EDY RAHMAYADI MENGINSPIRASI ; JAWABAN UNTUK BERBAGAI PERTANYAAN MENYEBALKAN

Mashoookkkk Pak Edy…!!!!

Semenjak terpilih menjadi Gubernur Sumatera Utara, ketika dalam posisi masih menjabat sebagai Ketua Umum PSSI, saya langsung jatuh hati pada sosok Edy Rahmayadi.

Orang ini mempunyai stamina jauh lebih baik daripada kuda, mempunyai mental jauh lebih liat daripada baja. Sementara semua koleganya yang berkecimpung dalam politik praktis meletakkan jabatan ganda, Pak Edy menjawab lugas :
“Saya mampu!”

Warbyasaaahhhh.

Anda, anda, dan anda yang terus mengkritik rangkap jabatan Pak Edy, harusnya malu. Bukannya meniru untuk bekerja keras dan terus fit serta bermental baja, anda hanya bisa mengkritik.
Tirulah usaha serta kerja keras Pak Edy untuk bisa dan mampu tanpa masalah merangkap jabatan.

Kekaguman demi kekaguman terus saja keluar dari pikiran kerdil saya, terhadap kemampuan luas daripada Pak Edy. Saya ini, merangkap pekerjaan cuci piring sekaligus cuci baju saja sudah kewalahan. Ini Pak Edy, gubernur sekaligus ketua umum asosiasi sepakbola sebuah negara.

Po ra haibaatttt.

Eits, siapa pula saya ini membandingkan diri dengan Pak Edy. Kalau ibarat makanan, beliau ini main course berharga jutaan rupiah yang hanya tersedia di hotel-hotel mewah, saya hanya rontokan kerupuk di luar toples.
Maaf, jadi perbandingan tadi ya tidak apple to apple.
Mosok cuci piring dibandingkan dengan kerja sebagai ketua umum asosiasi sepakbola, ya ga mashookk.

Rangkap jabatan daripada yang dilakukan beliau Bapak Edy Rahmayadi, bagi saya pribadi, menginspirasi. Bolehlah kapan-kapan, selain sebagai ASN berjabatan staf golongan curut, saya ingin merangkap pekerjaan sebagai pencari rumput.

Terbaru, Pak Edy kembali menjadi inspirasi. Menjadi inspirasi daripada hak sikap untuk tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan menyebalkan, atau menjawab pertanyaan tersebut dengan lugas, tangkas dan jelas.

Ketika ditanya seorang reporter televisi dalam sebuah sambungan telepon secara langsung, tentang bagaimana kemampuan beliau mengemban dua tugas besar sekaligus, apakah menimbulkan masalah atau dipermasalahkan oleh masyarakat, alih-alih menjawab dengan paling tidak, –diplomatis–, Pak Edy menjawab dengan cukup sadis ;
“Apa urusan anda bertanya hal itu? Dan bukan hak anda untuk bertanya kepada saya.”

Mashoookkkk Pak Edy.

Apa juga hak wartawan atau reporter bertanya kepada anda? Ya to?
Sedangkan keluarga anda yang setiap hari bersinggungan langsung saja pasti tidak bertanya. Jadi, hati-hati bertanya.

Saya benar-benar merasa salut, sekaligus sekali lagi terinspirasi. Suatu saat, andai ada auditor atau inspektorat yang datang untuk memeriksa dan mengaudit hasil kerja saya, akan coba saya jawab :
“Apa urusan anda menanyakan hal itu? Dan bukan hak anda menanyakan hal itu.”

Jika si auditor masih ngeyel, akan saya tambahkan :
“Ibu dan Bapak saya yang mengasuh, mendidik, membesarkan saya saja tidak pernah bertanya, Anda ini siapa? Sama-sama menyusu anggaran negara kok sok-sokan bertanya, urus saja pekerjaan anda sendiri.”
Kalau berani dan bermental baja seperti Pak Edy sih, akan saya jawab begitu.
Tapi kalau tidak berani ya, seperti biasa, sendiko dhawuh, sembari kedua tangan memilin ujung baju atau taplak meja.

Dan karena sikap berani melawan ketidaksesuaian harus menjadi inspirasi, maka saya akan turut membagikan kepada anda, tips untuk menjawab berbagai pertanyaan menyebalkan beserta contohnya. Saya hanya ingin, masyarakat Indonesia mempunyai sikap kuat dan mental liat seperti beliau Bapak Edy.

Jawaban-jawaban atas pertanyaan yang biasanya membuat hati mendidih, pikiran melepuh, dan mata berkaca-kaca. Jawaban atas pertanyaan yang sebenarnya tak layak ditanyakan, dan oleh karena itu lebih tak layak mendapatkan jawaban.

Berikut langsung saja :

1. Kapan Nikah
“Hai.”

“Halo, hai juga.”

“Kapan nikah?”

“Apa urusan anda menanyakan hal itu? Dan bukan hak anda menanyakan hal itu.”

Dengan catatan, bukan pacar anda sendiri atau calon mertua yang bertanya kapan nikah, yha.

2. Kapan lulus.
“Halo.”

“Hai, halo juga.”

Salaman, cipika cipiki.

“Kapan lulus kuliah?”

“Apa urusan anda menanyakan hal itu? Dan bukan hak anda menanyakan hal itu.”

Ini dengan catatan juga, bukan orang tua, atau saudara, atau siapapun penyandang dana kuliah anda yang bertanya. Anda jawab seperti itu pada orang tua, bisa-bisa nama anda di tipe-ex dari kartu keluarga.
Ingat, meski mungkin anda aktifis kampus yang disegani, anda tetap bukan Edy Rahmayadi.

3. Kapan punya anak.
“Apa kabar?”

“Baik. Kamu?”

“Baik juga. Eh, kapan nih punya anak?”

“Apa urusan anda menanyakan hal itu? Dan bukan hak anda menanyakan hal itu.”

Dalam kasus ini tak ada perkecualian terhadap siapapun yang bertanya. Urusan mempunyai anak adalah hak prerogatif Tuhan, tak bisa diganggu gugat. Manusia hanya melakukan enaena belaka, Tuhan yang menjadikannya.

*****
Tiga pertanyaan itu mewakili jenis-jenis pertanyaan menyebalkan yang sebenarnya tak perlu diungkapkan, bahkan dalam sekadar basa-basi percakapan.

Banyak pertanyaan dan hal lain yang bisa dijadikan basa-basi selain tiga pertanyaan diatas, misalnya saja :
1. Kenapa Oreo harus dijilat baru dicelupin?
2. Kenapa Dian Sastro dulu tak jadi penyanyi dangdut?
3. Kenapa lampu motor harus dinyalakan pada siang hari?
4. Kenapa nyamuk menggigit, padahal tak punya gigi?

Dan masih banyak tema serta pertanyaan lain yang lebih manusiawi daripada pertanyaan kapan lulus, kapan nikah, atau kapan punya anak.

Oh iya, mungkin wartawan perlu mengganti jenis pertanyaan serta cara bertanya jika ditujukan kepada Pak Edy berkaitan dengan rangkap jabatan, misalnya :
“Kapan Bapak akan mulai mengajari penerus untuk mampu memimpin PSSI agar sebaik ketika Bapak pimpin?”

Mungkin dengan jenis dan cara bertanya seperti itu, Pak Edy tidak akan tersinggung.

Eh tapi, dari cuplikan video itu kan tidak terlihat Pak Edy tersinggung, marah, atau naik emosinya. Tenang dan tetap biasa saja, hanya nada suara yang meninggi. Sama sekali tidak marah.

Wah, benar-benar idolaque.

*****

Gambar : Tribunnews.com

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

15 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *