Demi Apa?

Kalau semuanya lancar dan berjalan dengan semestinya [semestinya menurut versi saya], harusnya pagi tadi adalah kunjungan terakhir di KPPN Yogyakarta. Kunjungan terakhir secara resmi kedinasan, untuk minta uang. Jangan sangka menjadi PNS itu enak terus-terusan, gaji dan tunjangan pun harus minta-minta. Kalau tidak minta-minta, ya tidak dibayar.

Begitulah.

Terasa sedikit sentimentil. Saya mengenal lokasi kantor ini semenjak tahun 2005. Dulu bangunannya adalah bangunan tua, mungkin masuk dalam kategori cagar budaya. Lokasinya rindang, dengan bentuk gedung dan bangunan yang melingkar. Taman-tamannya asri. Dulu saya betah berlama-lama duduk di lokasi kantor ini setelah menyelesaikan urusan pekerjaan. Itu dulu, sebelum negara api menyerang gempa melanda daerah Yogyakarta dan sekitarnya pada tahun 2006.

Gempa meruntuhkan sebagian besar bangunan. Mungkin kemudian diputuskan untuk dibongkar saja semuanya karena tak memungkinkan direnovasi. Kini, bangunannya seperti foto yang saya jadikan gambar utama. Bagus. Tapi menurut saya, kering.

Tak lagi sejuk, kecuali di parkiran motor yang tumbuh dua buah pohon mangga dan sebuah pohon kelengkeng.

Demi meminta-minta gaji dan tunjangan itu, saya sering ke kantor ini. Dalam sebulan mungkin dua sampai tiga kali. Kadang lebih, jika ada kekeliruan dan kekurangan administrasi. Pakai motor plat hitam, motor sendiri, si Bleky. Banyak yang memakai motor plat merah, motor pemerintah. Beruntungnya mereka.

Rencana pagi ini [11/09/2019] setelah menyelesaikan pekerjaan di KPPN, saya ingin ke kantor sebuah kementerian di kabupaten Sleman. Menyampaikan surat tembusan. Semacam SK [Surat Keputusan]. Tetapi sebelum ke Sleman memang sudah direncana untuk sejenak mampir di dekat tugu Yogyakarta, beli tembakau. Di toko tembakau Wiwoho.

Kurang beruntung, tembakau yang saya cari kelihatannya adalah stok lama. Sudah agak kering. Terlanjur beli dua bungkus. Ya sudah, nasib memang sudah menggariskan seperti itu. Biasanya padahal tembakaunya masih dalam keadaan agak lembab, dengan aroma tajam menyengat. Merk Violin, keluaran dari PT. Taru Martani.

Tembakau kemasan pabrik bagi saya untuk selingan saja. Selingan diantara mengisap tembakau polos dari petani. Tembakau yang belum terkena ‘saus’ dari pabrik. Tembakau yang sudah nikmat dengan hanya dicampur dengan cengkeh saja.

Saya tahu tembakau itu dalam keadaan agak kering ketika membukanya di rumah Banteran. Setelah membuat secangkir kopi Gayo. Sedikit kecewa tentu saja. Menyimpan tembakau harusnya dalam tempat yang sejuk dan kering. Jangan sampai terkena sinar matahari langsung, atau bahkan jika sekadar terkena hawa panas. Tembakau akan kering, dan berakibat mengurangi aroma serta cita rasa. Toko tembakau juga harus belajar mengenai cara menyimpan tembakau, seharusnya.

Tetapi sudahlah, terlanjur dibeli.

Rencananya hanya mampir ngopi di Banteran, kemudian lanjut ke Sleman. Tetapi kok rasanya tiba-tiba menjadi malas.

Besok saja kapan-kapan suratnya diantar, toh hanya tembusan. Kalau masih malas juga kirim via pos, atau kirim go-send ojek online. Gampang.

Menikmati secangkir kopi sembari mengisap linting tembakau yang sudah sedikit ‘pengar‘ masih lebih baik daripada harus berpanas memacu Bleky hanya untuk mengantar surat tembusan.

Sembari menyesap kopi, saya mengamati ayam bekisar peliharaan Bapak. Kandangnya hanya berukuran 1×1 meter, dengan tinggi juga hanya 1 meter lebih sedikit. Atapnya dari galvalum. Kalau siang panas begini, mungkin didalamnya juga akan terasa panas. Mungkin, toh saya juga enggan jika disuruh masuk untuk merasakannya.

Tetapi kok ayam itu terlihat damai saja di dalamnya. Kadang berkokok, kadang berjalan, dan kadang terlihat duduk santai. Umurnya juga cukup panjang. Ayam itu dipelihara Bapak sudah lebih dari 5 tahun. Ketika pertama datang pun sudah dalam keadaan dewasa. Kok ya panjang umur. Ketika saya tanya rahasianya, ayam itu hanya menggelengkan kepala. Dasar ayam, pelit ilmu.

Asyiknya mengamati ayam bekisar kadang teralihkan oleh laju kendaraan, di jalan raya tepat di seberang. Dulu jalan itu tak pernah ramai. Bahkan sepi. Tetapi sekarang, sekadar untuk menyeberang pun harus bermodal sedikit kenekatan dan mata yang dipelototkan. Kalau tidak, jangan harap pengendara lain akan memberi jalan. Sial betul. Mata untuk bekerja menatap layar komputer masih harus berbagi tupoksi hanya untuk melotot menyeberang jalan.

Tapi ya tak mengapa juga, berarti masyarakat negara ini sudah beranjak semakin makmur. Dengan indikator kasat mata ya banyaknya kendaraan di jalan raya itu. Kalau tidak makmur mosok bisa membeli kendaraan bermotor. Semurah-murahnya ya kalau saya tetap harus utang di bank.

Nah kan PNS, dikira makmur sentosa po? Beli motor saja harus utang.
Eh tapi ya PNS kasta sudra seperti saya. Kalau PNS kasta kesatria atau brahmana ya tidak perlu utang di bank kalau hanya membeli sepeda motor.

Diantara banyak kendaraan itu, banyak pula truk yang mengangkut tambang galian golongan C melintas. Mengangkut pasir. Padahal jalan ini tak boleh untuk melintas truk yang mengangkut pasir. Kenapa masih saja mereka lewat?
Ya jangan tanya saya jawabannya, saya juga hanya punya pertanyaannya.

Duduk di teras rumah Banteran selalu menghadirkan melankoli tersendiri perihal waktu-waktu yang telah lalu. Sembilan tahun sudah saya tak berdomisili disini lagi. Sudah cukup lama. Sudah semenjak ketika saya memutuskan menjadi manusia sok kuat yang bisa hidup jauh dari orang tua.

Ketika akhirnya kelak saya akan semakin jauh dari Banteran, demi apa semuanya?

Ah, tentu saja demi rasa malu kepada ayam bekisar itu. Ayam bekisar itu saja berani hidup sendirian, di dalam kurungan.

Mosok saya tak berani hidup sendirian, tanpa kurungan. Ah….

Demi….kian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *