Didi Kempot Dan Parangtritis

Jauh sebelum Dewa lagu pop Jawa itu dikenal luas, seluas-luasnya seperti yang kita tahu, saya mengawali ‘perkenalan’ dengan lagu Parangtritis. Sekira tahun 2002, ketika saya duduk di bangku kelas 2 SMA.

Waktu itu saya belum mengenal Cidro, bahkan Tatu. Atau mungkin keduanya belum diciptakan, entahlah.
Tetapi Parangtritis sudah lebih dari cukup untuk mewakili.

Anda tahu liriknya?

//Rasane kepengen nangis yen kelingan Parangtritis,
Ning ati koyo diiris.
Naliko udan gerimis Rebo Legi malem Kemis,
Ra nyono ra ngiro, janjimu jebul mung lamis/
/

Ikonik bagi saya, terutama karena Parangtritis cukup dekat dalam kehidupan saya.

Juga sedikit menimbulkan kebanggaan, bahwa saya mengenal beliau tak semata karena karbitan media sosial, atau karena ikut-ikutan. Waktu itu belum ada media sosial, belum ada youtube, dan hanya ada radio untuk menunggu Parangtritis diputar untuk kemudian ikut menyanyikan.

Dan ketika beberapa waktu yang lalu mendengar bahwa beliau -Pak Didi Kempot- meninggal, bahkan saya tak bisa menitikkan air mata. Hanya saja pikiran saya terus menerus melayang, tentang bagaimana kelak jagad patah hati akan ditangani.

Mungkin saya memang bukan orang baik. Sekira seseorang meninggal, saya bahkan malah membayangkan hal lain dan bukan duka cita perihal kepergian yang tengah melanda.

Harusnya, dan normalnya, yang pertama dan utama adalah duka cita.
Tetapi, begitulah. Saya jarang mengenang kepergian seseorang dengan duka cita yang mendalam. Saya lebih suka mengenang kepergian seseorang dengan ingatan yang baik dan berkesan, juga tentang bagaimana kelak hidup akan berlanjut tanpa adanya orang tersebut.

Cukup menyesakkan mendapati kenyataan bahwa kelak takkan ada lagi patah hati yang bisa dirayakan dengan bernyanyi penuh suka cita.
Juga apa jadinya jika kelak air mata memang haruslah berasal dari patah hati dan luka.

Sepanjang kita mengingat, Didi Kempot mampu membuat banyak orang menjadi patah hati, bahkan jika ia tak pernah jatuh cinta.
Lagu-lagu dan musiknya tentu saja, dengan mudah dan ringan menyeret langkah hati kita untuk patah, bahkan jika pun tanpa sebab.

Banyak orang yang bahkan awalnya tidak tahu arti kata Cidro, tiba-tiba saja sudah menyanyikannya dengan berurai air mata.
Banyak orang yang sebetulnya tidak tahu makna kata Tatu, mendadak dengan mendayu dan sendu melantunkannya.

Hanya Dewa yang mampu mengajak orang untuk melakukan sesuatu, tanpa banyak alasan dan bertanya. Didi Kempot mampu melakukannya.

Dengan mudah beliau masuk dalam relung hati dan perasaan banyak manusia, menikam inti terdalam psikologisnya, untuk kemudian setuju bahwa patah hati dan luka hanyalah perkara mengulang dan bukan sesuatu yang baru. Patah hati dan luka adalah milik banyak orang, bukan hanya milik satu orang saja.

Maka, patah hati tak perlu ditangisi sebenarnya. Jogeti wae.

Lagu-lagunya dengan mudah bertransformasi dalam masing-masing perasaan manusia yang mendengarnya, untuk kemudian digubah sedemikian rupa sesuai dengan kondisi yang sedang dialaminya.

Seorang pemuda patah hati dengan ringan akan menyayikan Kalung Emas ketika teringat betapa kurangajarnya si mantan. Setelah dibelikan rupa-rupa perhiasan, dengan mudah si mantan pergi dan seolah tak pernah ada rasa cinta yang hangat serta bergelora diantara mereka.
Meskipun pada kenyataannya bukan perhiasan berupa kalung emas yang dibelikan si pemuda untuk mantannya. Meski perhiasan yang diberikannya hanya kalung perak, atau bahkan kalung dari tali kenur yang dianyam. Tetapi yang penting adalah maknanya, bukan?

Tali kenur itu hanyalah simbolisasi. Dari perasaan yang mendalam dari si pemuda untuk mantannya. Ketika pada akhirnya si mantan tetap pergi meski sudah diberikan perhatian sedemikian rupa, tentu saja si pemuda akan ambyar seketika.

Didi Kempot terlalu cerdik untuk menyematkan makna yang mendalam dan mudah menelisip dalam tiap hati dan jiwa manusia. Meski dalam lirik yang sederhana, dan justru pada itulah kekuatannya.

Tak perlu lirik puitis yang melangit, tetapi terpenting adalah makna yang membumi. Tentu saja, karena manusia hidup dengan menginjak bumi. Maka lirik dengan makna yang membumi jauh lebih mudah untuk dimenangkan dalam hati dan perasaan manusia.

Maka, mungkin kekhawatiran saya kelak akan berdasar. Bahwa mungkin takkan adalagi yang dengan lugas akan membuat terminal, stasiun dan pelabuhan menjadi area tetangisan.

Mungkin kelak tetap akan ada perayaan-perayaan, terhadap lagu dan karya Didi Kempot. Tapi yang jelas, takkan adalagi pembaharuan.

Takkan adalagi Banyulangit di Nglanggeran, atau Tatu jilid dua.
Takkan adalagi Parangtritis yang berdendang, apalagi Pantai Klayar.

Mungkin saja saya terlalu berlebihan. Tetapi seperti kita semua tahu, menciptakan lagu semacam itu tak semudah menggoreng tahu.

Ah ya, sudahlah. Ikhlaskan Pak Didi Kempot yang sudah tenang di alam kedamaian. Biarkan beliau menyesap manisnya pahala kebaikan yang sudah puluhan tahun ditebarkan.

Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Didi Kempot pergi meninggalkan banyak pelajaran, bahwa patah hati tak mesti layak untuk ditangisi.

Semoga bahagia di keabadian, Pak Didi Kempot.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

5 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *