Death Note

Terjemahan bebas dari judul diatas : Catatan Kematian.

Terjemahan yang saya maksud : Buku Catatan Kematian.

Saya mendapatkan kalimat tersebut dari sebuah film, yang selama dua hari terakhir saya saksikan. Dua film pertama sebenarnya rilis pada tahun 2006. Film ketiga rilis pada tahun 2016. Saya tahu judul film itu dari youtube. Secara acak youtube menampilkan spoiler film tersebut di beranda ssaya. Saya buka, lihat sebentar, dan kemudian menandaskan dua seri pertama di hotel.

Filmnya mengerikan, dengan setting negara dan budaya Jepang.

Ceritanya, Shinigami (Dewa Kematian) Jepang menyebarkan buku catatan kematian ke dunia. Buku itu dikendalikan oleh manusia.

Oh iya sebagai tambahan informasi mengenai buku catatan kematian : siapapun yang namanya tertulis dibuku tersebut akan mati. Syaratnya, harus nama asli dari orang tersebut yang dituliskan. Akan lebih akurat jika disertai dengan melihat wajah dari orang yang dituju. Bisa secara langsung, atau bahkan melalui layar media. Bahkan dari sebuah foto, orang yang dituju untuk dituliskan namanya, bisa diakhiri hidupnya.

Bayangkan saja jika benar-benar ada buku semacam itu, dimiliki oleh manusia.

Dalam film tersebut digambarkan ; manusia yang memiliki dan menguasai buku tersebut, akan cenderung menjadi gila. Ia akan dengan membabi buta membunuh siapapun yang menghalangi jalan pemikiran, niat, dan tindakannya.

Saya tak begitu tertarik dengan konsep mengenai Shinigami dan atau buku catatannya. Saya lebih tertarik mengenai sifat-sifat dan jalan pemikiran manusia yang digambarkan dengan sangat epik dan apik melalui tokoh-tokoh dalam film tersebut.

Ada tokoh utama bernama Yagama Light. Ia adalah KIRA. Orang pertama yang memiliki buku tersebut didunia. Awalnya, dia bertindak dengan sangat ‘ideal’. Yaitu ‘hanya membunuh’ para kriminal yang tidak mendapatkan hukuman, atau kriminal yang dibebaskan dengan ‘tanda kutip’.

Light ‘menghukum’ mereka dengan bukunya. Menuliskan nama mereka satu per satu, sehingga para kriminal itu mati mendadak. Jika tak dituliskan secara detail penyebab kematiannya, mereka akan mati dengan diagnosa serangan jantung. Light menjadi polisi, jaksa, sekaligus hakim dan juga algojo bagi para kriminal, pada awalnya.

Itu pada awalnya, selanjutnya Light menjadi gila dan terobsesi dengan bukunya tersebut. Ia menjadi tidak mempunyai filter ketika ‘membunuh’ orang. Bahkan ia membunuh pacarnya sendiri, demi mengelabui polisi. Light sangatlah cerdas. Rencananya sangat terukur, segala ambisinya ditopang oleh kemampuan intelejensia yang mumpuni. Namun pada akhirnya ia menjadi buronan dari polisi.

Light menjadi buronan polisi, karena polisi dibantu oleh seorang detektif swasta bernama Ryuzaki. Ryuzaki ini, setara dengan Light dalam hal kemampuan olah otak dan olah pikir. Yang membedakannya, Light tidak terobsesi oleh Death Note, bahkan setelah ia mampu mendapatkannya.

Light sebenarnya seorang mahasiswa yang mengambil jurusan ilmu hukum. Menegakkan keadilan menjadi cita-citanya. Tetapi, kekuasaannya karena mempunyai Death Note, seketika membuat Light menjadi orang yang sepertinya ‘mengesampingkan keadilan itu.

Sepertinya, kekuasaan atas hal apapun dapat membutakan hati dan pikiran manusia. Sepertinya lho ya, karena tak semua orang menjadi demikian itu. Tetapi kalau boleh diambil rata-rata, manusia kebanyakan akan menggunakan kekuasaan sesuai dan menurut kemauannya. Jika ia berbicara keadilan, maka yang ada adalah keadilan subyektif dari dirinya, dan bukan keadilan obyektif dengan banyak pertimbangan dan penalaran.

Ah, sifat yang semacam itu sudah biasa. Saya beritahu sifat lain yang secara tidak sengaja saya kontemplasikan ketika melihat film ini. Yaaa, setelah merenung lama, saya baru sadar bahwa manusia mempunyai sifat alamiah semacam itu. Sifat apakah itu? Manipulatif.

Ah, itu kan bukan barang temuan baru. Manusia memang sudah manipulatif dari sononya.

Hehehe, iya sih.

Tapi yang kemudian membuat saya bergidik ; bahwa sifat manipulatif manusia itu bisa menjadi suatu pembenaran dari tindakannya, meski tindakannya itu salah atau melanggar norma-norma umum yang berlaku.

Kalau dari film itu bisa diambil contoh dari Light ; Ia membenarkan tindakannya membunuh, karena menganggap pembunuhan yang ia lakukan hanya ditujukan pada para kriminal, dan dengan itu akan tercipta kedamaian.
Nah, tindakan Light ini disertai dengan propaganda, pemilihan diksi yang tepat ketika berdebat, sehingga sebagian besar orang akan terpengaruh dan menyetujui tindakannya.

Itu kalau contoh langsung dari filmnya. Kalau contoh dari luar film?
Yaaaa, misalnya saja membenarkan sikap dan tindakan pribadi, meski sikap dan tindakannya salah. Atau paling tidak, ia adalah pihak yang memulai rentetan kesalahan.

Manusia bisa dengan canggihnya memanipulasi hal-hal semacam itu. Dari seharusnya ia adalah pihak yang salah, bisa berbalik ia menjadi korban dan menuntut pihak lain untuk bertanggung jawab. ‘Pembenaran’ itu ia tekankan terus menerus, sehingga ia akan terus menerus mengulang kesalahannya, dan sekaligus terus merasa sebagai korban. Ia takkan menyadari bahwa ia adalah sumber dari rentetan masalah yang terjadi, dan terus menyalahkan pihak lain oleh sebab yang sebenarnya timbul dari dirinya sendiri.

Kembali ke film Death Note.

Seperti yang saya sebutkan diatas, ada seorang detektif bernama Ryuzaki yang pada akhirnya berhasil mengungkap segala perbuatan dari Light Yagami atau Kira.

Ryuzaki ini contoh penggambaran sifat manusia yang lain lagi. Ia memang digambarkan cerdas, tetapi saya menangkap sifat lain yang lebih kental ada pada dirinya : obsesif.

Ryuzaki begitu terobsesi dengan kasus pembunuhan yang melibatkan Kira atau Light Yagami. Dengan kecerdasannya, ia sudah bisa membuat sebuah plot twist yang mengarahkan semua petunjuk kepada Light sebagai pembunuh berantai, jauh sebelum para polisi percaya padanya.

Tetapi ya itu tadi, karena terobsesi, menurut saya Ryuzaki menjadi bodoh juga. Ryuzaki akhirnya pun menuliskan namanya sendiri di Death Note, di dalam buku catatan kematian itu, hanya demi memenangkan ‘game’ atau ‘permainan’ yang dimulai oleh Light Yagami.

Light pada akhirnya memang kalah dan mati. Tetapi Ryuzaki sebagai pemenang juga akhirnya mati.

Sampai disini, saya tidak mempunyai kesimpulan apa-apa atas tulisan yang saya buat diatas. Saya hanya sedang tak ada kerjaan, dan memutuskan untuk menulis ini.

Oh iya sebagai penutup saya mempunyai pertanyaan :

Nama siapa yang pertama kali akan kalian tuliskan jika mempunyai buku semacam Death Note itu?

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)