang sama, saya tidak pernah bertemu dengan beliau. Tidak pernah pula mencoba untuk mengikuti acara pengajian yang menghadirkan beliau. Jadi sama dengan tiga orang pertama diatas, saya juga secara fisik belum pernah bertemu dengan Emha. Saya hanya pernah bertemu (pertama kali) dengan buku-buku dan tulisannya, dan selanjutnya adalah dengan rekaman acara pengajian yang melibatkan beliau.

Bagaimana Cak Nun menjadi salah satu contoh penolong dalam hidup saya?
Salah satu yang paling menonjol ; bahwa beliau mengajarkan saya untuk enjoy dan rileks dalam menjalani hidup di dunia.

Enjoy dan rileks saja, jangan terbebani dengan berbagai macam hal yang tidak sejati. Apakah maksud berbagai macam hal yang tidak sejati itu? Yaitu segala hal yang hanya singgah sementara dalam kehidupan kita. Misalnya saja dalam contoh kontemporer masa ini ; uang.

Bagi sebagian besar orang, uang adalah hal yang menggusarkan sekaligus menggelisahkan. Akan dicari mati-matian, dengan kemudian menghalalkan segala cara.

Nah menurut Cak Nun, uang bukanlah hal yang sejati. Uang hanyalah efek samping dari kesungguhan kita dalam menjalani kehidupan. Barangsiapa menjalani hidup dengan penuh kesungguhan, maka ia akan mendapatkan semuanya tanpa terkecuali, termasuk uang. Jadi semestinya manusia tak perlu khawatir mengenai uang atau harta benda. Jalani saja kehidupan dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan, setelah itu tunggu saja bahwa akan ada keajaiban-keajaiban dalam kehidupan.

Apakah saya mengada-ada? Tentu saja tidak. Sedikit-sedikit dan perlahan saya mencoba menjalani hidup seperti itu, dan senyatanya bahwa benar apa yang disampaikan oleh Cak Nun, bahwa keajaiban itu memang ada.

Tidak banyak orang yang menjadi contoh penolong dalam hidup saya. Sebagai contoh sekaligus penolong. Jika harus saya tuliskan, memang hanya empat orang tersebut selain keluarga, kawan dan saudara saya tentunya.

Tetapi dari sekian itu, tidak ada lain yang meliputi semuanya untuk menjadi contoh sekaligus penolong bagi saya, yaitu : Muhammad Rasulullah.

Yaa Muhammad, Selamat Ulang Tahun, aku menyayangimu.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

21 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *