Dari Simpang Lima Sampai Lumpia

Rasa hati dan pendar bahagia begitu membuncah dalam diri saya, sekira satu tahun yang lalu, beberapa hari menjelang tanggal 1 Oktober 2019.

Hari-hari itu adalah akhiran sekaligus awalan dalam proses hidup saya. Akhiran bekerja di lingkungan Sleman, dan awalan untuk bekerja di Semarang. Waktu itu dengan begitu naif, saya sama sekali tidak membawa ‘bekal’ yang cukup untuk ke Semarang. Betapa naifnya mantan pemuda yang mulai beranjak tua seperti saya, yang begitu percaya Tuhan akan selalu ada untuk bersamanya. Apakah lantas memang Tuhan selalu ada? Nanti saya berikan jawabannya pada akhir tulisan.

Saya tak mempunyai bekal yang cukup untuk pindah ke Semarang. Baik bekal material maupun immaterial. Dari bekal material, mungkin perlu saya sampaikan : setelah beberapa hari hidup di Semarang, saldo rekening saya tinggal menyisakan Rp 35.000,-.

Tiga puluh lima ribu rupiah, dan saya tak mempunyai uang lagi selain itu.

Bekal immaterial saya jauh lebih parah. Saya tidak pergi ke Semarang dengan kesadaran penuh, dan atau keterpaksaaan penuh. Saya nanggung berada ditengahnya. Tidak penuh kesadaran, namun juga tidak ada keterpaksaan. Sehingga sampai beberapa hari menjelang tanggal 1 Oktober 2019, apa yang banyak saya lakukan adalah ; menatap kosong pada langit, dengan kebahagiaan.

Saya tidak mengenal Semarang pada bentuknya sebagai ‘rumah’ dan tempat tinggal. Saya hanya mengenalnya sebatas sebagai pelancong, singgah beberapa saat namun tak oernah bermukim lama. Pada tahun 2009 saya pernah tiga minggu hidup di Semarang, tetapi tidak hidup sepenuhnya karena saya menumpang pada sebuah hotel dikarenakan kegiatan pelatihan yang diselenggarakan oleh Departemen Keuangan. Jadi saya tidak merasakan pasang surut harga seporsi nasi rames di warteg.

Ketika beberapa kali saya melawat ke Semarang, sebatas yang saya tahu bahwa Semarang mempunyai Simpang Lima, persimpangan ruwet ramai yang akan membuat jidat siapapun mengkerut ketika pertama kali melintasinya.

Senyatanya, bekal pengetahuan mengenai simpang lima dan tiga minggu menumpang hidup di Semarang pada tahun 2009, tak serta merta menolong saya beradaptasi dengan halus dan mulus. Bahkan saya harus mengalami dan sekaligus mendapati isi dompet saya tak cukup sekadar untuk membeli sebungkus rokok. Kiranya kini anda paham mengapa saya lebih memilih warteg yang dihalamannya tidak berjaga tukang parkir. Seribu atau dua ribu rupiah itu begitu berharga, tuan dan puan. Seribu rupiah berarti sama dengan sepotong tempe goreng, dan dua ribu rupiah berarti sepotong tempe goreng ditambah perkedel.

Mungkin anda sering juga mengalami rasa lapar, karena berpuasa mungkin. Lapar yang disengaja. Lapar dengan masih mempunyai harapan bahwa nanti pada saatnya akan tiba waktu berbuka, dan ada sumber daya yang bisa digunakan untuk berbuka. Bahkan bagi beberapa anda, satu atau dua jenis menu makanan tak cukup untuk menemani berbuka puasa, dan dengan itu menggugurkan rasa lapar yang didera seharian.

Tetapi lapar yang disengaja sedemikian itu, tentu saja berbeda dengan rasa lapar yang disebabkan oleh karena keterpaksaan. Terpaksa lapar karena tidak adanya sumber daya yang bisa digunakan untuk membeli makanan, dan dengan itu menuntaskan rasa lapar yang mendera sedemikian menyakitkan.

Sampai disini saya kira, gelora semangat Semarang yang memicu demonstrasi buruh Djawatan Kereta Api tahun 1927 terhadap pemerintah kolonial Belanda, sama sekali tidak terdapat dalam diri saya. Semangat yang begitu membuncah dalam diri saya ketika meninggalkan Sleman, runtuh ketika mendapati harga sebiji lumpia adalah sebesar tujuh belas ribu rupiah.

Pada akhirnya keruwetan simpang lima menjalar juga pada diri saya, crowded oleh segala hal yang disebabkan tidak mencukupinya bekal. Sampai disini silahkan tertawa bahwa saya pernah makan datang ke warteg hanya untuk membeli sayur senilai dua ribu rupiah, dengan lauk kerupuk sisa makan siang.

Tetapi contoh terkahir dalam paragraf diatas, senyatanya membuat saya kemudian menjadi agak semarangan. Dengan raut wajah keras tanda tak mudah menyerah, dan terlebih lambung keras yang bisa menerima makanan apapun asal bisa dipakai untuk mengganjal.

Lantas, dimana keberadaan Tuhan?

Ah ya, apakah ini sudah akhir paragraf? Padahal sedang seru-serunya.

Selama masa awal itu, Tuhan saya letakkan di saku. Beliau saya mintai tolong untuk menjaga agar tangan saya tak banyak memasuki saku, dan dengan begitu saya tak perlu tahu berapa banyak sisa uang yang ada dikantong untuk menopang saya hidup. Dan Tuhan benar-benar menjaga tangan saya untuk tak banyak merogoh saku celana. Dengan begitu, saya tetap yakin bahwa akan bertahan hidup meski tak ada lagi uang tersisa di kantong celana.

Ah sudah dulu, tulisannya saya sambung besok menjelang tanggal 1 Oktober, biar numpang keren sama Pancasila.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)