Didi Kempot, Pemuda dan Malam Minggu

Seorang pemuda menghadap secangkir kopi, beberapa bungkus rokok, dan asbak yang penuh dengan puntung dan abu berserakan. Tetes dari gelas kopinya membuat noda pada beberapa tempat, ia acuh.
Mata dan tangan kirinya sibuk dengan layar hape, meski ia terlihat tak antusias. Jari tangan kanannya terselip sebatang rokok.

Tak lebih dari lima kali isapan rokok dari jari tangan kanannya, ekspresi wajahnya semakin terlihat tak antusias, dan perlahan berubah menjadi ekspresi kesedihan.

Ia sedang menghubungi beberapa kawannya melalui Whatsapp, baik secara personal maupun grup, untuk mengajak mereka bertemu, sekadar untuk menghabiskan waktu malam minggu.

Jangankan mendapat balasan, tak ada satupun pesannya yang dibaca. Padahal, ia menghidupkan notifikasi centang biru pada aplikasi Wa nya, sehingga tahu pesannya sudah dibaca ataukah belum. Sedikit sakit hati, centang biru ia matikan.

Lebih baik tak tahu sekalian, daripada berharap ada yang membaca pesan, pikirnya.

Akhirnya ia tahu alasan kenapa teman-temannya tak ada satupun yang membalas pesan serta ajakannya. Padahal ia sudah memberi tawaran akan membayari seluruh kopi dan makanan jika teman-temannya bersedia berkumpul.
Hampir semua teman-temannya sedang bermalam mingguan, bersama kekasih mereka masing-masing.

Ia tahu dari update status WA teman-temannya.

Ia letakkan hape, menyesap dalam-dalam asap rokoknya, menghela nafas panjang.

“Gadul.” umpatnya.

Ia sendiri kemudian larut dalam lamunan, ingatannya terbang pada beberapa penggal kejadian, di waktu-waktu belakang.

Berawal dari Stasiun Balapan, kota Solo. Ketika ia berkenalan dengan seorang gadis keturunan Tionghoa, yang saat itu sedang kerepotan membawa banyak tas dan barang bawaan. Ia membantunya, dan mereka berkenalan. Perkenalan mereka berlanjut pada saling memberi nomor telepon, dan kemudian selanjutnya saling berkirim pesan dan bertanya kabar. Beberapa kali pula mereka saling menelepon, dan bercanda layaknya dua orang yang sudah mengenal lama.

Suatu saat, mereka membuat janji untuk kembali bertemu, dan berencana pergi ke pantai Parangtritis pada hari Rabu Legi malam Kamis di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Segala persiapan dilakukan oleh si pemuda di hari yang telah di sepakati. Mandi pun sampai dua kali, untuk meyakinkan diri sendiri bahwa tak ada lagi daki. Saat akhirnya kembali bertemu, si pemuda meleleh hatinya, beserta seperempat kaleng pomade yang ia pakai sebelumnya. Ia begitu terpesona pada aura kecantikan, serta keramahan dan canda tawa si gadis keturunan Tionghoa. Si gadis tak sungkan terus melontarkan canda, seolah mereka berasal dari tempat, budaya, dan latar belakang yang sama.

Tanpa berpikir panjang, di sebuah kedai penjual degan, si pemuda mengutarakan isi hatinya, betapa ia kagum dan terpesona, sekaligus merasa bahwa telah jatuh cinta.

Si gadis tersenyum, memegang tangannya, dan berkata dengan nada suara tenang, bahwa ia bisa menerima pernyataan cinta yang begitu mulia itu. Bukan karena sebab ras ataupun perbedaan agama dan budaya, tetapi karena lebih di gadis tidak terlalu nyaman untuk bisa menjalin hubungan dengan seorang pria yang memakai hampir seperempat isi kaleng pomade di rambutnya.

Si pemuda patah, dan layu sebelum waktunya.

Ia menghela napas panjang teringat kejadian itu, dan kembali menyulut sebatang rokok untuk menemani secangkir kopi yang mulai dingin.

Ia kembali teringat narasi kisah cintanya yang kelam, selepas dari bayang gadis Tionghoa. Suatu kali, ia bertemu seorang gadis yang tengah kebingungan karena tak mempunyai uang kecil untuk membayar parkir, di sebuah pasar tradisional. Ia menawarkan diri untuk membayar biaya parkir tersebut. Nilainya tak seberapa, tetapi mampu membuat si gadis terkesan. Si gadis membalas kebaikan serta ketulusan si pemuda, dengan sebuah nomor telepon. Mereka semakin dekat setelahnya, dengan saling mengirim pesan dan bertukar kabar.

Suatu kali mereka berjanji untuk berdua, pergi ke Gunung Api Purba Nglanggeran di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Erat tangan mereka bergandengan, menaiki satu per satu anak tangga, di antara tebing dan dinding batu, menuju puncak dalam langkah yang satu. Si pemuda merasa Ketaman Asmoro, jatuh cinta yang menjadi-jadi.

Sampai di puncaknya, dengan nafas tersengal tak beraturan, mereka memandang luas indah hamparan alam. Si pemuda tak terlalu menghiraukan pemandangan alam yang membentang, ia lebih tertarik untuk terus melirik dan melihat wajah serta tubuh gadis di sebelahnya.

Hujan, Banyulangit menjadi saksi kedekatan mereka.

“Dik, aku mencintaimu.” lirih bisik si pemuda.

Si gadis terhenyak, tak menyangka akan mendapat peluru tajam dari si pemuda.

“Tidak bisa mas. Oleh bapakku aku sudah dijodohkan oleh anak temannya, sesama juragan beras di pasar tempat kita bertemu.” jawab di gadis, yakin.

Si pemuda lunglai seketika. Ia bukan anak juragan, dan tentu tak mempunyai banyak harta untuk bisa merebut posisi ‘perjodohan’ si gadis dengan pemuda anak sesama juragan beras bapaknya.

“Tak bisakah…?” tanya di pemuda, tertahan.

Si gadis menggelengkan kepala sebagai jawabnya.

Hati si pemuda kembali runtuh, Cidro.

“Opo mergo kahanan uripku iki, mlarat bondo seje karo uripmu.”
Bibir si pemuda bergetar melantunkan sebuah lagu, teringat dua kisah yang terdahulu. Nahas.

Segelas kopinya tandas, ia beranjak ke dapur, untuk membuat secangkir lagi yang sama. Yang pekat, yang pahit, yang hitam, kelam, agar samar segala mendung yang menggantung di hatinya.

Sembari membuat secangkir kopi, ia teringat kisahnya yang lain. Dengan seorang gadis yang ia temui saat bersama-sama membeli cilok, di alun-alun kidul, Yogyakarta.

Si gadis sedang celingak-celinguk, seperti mencari sesuatu. Ternyata ia lupa membawa uang, dan tak bisa membayar cilok yang terlanjur dipesan. Tujuh ribu rupiah, si pemuda menawari untuk membayari. Si gadis tersenyum malu, dan mengucapkan terima kasih sembari berlalu. Si pemuda menganggukkan kepala, tanda menerima ucapan terima kasih dari gadis yang berlalu di depannya.

Ia menunggu pesanan cilok, dan lima belas menit kemudian tak menyangka kalau gadis yang ciloknya ia bayari, akan kembali. Mengajaknya berkenalan, dan mengajaknya jalan-jalan.

Si pemuda terkesiap, sedang pada hatinya belum kering luka yang ditorehkan anak gadis juragan beras.

Tetapi ia tak kuasa menolak, jauh di antara segala luka hatinya, masih terselip bibit harap untuk bisa lagi mengisinya, dengan gadis dan cinta yang lain.

Mereka berpacaran.

Mereka sering menghabiskan waktu, bepergian, untuk lebih saling mengenal, melewati Dalan Anyar, jalan-jalan baru yang belum pernah mereka lalui berdua. Tak terasa, hubungan mereka sudah jauh semakin dekat, dari waktu ke waktu. Dua kali lebaran telah terlewati.

Suatu kali, untuk merayakan hubungan mereka yang sudah terjalin, dan untuk penerimaan si gadis atas dirinya yang serba kurang dan terlampau sederhana, si pemuda membelikan Kalung Emas sekadar sebagai rasa terima kasih dan peneguh perasaan cinta serta hubungan di antara mereka.

Kalung emas yang dibelinya dengan menabung sebesar setengah gajinya setiap bulan, selama empat bulan.

Si gadis semringah, dan mengucapkan banyak terima kasih.

“Mungkin kita akan menikah, mas.”

Si pemuda berurai air mata. Bahagia, akhirnya.

Namun sepertinya memang kebahagiaan belum berpihak pada si pemuda. Suatu kali, ia memergoki gadis pujaan hatinya sedang bergandengan tangan dengan laki-laki lain, tepat dua purnama berlalu semenjak ia membelikan kalung emas itu. Lagi-lagi…

“Tak tandur pasri, jebul thukule, malah Suket Teki.”
Bibirnya masih gemetar, menahan pilu yang mendalam.

Ia tak jadi membuat secangkir kopi, gas untuk kompornya, habis.

Ia kembali ke kamar, mengambil bungkus-bungkus rokoknya, meraih jaket, dan beranjak menuju pintu keluar.
Ia memutuskan akan pergi sendirian. Sepeda motor kesayangan ia hidupkan, dan bibirnya berdendang, dengan nada getir dan sumbang,

Sewu Kuto uwis tak liwati, sewu ati tak takoni…”

Sepeda motornya melaju, tapi tak jelas arah mana yang akan ia tuju. Mengalir saja, seperti apa yang terjadi selama ini, pada dirinya, pada narasi cintanya.

Aku akan ke rumah Pak Didi Kempot saja, minta dibuatkan lagu…pikirnya.
Padahal, Pak Didi Kempot sedang bermalam minggu di Suriname.

Didi Kempot. Gambar : Ngopibareng.id
Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

16 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.