Doa Yang Mengancam

Siapa bilang ‘mengancam’ Tuhan tidak boleh? Apalagi kalau itu adalah Tuhan kita sendiri, Tuhan yang kita sembah sehari-hari, Tuhan yang berdekatan dengan diri pribadi kita, lebih dekat dari urat nadi.

Apa yang dilakukan oleh Neno Warisman itu, juga bukan suatu kesalahan ketika dia mengancam Tuhan. Toh, yang diancam adalah tuhan si Neno. Tuhan yang diyakini dalam pikiran, hati, dan persepsinya sendiri. Terlepas bahwa si Neno itu kemudian mempersepsikan tuhan yang diyakininya sebagai Tuhan yang juga diyakini oleh umat yang seagama dengannya, Islam, itu sudah lain soal.

Allah Subhanahu wa ta’ala, Tuhan yang diyakini umat Islam itu, hadir dalam Wajah dan Rupa yang berbeda pada tiap-tiap umatNya. Ada yang merasa bahwa Tuhan Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Besar, Maha Kuasa, Maha Memberi, dan Maha-Maha yang lainnya. Tergantung pengalaman, hubungan, persinggungan, dan kemesraan personal yang terjadi antara hamba dengan Tuhan-nya.

Mungkin Neno merasa bahwa tuhannya adalah Tuhan yang takut kehilangan ‘pengikut’. Tuhan yang gentar dan gemetar jika umat meninggalkan, maka Neno yang secara persis tahu hal itu, mengucapkan doa dalam puisi jelek yang dibacanya dalam suatu acara. Jika tak demikian dekat dan mengenal Tuhan, maka takkan ada hamba yang berani secara gamblang dan terbuka menyatakan doa serta harapannya, apalagi sampai mengancam.

Kemesraan

Seorang hamba memanjatkan doa, menyatakan cinta, menyapa, dan mendekat kepada Tuhan-nya dengan segenap pengenalan dan keyakinan, dalam hati maupun pikiran. Imanen, terpatri.
Jika tak demikian, maka seorang hamba tentu takkan berani berdoa dan meminta.

Jika ada yang sedikit kurang pantas dari apa yang dilakukan Neno, itu adalah kenyataan bahwa ia menyatakan ancamannya secara terbuka, di depan khalayak umum, dan seolah menjustifikasi bahwa tuhan yang dia maksud adalah juga Tuhan semua orang [Islam].

Padahal, hubungan mesra personal yang sudah sampai pada tahap ancam mengancam seperti itu, layaknya dilakukan pada tiap-tiap sujud atau tengadah doa yang sepi dan tintrim, jauh dari hingar bingar. Pun andai ancaman itu dilakukan di tengah banyak orang atau keramaian, maka batin adalah ‘masjid’ yang paling sesuai, dan tak perlu diketahui banyak orang.

Ancam mengancam adalah semacam metode perhubungan antar dua entitas, yang sudah sampai pada tahap lanjut. Tak mungkin dilakukan oleh dua orang yang sedang dalam taraf pendekatan, atau bahkan baru saling mengenal, misalnya. Itu hanya bisa dilakukan oleh, —katakanlah semisal—, sepasang suami istri yang sudah saling mengenal dan saling mencintai sampai tahap bahkan kedalaman laut takkan mampu menenggelamkan serta memisahkan.

Neno, adalah orang yang bukan baru kemarin sore mengenal tuhannya. Maka, ia bahkan berani mengancam tuhannya sedemikian rupa, di depan banyak orang. Sampai di sini, kiranya sejenak anda berpikir ulang untuk mengecam Neno. Ia adalah orang yang sangat dekat dengan tuhannya.

Perihal apakah nanti Neno akan dimarahi tuhannya, itu adalah urusan pribadi dan personalnya dengan Tuhan. Siapa tahu, tuhannya Neno bahkan merasa bahagia ketika tahu Neno mengancamnya di depan banyak orang.

Doa dan kepasrahan total

Orang yang sudah demikian dekat dengan Tuhan, maka takkan menyelipkan lagi basa-basi dan rayuan dalam doa serta harap yang dipanjatkan. Ia akan menyapa dengan penuh kasih, tatap pasrah, keanggunan, keintiman yang takkan bisa dimengerti oleh orang yang masih berjarak dengan Tuhan. Ia akan mengolah ‘ketakutan’ dan rasa hormat terhadap Tuhan dengan penuh tawadhu dan rasa cinta. Dengan penuh kasih sayang. Ia takkan ‘takut’ lagi terhadap Tuhan, dalam bingkai arti dan maksud bahwa ketakutan akan menutup rasa cinta dan kasih sayang. Mengedepankan ketakutan dalam mencintai dan menyayangi, hanya akan menutup peluang untuk mendapatkan kemesraan. Yang ada, hanya akan perhubungan transaksional. Bahwa jangan sampai Tuhan marah, dan kita mendapatkan azab serta hukuman. Jangan sampai Tuhan marah, dan kita kehilangan peluang untuk mendapatkan pahala.

Tidak seperti itu hubungan orang yang sudah demikian dekat dan mesra dengan Tuhan. Ia takkan peduli lagi apa yang akan didapatnya dari Tuhan, dan yang ada adalah kepasrahan total serta totalitas cinta tanpa syarat.

“Tuhan, aku mencintai dan menyayangiMu. Maka, aku sudah tak peduli lagi dengan apa yang akan Kau lakukan serta berikan padaku. Kiranya, bisa dekat denganMu sudah merupakan anugerah melebihi segala doa yang terpanjat.”

Dalam kasus Neno, terserah saja dia mau membawa-bawa Tuhan dalam urusan politik praktis atau apapun. Toh, selama ini kita juga seringkali membawa-bawa Tuhan dalam urusan yang bahkan sangat ‘remeh-temeh’ dan cengeng.

  • “Tuhan, saya mohon jangan dulu hujan, cucian belum kering.”
  • “Tuhan, bukalah pintu hatinya agar mau menerima tulus cintaku.”
  • “Tuhan, lancarkan rejeki dan lariskan daganganku hari ini.”
  • “Tuhan, semoga aku cepat naik pangkat dan jadi pejabat.”
  • “Tuhan, semoga aku lolos duduk di kursi Senayan.”
  • “Tuhan, buka pintu hati petugas PLN agar jangan mematikan listrik, hapeku belum di cas.
  • “Tuhan, tutuplah sejenak mata pandang pengawas ujian, aku mau mencontek.”

Tuhan…Tuhan…Tuhan….

Tuhan dan kepentingan

Betapa sebenarnya tak hanya Neno yang menyeret dan membawa Tuhan pada urusan-urusan personal yang sebenarnya ‘Dia’ sudah mendelegasikan sebagian kewenangan dalam urusan tersebut, kepada manusia. Tuhan sudah ‘mengijinkan’ sistem demokrasi dan pemilu sebagai metode pemilihan presiden dan wakil rakyat di Indonesia. Dia sudah memberikan sebagian mandat dan kewenangan kepada manusia Indonesia untuk mengurus hal itu. Maka tinggal bagaimana mengolah dan menjalankan sistem, metode, dan cara tersebut untuk kemaslahatan rakyat dan masyarakat luas, Tuhan sudah menyerahkannya kepada manusia Indonesia.

Termasuk juga ketika Tuhan memberikan ‘jalan’ kepada dua kandidat, dua kubu pada pilpres untuk saling berebut bangkai suara terbanyak, Ia menyerahkan sepenuhnya tentang bagaimana cara-cara untuk berkampanye.

Perihal Neno yang mengancam Tuhan dan mengajaknya berkampanye, dipersilahkan saja. Mungkin tuhannya Neno kelak tanggal 17 April 2019 juga mempunyai hak suara.

Tak ada yang salah dengan apa yang dilakukan Neno dengan mengancam dan membawa-bawa Tuhan dalam urusan remeh-temeh seperti itu. Toh Tuhan sendiri juga yang menyarankan seorang hamba untuk selalu mengajakNya dalam berbagai urusan, bukan?
Maka Neno janganlah dihujat ketika membawa dan mengajak tuhannya. Hujatlah puisinya yang jelek saja belum.

Saya tak sedang membela Neno, begitu juga dengan tulisan ini. Apa yang perlu di bela dari seorang Neno? Seorang yang sudah demikian dekat dengan Tuhan, orang yang berani mengancam tuhannya. Sedang tak ada sebaik-baik penolong, selain Tuhan. Dan Neno sudah demikian dekat dengan Tuhan. Untuk apa kemudian dibela, apalagi cuma dari saya?

Saya harus mengakhiri tulisan ini cukup sampai di sini. Nino, kucing saya, sudah berteriak keras dengan terus menerus mengeong, dan itu pertanda saya harus memberinya makan. Begitulah kucing saya, Nino, ia berteriak-teriak dan mengeong keras kalau sedang kelaparan dan butuh serta meminta makan. Ah, Nino-ku, dasar kucing.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

21 Comments

  1. Знаете ли вы?
    Английский крейсер ценой четырёх попаданий защитил конвой от немецкого рейдера.
    Американский лейтенант из конвоя PQ-17 был спасён советским танкером и наладил его оборону от авианалётов.
    Зелёный чай может быть розовым.
    Художник-карикатурист известен пародией на мунковский «Крик».
    Старейшую в России организацию реставраторов велено было выселить и уплотнить.

    arbeca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *