Corporate University

Hari Minggu, hari libur, harusnya yang muncul adalah tulisan-tulisan mengenai tempat liburan. Kalau tidak realisasi tentang rencana liburan. Kalau tidak lagi, paling tidak berisi rekomendasi tempat wisata atau rumah makan. Pokoknya…jalan-jalan….

Harusnya begitu…ini kan hari libur…

Tetapi otak dan pikiran saya sedang sedikit korsleting. Maka sering tidak sinkron antara waktu dan kegiatan.

Seperti hari ini, yang harusnya dan umumnya tulisan di hari libur adalah mengenai liburan, jalan-jalan, makan-makan, dan saya malah menulis mengenai perusahaan.

Kok perusahaan?

Lha itu corporate? Perusahaan universitas, atau universitas perusahaan?

Bukan itu Mas Anang yang baik tapi goblog. Corporate University adalah istilah, jangan diterjemahkan kemudian digunakan secara harfiah. Corporate university adalah istilah untuk menyebut suatu lembaga pelatihan atau pendidikan, atau kombinasi keduanya, milik internal suatu lembaga. Biasanya yang memiliki corporate university adalah perusahaan swasta.

Guna mendukung program dan tujuan perusahaan, dengan memberikan pendidikan dan atau pelatihan terhadap karyawan atau pegawainya. Pendidikan dan pelatihan yang sejalan dengan visi, misi, dan tujuan perusahaan. Dalam jangka waktu pendek, menengah, ataupun panjang. Itu adalah corporate university, mas.

Jadi itu bukan suatu perusahaan. Apalagi universitas yang memiliki perusahaan. Sama sekali bukan. Anda ini berani menulis di website tapi kok agak gimana gitu? Ga pernah baca ya Mas Anang?

Eeemmmmm, maksud saya tadi sih, begitu… Hehehehe….

Ah, ngeles aja, dasar klepretan bumbu lotek.

Gencar adanya corporate university dimulai pada era tahun 1980an. Perusahaan besar di dunia ramai-ramai mendirikan ‘universitasnya’ sendiri. Dengan kurikulum dan metode pendidikan yang disesuaikan dengan tujuan perusahaan. Spesifik dengan apa yang hanya ingin dicapai. Tahun 1990an, semakin ramai pendirian corporate university itu. Banyak perusahaan berlomba mendirikan lembaga pendidikan internal yang megah, baik secara fisik maupun kurikulum pembelajaran.

Tujuannya tak lain bahwa corporate university akan mendukung tujuan perusahaan, membuatnya semakin maju dan berkembang.

Misalnya saja perusahaan tambang minyak. Mereka mendirikan corporate university, dengan kurikulum dan materi yang semuanya hanya berkaitan dengan kegiatan eksplorasi minyak, bukan yang lainnya. Kalau fokus mereka adalah mengolah minyak mentah menjadi minyak konsumsi, maka kurikulum pendidikannya tidak akan memasukkan materi atau strategi pemasaran atau marketing.

Sebaliknya, jika yang mendirikan adalah perusahaan jasa keuangan, bank misalnya, maka mereka akan fokus pada studi yang berkaitan dengan itu. Ekonomi makro-mikro, akuntansi, manajemen, dan jelas tidak akan ada materi mengenai bahan kimia dan apalagi biologi.

Jelasnya lagi, corporate university haruslah memberikan nilai lebih kepada perusahaan. Nilai lebih itu bisa berupa penghematan, karena pendidikan berkelanjutan kepada para pegawainya diberikan oleh mereka sendiri. Bisa juga berupa efektivitas waktu, karena tujuan perusahaan bisa tercapai dengan cepat karena seluruh pegawai tersinkron dalam atmosfer yang sama melalui pendidikan pada corporate university.

Di Indonesia, yang memulainya adalah PT. Telkom pada sekira awal tahun 2000an. Tujuannya adalah untuk membawa Telkom menjadi perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia. Hasilnya?
Mereka benar-benar menjadi perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia. Terlepas bahwa mereka adalah perusahaan plaf merah atau BUMN. Namun lahirnya anak perusahaan mereka yang bernama Telkomsel, yang awalnya fokus pada jasa pelayanan komunikasi seluler non kabel, adalah langkah nyata. Langkah nyata keberhasilan dari adanya corporate university pada PT. Telkom sebagai perusahaan induk.

Namun jauh sebelum gencarnya penggunaan istilah itu, praktek corporate university sudah dilakukan pada tahun 1914. General Motor yang melakukannya. Perusahaan otomotif terbesar dari Amerika Serikat itu sudah melakukannya. Tentu saja kurikulum pendidikannya tak jauh dari permesinan. Untuk membekali pegawai agar mempunyai kemampuan dalam membuat karya yang inovatif, dan juga futuristik. Hasilnya? Kita tahu kalau General Motor adalah salah satu yang terbesar di dunia saat ini [selain Toyota] tentu saja.

Lantas, apakah hanya perusahaan swasta komersial yang harusnya memiliki corporate university?

Tidak juga!

Lembaga pemerintah non komersial pun bisa dan boleh memilikinya. Dengan catatan khusus…

Apa saja catatannya?

Bahwa kurikulum pendidikannya harus sesuai dan sejalan dengan tujuan lembaga atau kementerian. Tidak boleh tidak. Kalau belum sejalan dan sinkron, maka tidak boleh menyebut diri sebagai corporate university.

Dan lagi, jangan sampai terjebak dengan penggunaan istilah tersebut. Dalam artian, corporate university bukan hanya sekadar bahwa lembaga itu mampu menyelenggarakan pendidikan bagi lembaga di luar institusinya. Begitu.

Karena memang tak mesti suatu lembaga atau perusahaan mempunyai corporate university nya masing-masing. Mereka bisa bekerjasama dengan lembaga lain, perguruan tinggi misalnya. Mereka bisa meminta bantuan dari perguruan tinggi, sebagai lembaga yang menyelenggarakan pendidikan terhadap pegawainya. Tetapi, kurikulum dan materinya harus berasal dari lembaga atau perusahaan mereka sendiri. Perguruan tinggi hanya sebagai pelaksana.

Maka lembaga pendidikan dan atau pelatihan internal dari suatu kementerian atau lembaga pemerintah yang akan menuju suatu corporate university harus melepaskan diri dari jebakan penggunaan istilah itu.

Bahwa corporate university bukan hanya sekadar hak atau kemampuan memberikan pendidikan dan pelatihan terhadap pegawai dari luar institusinya. Lebih dari itu yang pertama dan utama, bahwa mereka harus menyelaraskan terlebih dahulu kurikulum pendidikan mereka, sejalan dengan visi misi lembaga atau kementerian induknya.

Lebih mudahnya, kurikulum di dalamnya harus mencakup renstra dari kementerian atau lembaga induk. Tak boleh lebih, apalagi kurang. Dan tak boleh ditawar, karena anggap saja corporate university adalah pasar swalayan modern, dengan harga yang sudah pas. Mau tidak mau harus demikian itu. Bukan seperti pasar malam yang memungkinkan adanya tawar menawar.

Lantas, seberapa jauh kesulitannya untuk diterapkan pada lembaga pemerintah?

Tidak sulit, karena biasanya lembaga pendidikan internal dari suatu kementerian atau lembaga pemerintah sudah menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan sesuai dengan tujuan dari kementerian atau lembaga induk.

Misalnya saja, suatu kementerian yang bertugas mengurus bidang pertahanan, maka mereka tidak boleh menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan di luar tugas dan fungsi mereka. Tak boleh mereka menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan dalam bidang keagamaan. Kecuali bahwa lembaga pendidikan dari internal kementerian yang mengurus pertahanan itu sudah mendapatkan lisensi corporate university, dan mereka dimintai bantuan oleh kementerian yang mengurusi bidang keagamaan untuk memberikan pendidikan dan pelatihan. Dengan catatan, semua kurikulum dan materi berasal dari pengguna jasa. Penyedia jasa hanya bertindak sebagai pelaksana.

Sebelum lembaga pendidikan dan pelatihan internal suatu kementerian melangkah lebih jauh untuk menyelenggarakan pendidikan bagi pegawai di luar institusi induk, idealnya mereka harus sudah menyelesaikan tugas dan tanggung jawab internalnya terhadap kementerian atau lembaga induk.

Mudahnya, mereka sudah harus memberikan pendidikan dan pelatihan terlebih dahulu, untuk SEMUA pegawai yang menjadi tanggung jawabnya. Tidak boleh tidak. Kalau semua pegawai didalam tanggungjawabnya sudah mendapatkan hak mengikuti pendidikan dan pelatihan, guna mendukung tujuan kementerian, barulah boleh corporate university menyelenggarakan pendidikan bagi pegawai lain di luar institusi induknya.

Idealnya seperti itu.

Karena bagaimanapun, tujuan dan asas nilai keberadaan suatu corporate university adalah memberikan ‘keuntungan’ bagi lembaga induk. Bisa berupa tercapainya tujuan dalam waktu yang lebih singkat, atau realisasi rencana-rencana program yang tepat sasaran.

Kiranya, begitu. Tapi kalau tak bisa ideal ya tak mengapa juga. Toh masih ada ruang-ruang perbaikan.

Saya sendiri masih belum terlampau mendalami istilah corporate university. Siapa tahu sudah ada perkembangan lain dari penggunaan istilah itu. Dalam hal ruang lingkup pembelajarannya, atau bahkan dari ruang lingkup daya cakup pelaksanaannya.

Yang jelas, saya lapar. Mari sarapan.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

16 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *