DI ATAS HUKUM, MASIH ADA CINTA

Aku bahagia, awalnya. Aku menikah pada usia masih relatif muda untuk ukuran jaman serta waktu saat itu. Suamiku bertanggung jawab, secara ekonomi, maupun dalam berbagai aspek lainnya. Hampir tak ada yang kurang. Jika pun ada kurang, tentu hal itu melekat pada semua manusia, bukan?
Asalkan semua masih bisa dibicarakan, tidak menyinggung serta beririsan dengan prinsip dasar pernikahan, maka kuanggap itu sebagai kesalahan biasa yang tak lebih dari kekhilafan.

Setelah menikah, aku bahagia, tentu saja. Aku menikah dengan laki-laki pilihanku sendiri. Orang tua ku tak pernah menjejaliku dengan berbagai persyaratan mengenai seorang calon suami. Tak pula aku harus mengalami getirnya rasa menjadi Siti Nurbaya. Aku tak pernah henti bersyukur.

Meski begitu, pernikahanku meninggalkan seonggok jejak yang tidak baik. Bukan, bukan jejak terhadap kami sebagai suami istri, tetapi bagiku, dan orang lain. Sedikit panjang ceritanya, semoga kamu tetap mau membacanya…

Pacarku, yang sekarang menjadi suamiku, adalah laki-laki yang baik. Tentu saja, kalau tidak baik, aku tak akan menerima ajakannya untuk menikah. Tetapi di luar kebaikan yang aku kenal, terselip semacam keraguan. Dia pernah meninggalkanku ketika berpacaran. Sampai beberapa tahun usia pernikahan kami, tak pernah sekalipun ia mau membicarakan hal penyebab kenapa dulu pernah meninggalkanku. Kadang aku marah, kenapa tak pernah ada penjelasan. Tetapi kemarahan ku selalu tertutup oleh kenyataan bahwa ia akhirnya menikahi ku. Kadang, hal itu cukuplah bagiku.

Jika ada drama tersisa dari penggal waktu misterius ketika tiba-tiba ia meninggalkanku, bahwa aku kemudian mempunyai seorang pacar (lagi). Ayolah, semua orang butuh dan perlu untuk merasa bahagia. Dan ketika aku mencoba membangun kembali puing-puing kebahagiaanku yang hancur karena ditinggalkan, apa salahnya?

Seorang teman lama, teman sekolah, hadir tepat di saat aku merasa bahwa tak ada gunanya menunggu ketidakpastian. Maka ketika kami bertemu pada suatu acara reuni, kami menjadi dekat.
Ia orang yang baik, dan perlahan, mampu membawaku untuk melupakan segala hal yang pernah kulalui bersama mantan kekasih yang sudah meninggalkanku.

Perhatian, itu yang kubutuhkan. Dan kawan lamaku di sekolah tersebut, mampu memberikannya. Kami akhirnya sepakat untuk berpacaran. Senang? Tentu saja.
Siapa pula yang tidak akan merasakan senang setelah pahit getir oleh perasaan tak berharga karena ditinggalkan?

Kami lalui hari demi hari, sejengkal demi sejengkal langkah, waktu demi waktu, dan akhirnya kami sampai pada kesimpulan untuk segera menikah. Ya, aku ingin menikah.

Tetapi di tengah perasaan bahagia yang mulai merona, beranjak membuncah, tentang segala rencana untuk menikah, mantan kekasihku datang kembali. Ya, ia yang pernah membuatku tergila-gila setengah mati, datang kembali.

Ia datang kembali hampir tanpa perasaan bersalah dan berdosa. Dan hey, aku menanggapinya.

Kami mulai kembali berbalas pesan, mulai saling menelepon satu sama lain, dan mulai bercanda seolah tak pernah ada sesuatu yang ganjil diantara kami. Dan aku masih berpacaran dengan kawan lamaku semasa sekolah.

Jujur, andai boleh kukatakan, aku masih sering teringat pada mantan kekasih yang meninggalkanku itu, ketika aku sedang berpacaran dengan mantan kawan sekolahku. Tetapi memang tak pernah ada harap yang terselip, bahwa kami akan kembali bersama lagi.

Dan ketika aku tak pernah mengatupkan tangan untuk berharap, kenapa Tuhan mengirimnya lagi padaku?

Pada masa itu, jelas keraguan selalu menghinggapi. Aku sudah mempunyai pacar, seorang aparat keamanan, tetapi kemudian seseorang yang spesial di hatiku datang, merangsek kembali dalam lembar-lembar waktu kehidupanku.

Ya, akhirnya aku memilih untuk menikah dengan mantan kekasihku yang pernah meninggalkanku. Setelah tentu sebelumnya meyakinkan diriku sendiri, bahwa ia tak akan pernah lagi pergi tanpa alasan serta kejelasan. Ini pilihanku.

Pacarku? Kawan semasa sekolahku?
Aku berkata bahwa kami harus mengakhiri hubungan, beberapa hari sebelum pertemuanku dengan mantan kekasihku. Ia menerima? Ya, entah dengan perasaan yang bagaimana.

Pada akhirnya aku menikah, dan merasa bahagia.

Tetapi perasaan bersalah masih selalu menghantui, dan menghampiri. Sampai kemudian mantan pacarku menikah, barulah aku sedikit merasa lega, dan sedikit hilang perasaan berdosa.

Bertahun setelahnya, aku kembali seperti mengalami de javu. Ketika aku berada dalam suatu acara reuni, dan disana ada juga dan hadir mantan pacarku itu. Aku merasa kikuk, bahkan untuk sekadar menyapa dan menjabat tangannya setelah sekian lama.
Ia yang pertama menghampiriku, bertanya kabar, menjabat tanganku erat, dan kami mulai berbincang hangat.

Dan itu terjadi, kembali pada saat suasana yang kurang baik, pernikahanku sedang mengalami goncangan hebat. Aku sedang menduga, suamiku berselingkuh. Meski belum ada bukti-bukti kuat, tetapi ada bukti yang mengarah pada hal itu. Selain tentu saja intuisi serta praduga dari perasaan seorang istri. Bukankah terkadang tepat adanya?

Selalu ada alasan pembenaran untukku bertukar kabar, bercanda, atau saling menggoda dengan mantan pacarku itu. Bukankah suamiku juga sedang melakukan hal yang sama?
Tak elok sebenarnya, ia sudah mempunyai istri, dan juga seorang anak. Tetapi, aku tak pernah memulai. Ia yang selalu mulai menyapa, bertanya kabar, serta memberi detail perhatian, yang secara sepihak kusimpulkan —tak ada lagi dari suamiku—.

Aku sebenarnya merasa bersalah, baik pada suamiku, atau pada anak dan istri dari mantan pacarku. Tetapi sekali lagi, selalu ada pembenaran.
Toh, mantan pacarku itu juga sering bercerita, kalau kondisi rumah tangganya sedang tidak baik, dan ia tak merasa bahagia.

Tak ada salahnya berbagi sedikit kebahagian, sekaligus untuk menebus dosa serta kesalahan. Perlahan, aku menyesal kenapa dulu tak pernah membuka hati untuk memberinya kesempatan. Ia tak pernah meninggalkanku, dan aku malah lebih memilih orang yang pernah meninggalkanku.

Jujur, aku meratapi kebodohanku.

Seharusnya aku memilih ia, dan bukan suamiku saat ini. Ah, tetapi bukankah seperti ini juga tak mengapa. Terpenting, kami masih saling memiliki rasa…cinta?
Ia selalu mengatakan itu, menyampaikan mengenai rasa sesal, juga rasa rindu yang membuncah serta memburu. Dan hey, aku merasa sangat bahagia ketika ia memanggilku dengan kata ‘kesayangan’ kami dulu ketika masih berpacaran.

Kini, aku sedang menjalani sesuatu yang membahagiakan, sekaligus mengkhawatirkan. Tetapi, toh ada cinta, yang akan selalu kupegang, dengan segenap harap yang tak pernah padam.

*******
Aku bahagia, awalnya. Aku menikah pada usia relatif muda, dengan seorang perempuan yang sungguh padanya kutambatkan seluruh kasih, serta sayang, dan juga cinta yang tak terdefinisi oleh kata-kata.

Istriku seorang penurut, lembut, penuh kasih sayang dan tentu saja mencintaiku.
Bagaimana aku tahu ia mencintaiku? Bukankah tak ada manusia yang sanggup untuk melongok pada kedalaman hati manusia lainnya? Toh apalagi memastikan perasaan cinta?
Ya, menurutku ia mencintaiku. Ia menerimaku kembali, setelah pernah dalam suatu masa, dalam lembar masa laluku, kutinggalkan ia.

Kutinggalkan ia dalam deret lembar penuh tanda tanya, tanpa sedikitpun penjelasan.
Perihal sebab musabab kenapa aku pernah meninggalkannya, takkan ku ceritakan pada jenis makhluk apapun di dunia, apalagi manusia.

Dan ketika ia mau kembali menerimaku, menikah denganku, apakah ada kesimpulan selain bahwa ia mencintaiku?

Aku bahagia, bertahun kujalani bersamanya. Sampai, pada suatu ketika ia membuka hapeku, membaca pesan-pesan percakapanku, curiga, dan kemudian menduga bahwa aku sedang melakukan suatu perselingkuhan. Sungguh, betapapun aku ingin menjelaskan, tak ada kata yang sanggup meredakan amarahnya.

Ia memaafkanku, meski aku tak pernah setuju dengan tuduhan mengenai perselingkuhan.

Kami kembali menjalani hari-hari, bersama, tertawa, dan aku bahagia, mungkin juga ia.

Sampai kemudian, pada suatu waktu aku mengantarnya untuk mengikuti acara reuni. Aku tahu, dan ia bercerita semua ketika aku meninggalkannya. Mantan pacarnya, bagaimana mereka berpacaran, dan bagaimana ketika ia akhirnya memilihku kembali. Aku mengantarnya, dengan suka cita, tanpa perasaan curiga.

Aku hanya sedikit menggodanya dengan beberapa pertanyaan perihal mantan pacarnya, sekembali kami dari acara reuni itu. Dan ia hanya tertawa.

Sampai suatu ketika, kudapati pesan-pesan yang menurutku, —tak wajar—, dari dalam hapenya. Ya dari mantan pacarnya. Percakapan-percakapan laiknya sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara.
Pernah aku mencoba bertanya. Dan ia mengembalikan perihal apa yang pernah juga kulakukan di masa lalu.

Aku membantah, kami saling membantah.

Setelahnya aku setengah tak peduli, atas apa yang ia lakukan dibelakang ku. Asal ia masih bersamaku, dan kami tetap tertawa bersama.

Kami saling menjaga, sebenarnya. Saling merawat ketika sakit, saling memperhatikan dan saling mengkhawatirkan kondisi masing-masing. Tak pernah aku mempunyai niat sekalipun untuk meninggalkannya, meski perihal itu, berulang kali ia lontarkan.

Aku tak pernah menanggapi permintaan nya untuk berpisah, semata karena aku memang menyayanginya, mencintainya, terlepas dari apapun yang ia lakukan di belakangku.

Tetapi, kembali berulang.

Kudapati pesan singkat dan percakapan dengan mantan pacarnya. Ya, istriku terlihat sangat gembira mendapat pesan dari mantan pacarnya. Berbagi kabar, bahkan mengirimkan…gambar.

Duniaku, gelap.
Mungkin Tuhan sedang menghukumku.

Aku kemudian teringat dalam suatu adegan drama serial dari negeri tirai bambu, ketika salah satu tokoh laki-laki di dalamnya merelakan seorang perempuan yang ia sayangi, ia cintai, untuk hidup bersama orang yang ia bahagia bersamanya.
Tokoh laki-laki itu menangis. Tetapi demi melihat perempuan yang ia kasihi bahagia, ia rela tersenyum.

Aku menghadap dua gelas kopi, meredakan ketegangan dalam urat-urat syaraf leherku. Perihal rela, aku sanggup, asal ia kembali bahagia.

Tak ada catatan atau garis tebal yang harus ditegaskan. Bagiku, ketika ia merasa bahagia, bahkan hanya dengan berbalas pesan dengan seorang lain, maka ia akan selalu tidak bahagia bersamaku.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

20 Comments

  1. Thank you for every one of your labor on this web site. My daughter really loves managing investigations and it’s really obvious why. Most people learn all regarding the lively mode you present rewarding techniques through this web site and even inspire participation from some others on the point then our favorite princess is really starting to learn a whole lot. Take advantage of the rest of the year. You are always doing a splendid job.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.