Filosofi Kehidupan

Banyak frasa, banyak kata, banyak kalimat yang dirangkai untuk menjadi suatu filosofi tentang kehidupan. Pun banyak hal pula yang dilekatkan dengan kata dan atau kalimat juga frasa tersebut. Kehidupan menjadi medan luas untuk untuk diartikulasikan, dirangkum dalam filosofi-filosofi agar terlihat menjadi sederhana.

Tetapi, apakah hidup memang demikian sederhana, sebenarnya?
Ah ya, tergantung tentang bagaimana kita mengambil sikap didalamnya.

Filosofi paling awal yang saya kenal dan ingat mengenai kehidupan, tentu saja adalah “mampir ngombe“. Hidup di dunia tak lebih dari sekadar untuk mampir minum saja. Namanya mampir, tentu saja hanya singkat dan sebentar. Dilihat dari dimensi ruang dan waktu, mampir ngombe memang menjadi filosofi hidup yang demikian mengena. Dalam mampir ngombe, tentu saja tak ada hal-hal rumit dan waktu serta proses yang panjang. Hanya ada kita, dan air. Belum tentu ada gelas dan apalagi kendi atau termos, atau bahkan dispenser. Hanya ada kita dan air, dalam rentang waktu yang terukur dalam maksimal sepuluh tegukan dikerongkongan.

Maka, mampir ngombe seringkali dijadikan suatu eskapisme atau pelarian, bagi mereka yang merasa ‘kalah’ dalam menjalani dinamika kehidupan di dunia. Toh hanya sebentar saja, tak mengapa kalah sejenak di dunia. Begitu kira-kira.

Filosofi kedua yang begitu karib disekitar saya adalah “filosofi kopi“. Itu bukan nama kafe atau warung kopi, tetapi istilah filosofi yang saya kenal mahsyur diantara para penikmat kopi. Kopi hitam tentu saja, bukan kopi susu apalagi kopi manis dengan lebih banyak campuran gula. Filosofi kopi banyak diartikulasikan lebih kurang begini : hidup terkadang adalah kepahitan, yang kita nikmati dengan sukarela dan kesadaran.

Begitulah, meski pahit, toh lebih banyak yang bertahan dan tertawa di dalam kehidupan. Lebih banyak yang mengulang dengan kesadaran, sukarela, mencecap pahitnya dalam lidah meski tak tertanggungkan. Namun dalam pahit itu, ada semacam rasa unik yang tak bisa dinarasikan dengan jutaan kata. Hanya penikmat kopi yang bisa merasakan hal itu, perihal pahit yang berulang. Begitu juga dengan kehidupan, hanya mereka yang bisa menikmati kepahitan itu, yang akan menemukan semacam kebahagiaan. Lantas, apakah saya setuju bahwa kepahitan juga adalah sekaligus kebahagiaan? Tentu saja tidak, tergantung bagaimana asal muasal pahit yang datang.

Hanya saja saya tetap setuju. Bahwa laiknya kopi, ada pahit dalam kehidupan yang dengan sukarela kita teguk berulang.

Filosofi ketiga yang juga karib dengan saya adalah “filosofi teh” Saya tahu dari sebuah tulisan bak truk. Kira-kira begini tulisannya : Ojo ming ngopi terus, kadang yo ngeteh. Ben reti nek urip kuwi sak liyane pahit yo sepet. (Jangan ngopi terus, kadang juga minum teh. Biar tahu kalau hidup itu tidak hanya ada pahit tetapi juga ada sepet).
Saya kurang tahu apa padanan kata sepet itu dalam bahasa Indonesia. Yang jelas, saya juga menganggukkan kepala ketika membaca tulisan tersebut disuatu waktu.

Hidup memang terkadang tidak hanya pahit, melainkan juga sepet. Sepet itu bagi saya lebih dekat pada rasa getir. Maka cocoklah jika ada frasa : pahit getir kehidupan.

Anda tim kopi atau tim teh?????

Selanjutnya tentu saja adalah filosofi yang sedang tren saat ini, “filosofi sepeda“. Yang paling dekat dengan filosofi sepeda tentu saja : ra kuat tuntun.

Bagi penganut filosofi ini, bersepeda adalah tentang mencapai tujuan. Entah dengan terus mengayuhnya, atau terkadang menuntunnya. Kalau ketemu tanjakan terjal, dan sepeda tak lagi bisa dikayuh atau lutut terasa lumpuh, ya tuntun saja sepedanya. Yang penting tetap sampai tujuan, kira-kira begitu.

Filosofi sepeda mengajarkan banyak hal, bahwa hidup memang terkadang bukan seberapa cepat kita menjalaninya, tetapi juga tentang bagaimana kita didalam proses menjalani tersebut. Terkadang, terlalu cepat pun juga tak baik. Misalnya : terlalu cepat merencanakan dan membidik masa depan.
Masa yang sangat jauh dan sebenarnya diluar jangkauan manusia untuk merencanakannya, pun jika masa depan itu hanya satu atau dua detik ke depan.

Bisakah kita memastikan tetap hidup dalam satu atau dua detik selanjutnya dalam kehidupan kita, dihitung misalnya dari helaan nafas paling akhir sebelum memutuskan untuk merencanakan masa depan? Saya kira, tidak.

Sepeda mengajarkan untuk tidak tergesa, agar kita menikmati proses dalam tiap kayuhan, atau bahkan tiap langkah ketika sepeda kita tuntun dengan terpaksa. Tetapi, bukankah memang lebih baik untuk tetap perlahan maju, daripada memilih untuk berhenti dan menyerah ditengah jalan?

Yang terkahir ingin saya tuliskan disini mengenai filosofi kehidupan, meski sebenarnya masih banyak lagi filosofi lain, adalah : misuh seperlunya, belajar selamanya.

Bagi saya, hidup dan kehidupan layak dihiasi dengan misuh serta pisuhan. Seperlunya saja, sekira hidup dan kehidupan terlampau dalam menyakiti kita. Ah ayolah, jangan perlakukan hidup dan kehidupan selayaknya raja. Tanpa kita, mereka tidak akan bermakna.

Tetapi ya misuh seperlunya saja, selebihnya adalah belajar selamanya. Bagi saya, hidup dan kehidupan adalah media untuk belajar. Selamanya, sampai ketika suatu saat kita berpisah dengan mereka. Tak ada ruang untuk tidak belajar di dalam kehidupan. Termasuk belajar untuk memahami bahwa kita dan kehidupan adalah dua entitas berbeda, yang saling melengkapi. Kalau kita memahami perihal perbedaan itu, tentu saja kita akan menikmati setiap hal yang datang dan menimpa. Menikmati belum tentu menyukai, tetapi tentu saja menikmati jauh lebih elegan daripada sekadar menyukai. Mungkin kita tidak suka terhadap suatu hal kurang menyenangkan yang hadir dalam kehidupan, tetapi karena kita menikmatinya —maka tak ada ruang untuk tidak bahagia—.

Kehidupan layak untuk dipisuhi, selayak baginya untuk kita rangkul dan peluk seperlunya. Seperlunya saja, karena waktu selebihnya adalah untuk kita belajar. Termasuk belajar untuk tidak takut berpisah dengan kehidupan. Ya ya ya, mulai menakutkan?

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

324 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *