Denda Merokok Sembari Mengendarai Sepeda Motor

Hari ini sebenarnya saya mau menulis mengenai CCTV, tetapi urung. Selain karena suatu hal, juga karena ada tema yang lebih menarik. Lebih menarik dari CCTV, dan juga pelemparan botol. Ups….

Tema apa itu, Portisio….?

Rokok. Lebih spesifik, larangan merokok. Lebih spesifik lagi, larangan merokok sembari berkendara sepeda motor.

Nah.

Semenjak dahulu saya tak setuju dengan mereka yang merokok. Merokok sembari naik sepeda motor itu maksudnya. Kalau merokok sembari berbincang, ngopi, kumpul-kumpul, jelas saya mendukungnya. Saya juga perokok.

Tetapi kalau merokok sembari naik sepeda motor, kebal-kebul seperti jalan milik sendiri, ya modar saja sana.

Sudah teramat sering saya menuliskan mengenai hal itu. Paling sering, di Facebook. Kali ini kembali tertarik menuliskannya, karena ada aturan denda yang diterapkan oleh Dinas Perhubungan Daerah Istimewa Yogyakarta [Dishub DIY], kepada mereka yang merokok sembari berkendara.

Merokok sembari berkendara itu masalah etika. Bukan masalah kesehatan. Kalau abu atau bara apinya kena orang lain, baru jadi masalah kesehatan. Kalau asapnya?
Jelas masih lebih berbahaya asap motor atau mobilmu!

Bukan merokoknya yang jadi masalah, tetapi waktu dan tempat serta caranya.

Seperti halnya meludah sembari berkendara itu juga.

Cuh, croott, kena muka. Itu bisa jadi masalah kesehatan serius. Yang meludah bisa langsung masuk UGD, dipukuli.
Teman saya pernah bercerita, kena ludah menjijikkan dari orang yang meludah sembarangan. Pas dia mau berangkat kuliah, dan sedang melintas di Jalan Palagan Sleman seputaran Hotel Hyatt.
Cuuhhh, —katanya—, sebentuk cairan itu utuh kena wajahnya. Hiyeekkkk….
Ketika saya tanya kok ga diberhentikan, jawabnya : Badannya besar.

Goblog! Berkali-kali kata itu saya ulangi tepat di depan wajah kawan saya.

Baik merokok dan meludah ketika berkendara, jelas masalah etika. Ga usah merembet sampai pada merokok itu haram dan merugikan kesehatan. Yang jelas merugikan kesehatan adalah, merokok sembari minum minyak goreng dua liter.

Banyak hal-hal yang tidak semestinya dilakukan oleh pengendara sepeda motor selain merokok, dan juga berbahaya bagi dirinya sendiri atau orang lain. Jelasnya, merugikan! Apa saja?

  • Berkendara dan kemudian asal saja membuang sampah, entah itu tissu atau plastik bekas wadah gorengan, itu berbahaya dan merugikan.
  • Berkendara sembari makan es krim itu juga berbahaya.
  • Berkendara sembari mata jelalatan mencari pacar, itu juga berbahaya.
  • Berkendara membawa kerombong dan ngebut ugal-ugalan, itu juga berbahaya.

Banyak hal berbahaya yang dilakukan oleh pengendara sepeda motor, selain merokok.

Tetapi dari poster himbauan Dishub DIY tersebut, ada yang kurang menurut saya.
Yaitu perihal prinsip keadilan jalan raya.

Jalan raya tidak hanya berisi pengendara sepeda motor, tetapi juga kendaraan roda empat. Mobil, truk, bis, bahkan terkadang tank.

Esensi dan subtasnsi bahaya yang terkandung dari aktifitas merokok itu, adalah perihal kerugian yang ditimbulkan. Kecelakaan karena konsentrasi berkendara menjadi berkurang, dan juga abu atau bara api yang berpotensi mengenai serta melukai pengendara lain.

Potensi sakit yang ditimbulkan, mata bisa menjadi buta jika terkena bara api tersebut.

Nah, selama ini, tak hanya pengendara sepeda motor yang merokok sembari melaju. Tetapi juga pengendara mobil, truk, atau bis.
Benar? Atau Salah?

Banyak saya menemui kejadian, pengendara mobil merokok dan sembarangan membuang bara abunya, juga puntungnya. Pernah hampir beberapa kali terkena sampah puntung, dan beberapa kali juga mengingatkan pelakunya.

Tetapi perihal mengingatkan pelaku, saya memegang satu prinsip.

“Tidak mengingatkan pelaku ketika ia sedang bersama anak-anak.”

Semata agar mereka tidak merasa dipermalukan di depan anak, adik, atau cucunya. Pokoknya asal pas mereka si pelaku perokok sembari berkendara itu tidak sedang bersama anak-anak, hampir pasti saya mengingatkan. Dengan catatan, mood berkelahi saya juga sedang bagus.

Karena terkadang, mereka tidak merasa bersalah dengan tindakan dan perbuatan yang demikian itu. Maka ketika saya sendiri tidak sedang bersemangat berkelahi, saya akan membiarkannya saja. Paling hanya misuh-misuh.

Sejauh ini, rokok sudah mendapatkan citra dan stigma buruk dari sebagian masyarakat. Masyarakat yang terkena kampanye sepihak, tendensius, dan membabi buta dari pihak-pihak yang ‘tidak menyukai’ rokok, namun sebenarnya berkepentingan dibaliknya.

Siapa? Ya penjual nikotin yang katanya bisa untuk obat itu. Silahkan cek di internet, mereka sekarang sudah terang-terangan menjualnya.
Mereka inilah penjilat sebenarnya menurut saya. Menjelek-jelekkan rokok dan juga perokok, padahal bermaksud memonopoli penjualan nikotin yang sudah diekstrak menjadi benda non-rokok.

Maka jangan sampai citra dan stigma buruk itu bertambah, dengan perilaku merokok yang sama sekali tidak sopan dan tidak beretika.

Mari tunjukkan bahwa perokok adalah orang-orang yang bermartabat. Merokok dengan penuh khidmat dan kehormatan. Merokok dengan memenuhi etika sopan santun pergaulan sosial.

Merokok adalah peristiwa yang sakral, sama seperti halnya makan dan minum. Ada etika dan tata cara yang harus diketahui, disadari, serta dijalani. Tak bisa asal saja. Demi kebaikan dan kemaslahatan bersama.

Perihal nilai denda yang 750 ribu rupiah itu, kalau bisa ditambah saja nilainya. Dua kali lipat juga boleh.
Kalau tidak bisa bayar kontan seketika, sediakan skema kredit dan angsuran, dengan disertai bunga sekalian.

Hasil dari denda dimasukkan pada kas pendapatan daerah, dengan mata anggaran tersendiri. Penggunaannya, untuk memperbanyak dan memperbaiki ‘smoking area’ pada tempat-tempat dan fasilitas publik. Agar para perokok juga lebih tertib merokok pada tempat-tempat yang sudah disediakan, tidak sembarangan. Kalau tempat yang disediakan nyaman, tentunya takkan ada pelanggaran, dan tercipta ketertiban. Yo po raaaa….?

Iya dong, denda itu kan berasal dari para perokok. Maka sudah semestinya pula dikembalikan untuk kepentingan dialektis perokok-nonperokok. Agar tercipta kesetimbangan, dan bukan ketimpangan serta kecemburuan.

Cukai rokok yang dibayarkan para perokok itu banyak lho, ya kan Portisio…?

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

62 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *