FBOA

Ini adalah jenis narsisme pada diri saya —yang paling parah—, dan sekaligus paling absurd.

Jelas saja, secara sepihak saya mengklaim mempunyai sekian fans, penggemar, tanpa ada kejelasan tentang apa yang pantas dari diri saya untuk mengklaim mempunyai fans.

Pintar?
Tentu saja tidak, saya ini masuk kategori goblog level expert.

Baik?
Apalagi ini, saya bukan orang yang baik.

Lucu?
Guyonan saya selalu lebih garing dari gorengan paling garing. Blas ra lucu.

Tampan?
Huueekkk, saya bahkan hampir tidak menyukai cermin.

Alim?
Terkadang saya sholat subuh di waktu dhuha, maka jelas sama sekali tak alim.

Absurditas klaim saya itu lebih berdasar pada pembacaan atas tanda-tanda dan juga gejala. Juga dengan sedikit menggunakan intuisi. Pembacaan atas tanda-tanda dan juga gejala itu pun menggunakan parameter permukaan, dari sikap sekian fans saya itu. Yaelah…

Dengan itu kemudian saya mengambil sebuah kesimpulan, bahwa sekian orang itu ternyata nge-fans kepada saya….

Orang?

Eeeemmmm, bukan sih….huehuehue…

Mereka belum masuk kategori ‘orang’, jika kemudian rujukannya adalah kata dibelakang ‘orang’ tersebut. Misalnya saja orang dewasa, atau orang tua. Bukan.

Mereka masih masuk dalam kategori anak-anak, dan bahkan balita. Bwahahahaa….

Mereka belum masuk kategori ‘orang’, yang sudah bisa menggunakan akal untuk ngefans terhadap orang atau pihak lain diluar dirinya.

Maka jika ada teori atau pernyataan yang mengemukakan bahwa perbedaan orang dewasa dan anak-anak adalah perihal penggunaan akal, serta kadar kejernihan di dalam hatinya, jelas sudah bahwa yang ada pada mereka adalah kejernihan hati tersebut.

Kepolosan. Kejernihan hati, suatu hal yang orang dewasa sudah banyak kehilangan. Orang dewasa atau orang tua sudah lebih banyak menggunakan akal, dan kehilangan kejernihan hati karena terkadang —akal lebih cenderung untuk berbuat akal-akalan—.

Nah, anak-anak itu, entah apa yang mereka rasakan, melalui sinyal dari kejernihan hatinya, sehingga kemudian ngefans kepada saya.

Ah, ini terlalu sepihak. Karena saya hanya menyimpulkan melalui tanda-tanda dan gejala, serta sama sekali tak pernah ada pengakuan dari mereka.

Salah satu diantara tanda yang terbaca oleh saya itu, antara lain bahwa anak-anak itu ‘cukup’ betah dan kerasan mengikuti saya. Bahkan terkadang saya culik untuk pergi seharian tanpa bersama orang tua mereka.

Faiz, member pertama FBOA (Fans Berat Om Anang) bahkan beberapa kali menginap di rumah saya, termasuk ketika bulan Ramadhan dan kemudian ikut makan sahur, tanpa sekalipun mencari ibunya.

Pernah juga beberapa kali ia mengikuti kami (saya dan istri) pergi seharian dari pagi sampai malam, dan tak mau diantar pulang.

Tunggu….hal semacam itu wajar saja kan? Beberapa anak juga begitu. Mengikuti orang lain yang bukan orang tuanya? Selama beberapa hari bahkan beberapa tahun? Ikut kakek dan neneknya?

Iya sih, tapi yang semacam contoh itu bukan ngefans namanya, melainkan pemaksaan. Si anak dipaksa bersama kakek-neneknya karena orang tuanya sibuk bekerja. Pemaksaan sekaligus eksploitasi. Pemaksaan anak dan eksploitasi kakek-nenek. Ups….

Yang namanya ngefans tidak ada pemaksaan, pun juga biasanya tak kemudian intens melakukan kontak fisik secara terus menerus. Kadang-kadang saja, tetapi mendalam. Murni karena dorongan dari dirinya sendiri. Hanya saja dalam kasus ini, tak jelas benar apa yang membuat mereka betah bersama saya, yang kemudian saya simpulkan dan artikan menjadi ngefans.

Lebih dari sekadar betah, dua member militan FBOA bahkan berusaha untuk menjadi semirip mungkin dengan saya. Ajib kan?
Apa yang saya lakukan, mereka hampir selalu ingin meniru dan melakukannya.

Terpujilah, sehingga orang tua mereka pusing tujuh keliling. Bwahahahaa…
Pernah suatu kali Faiz tak mau potong rambut. Karena ia ingin rambutnya panjang dan atau gondrong seperti rambut saya. Saya memang pernah mempunyai rambut gondrong sekira satu tahun yang lalu. Kurangajarnya, dia satu-satunya FBOA yang berani meminta hotwheel kepada saya. Kurang ajar betul anak satu itu.

Faiz adalah anak yang fotonya ada diatas itu bersama saya, dia member pertama FBOA. Itu foto ketika saya sedang merayunya agar mau potong rambut.

Lain lagi dengan Kandra (waktu itu belum genap berusia 2 tahun), segala warna musik akan ia jogeti dengan jogetan yang ia copy sepenuhnya dari jogetan saya ketika ndangdutan. Bahkan jika ia melihat video Baby Shark, maka jogetannya adalah joget dangdut made in Om Anang. Kandra adalah anak yang fotonya ada dibawah bersama saya.

Diantara sekian, memang hanya mereka berdua yang militan. Dan syukur alhamdulillah puja dewa bekicot, saya sukses membuat orang tua mereka pusing.

Laiknya fans, mereka memang tak mempunyai hubungan darah dengan saya. Kecuali jika hubungan darah ditarik garis vertikal sampai pada Mbah Adam.
Mereka hanya anak-anak tetangga saya, dan pentahbisan mereka sebagai FBOA tak lebih juga hanya karena keheranan saya. Tak lebih.

Saudara bukan, kerabat bukan, tetapi entah mengapa anak-anak itu dekat dengan saya.

Padahal, kembali lagi pada poin awal tulisan ini, saya tidak termasuk kriteria ‘om’ ideal. Om ideal yang bisa dijadikan idola. Sama sekali tidak.

Tetapi mungkin kejernihan hati mereka mampu membaca pada frekuensi kelembutan, bahwa sebenarnya saya ini adalah….Batman.

Tentu saja Batman adalah hero, pantas menjadi idola, dan pantas mempunyai fans.

Anak-anak itu belum bisa menggunakan akal laiknya orang dewasa. Jadi sudah barang tentu yang mereka lakukan adalah membaca dengan naluri, intuisi, kemudian menggambarnya dengan kejernihan hati.

Jika harus membuat daftar tentang hal atau pemikiran apa saja dari diri saya yang paling narsis, wagu, absurd, saya akan menempatkan perihal FBOA ini dalam nomor pertama. Bukan apa-apa, semata karena selain dari jarak pandang anak-anak, terutama jarak pandang orang dewasa, saya ini masuk kategori orang gila.

Jadi yang ngefans pada saya sebatas hanya anak-anak itu. Selain mereka —terutama orang dewasa—, akan lebih memilih mendefinisikan saya sebagai….Joker.

Lhoh, tadi katanya Batman? Kok jadi Joker? Terserah-serah, namanya juga orang gila.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *