Gampang Panas

Kemarin sore [6/2/2020] dalam perjalanan dari Semarang menuju Piyungan, saya mendapati hal menarik. Yaitu tentang beberapa pengendara motor yang ‘gampang panas’.

Gampang panas yang saya maksudkan adalah bahwa beberapa orang itu mendadak memacu motornya dengan kencang, ketika saya mendahuluinya dengan kencang. Begini, setiap kali pergi-pulang dari Semarang ke Piyungan, ataupun sebaliknya, saya selalu memacu motor dengan kencang.

Saya sendiri memacu motor dengan kencang bukan karena ingin kebut-kebutan, tetapi murni karena mengejar waktu. Saya mematok waktu untuk tak lebih dari dua jam dalam sekali perjalanan itu. Setiap berangkat menuju Semarang, saya mematok waktu perjalanan agar tak telat ketika harus mengisi daftar hadir pagi. Setiap pulang dari Semarang, saya mematok waktu agar tak terlalu malam sampai di Piyungan.

Jadi, bukan karena saya memang ingin kebut-kebutan.

Hanya saja, kondisi jalan memang memungkinkan saya untuk memacu motor [Bleky] dengan kencang. Saya terbiasa memacu dengan kecepatan 100-120 kilometer per jam.

Mungkin saja, beberapa orang itu kemudian merasa panas.

Yang pertama, di ruas jalan Ungaran-Bawen, seorang pengendara motor Honda Megapro tiba-tiba dan menyalip saya dengan kencang setelah saya sempat menyalipnya juga dengan cukup kencang. Bagaimana saya tahu dia panas? Karena dia menyalip dalam posisi mepet dari kendaraan saya. Padahal jalan dalam kondisi tak terlalu ramai dan memungkinkan untuk saling menyalip dengan jarak aman antar kendaraan. Dan satu lagi, setelah menyalip saya, dia mengurangi kecepatan. Seolah menunggu saya, dan kemudian ketika saya sudah dalam posisi sejajar atau sedikit di depan dia kembali menambah kecepatan. Seperti ingin mengajak balapan.

Tentu saja saya tidak meladeninya. Bwahahahaa….

Selain karena jalanan mulai tak terlalu ramai selepas kompleks pabrik Bawen, kondisi jalan juga mulai naik atau tanjakan. Bleky, motor tua saya itu, adalah raja tanjakan. Setting final gearnya adalah untuk mengail kecepatan dalam jarak pendek, dan tentu saja sangat kuat dalam kondisi jalan menanjak. Si pengendara Megapro akhirnya bisa ‘mengalahkan’ saya selepas resto Dusun Sumilir Bawen. Ketika jalanan sudah mulai menurun.

Si pengendara Megapro terus memacu kendaraannya dengan kencang meski jalanan menurun. Sedangkan saya dan Bleky tua memilih untuk mengurangi kecepatan ketika jalanan mulai menurun. Semata hanya agar masih dalam batas aman ketika tiba-tiba melakukan pengereman. Sedang si pengendara Megapro saya biarkan ‘menang’.

Yang kedua, ketika mulai masuk jalan ringroad Salatiga, saya kembali menemui pengendara panas. Seseorang yang mengendarai Satria FU. Setelah saya salip dengan kecepatan sekira 120 kilometer per jam, dia menyalip saya ketika saya mengendurkan uliran gas karena ada truk yang berjalan pelan.

Bagaimana saya tahu kalau dia juga panas? Karena sama dengan pengendara Megapro sebelumnya, dia seolah menunggu saya. Begitu saya dalam posisi sejajar, dia menambah kecepatan. Beberapa kali seperti itu. Akhirnya si Satria FU diberikan pelajaran berharga oleh Bleky. Pada jalanan menanjak pada ruas ringroad itu, Bleky ingin berlari dengan kecepatan 110 kilometer per jam, dan si pengendara Satria FU tidak mampu mengejar.

Baru ketika jalan kembali menurun, dan kami menurunkan kecepatan, si pengendara Satria FU bisa mendahului.

Namun selepas itu, pada ruas jalan Salatiga-Boyolali, beberapa kali Bleky mengajak untuk memberi pelajaran pada Satria FU itu. Beberapa kali kami mendahului dengan kencang, dan berbalik seolah menunggu ketika rival berada jauh dibelakang. Beberapa kali seperti itu, dan kondisi jalan sangat memungkinkan. Baru selepas jalan arah Simo Boyolali, saya dan Bleky kembali normal, dan pengendara Satria FU itu kami biarkan ‘menang’.

Sebenarnya masih banyak lagi selain dua pengendara itu yang mengajak balapan dan terpancing panas. Tetapi hanya dua pengendara itu yang mempunyai tekad kuat sepanjang jalan Ungaran-Boyolali.

Terakhir di ruas jalan Solo antara Klaten-Prambanan. Seorang pengendara Yamaha N-Max terlihat sangat bernafsu untuk melibas Bleky. Pun gejalanya sama dengan dua pengendara pertama. Menyalip dengan posisi mepet, dan seolah menunggu ketika sudah berada di depan.

Awalnya saya tak meladeni, tetapi karena saya mengejar waktu agar tak kehujanan ketika sampai dirumah, maka saya seolah meladeninya. Saya pacu Bleky sampai kecepatan 135 kilometer per jam. Dan tentu saja tak perlu saya ceritakan dimana pengendara N-Max itu berada ketika saya dan Bleky berlari dalam kecepatan sekian itu.

Banyak sekali sebenarnya pengendara yang gampang panas semacam itu. Dan kalau saya ceritakan satu per satu bisa membutuhkan waktu beberapa jam untuk menuliskan.

Kalau saya sih, tak mengapa kalau ada pengendara panas semacam itu.

Lebih bahaya lagi, kalau ada yang gampang panas dalam hal lain.

Misalnya, mereka yang gampang panas karena melihat orang lain banyak uang, lantas korupsi. Itu bahaya….

Atau…mereka yang gampang panas mengikuti berita virus Covid-19 kemudian memborong dan menimbun masker. Mau makan masker po…?

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *