Garam Saja

Tak perlu yang rumit, dan beraneka macam, atau yang ruwet-ruwet dengan berbagai macam teknik serta aturan. Cukup garam saja, dan sudah akan mencukupi untuk sekadar memenuhi tuntutan lidah akan rasa makanan.

Cukup dengan garam saja bahan makanan apapun akan menjadi ‘layak’ untuk dicecap pada lidah. Anda boleh tak memakai lada untuk memasak suatu bahan makanan. Anda boleh tak memakai bawang. Anda boleh tak memakai ketumbar, pala, jahe, atau juga bumbu lainnya. Tetapi anda tidak boleh mencampakkan garam.

Garam adalah kuntji. Garam adalah ibu dari semua bumbu, bapak yang membuahi semua rasa.

Tanpa garam makanan akan menjadi hambar, dan masakan tak bisa dinilai bahkan untuk sekadar layak telan.

Tetapi sekaligus garam adalah bumbu yang paling banyak tak disebut, ketika seseorang menyebutkan detail bumbu atas karya masakannya. Saking biasanya, saking wajibnya. Tanpa disebut pun, ‘seharusnya’ sudah ada garam. Jadi kalau ada orang tidak menyebut ada garam di dalam bumbu masakannya, itu bukan karena ia tak memakainya. Justru karena garam sudah menjadi bagian integral dan tak terpisahkan dari teknik memasaknya. Garam sudah melekat, dan oleh karena itu ‘bolehlah’ untuk tak terlihat.

Sebegitu relanya garam untuk tak disebut, atas kontribusi besarnya bagi keseluruhan makanan atau masakan. Ia begitu rela untuk mengalah demi menampilkan pemain utama. Ia memilih untuk minggir, menepi, demi memberi peluang bagi yang lain. Mungkin saja, garam tak lagi membutuhkan pengakuan.

Ataukah memang garam tak pantas untuk diakui, dalam keseluruhan masakan?

Ia tak boleh dominan. Bukankah tak boleh ada makanan yang terlalu asin, karena terlalu banyak garam?

Tetapi mungkin disitu letak kebesaran hati sebentuk zat bernama garam. Ketika keseluruhan masakan yang ia ada didalamnya, terasa enak, ia rela untuk tak disebut.
Namun ketika keseluruhan masakan terasa sedikit saja asin, ia akan disebut untuk pertama kali.

Misalnya saja kita sedang menikmati seporsi sup ikan. Ketika sup tersebut terasa enak, maka kita akan membicarakan kuah yang lezat atau ikan yang empuk dan terasa pas dalam keseluruhan prosesnya, tanpa menyebut garam.
Namun ketika sedikit saja ikannya terasa asin atau bahkan kuahnya terasa asin, zat pertama yang akan kita sebut sebagai penyebabnya, adalah garam.

Sampai disini, kiranya garam adalah zat dengan penerimaan keadaan atau kondisi keberadaannya, berada dalam tingkat yang paling sublim.

Ia berpengaruh, namun memang tak boleh terlihat berpengaruh.
Disisi lain, ia akan siap untuk pertama kali menjadi kambing hitam, ketika keseluruhan masakan tak sesuai harapan.

Jika ada satu pertanyaan dari zat bernama garam, yang bisa diajukan adalah :

“Apakah anda termasuk orang yang melihat sesuatu hanya pada hasil akhir atau pada tokoh utamanya?”

Dalam keseluruhan masakan, jika terasa asin, apakah anda akan langsung menyalahkan garam sebagai biang keroknya?
Jika masakan terasa enak, apakah anda akan langsung memuji bahan utamanya?

Ah ya, pepes ikan ini terasa enak. Ikannya empuk dan semua bumbunya pas.

Ah ya, pepes ikan ini terlalu asin. Terlalu banyak garam di dalamnya.

Anda, termasuk yang mana?

Apakah anda termasuk orang yang melihat hanya pada satu titik fokus mengenai keberhasilan dan kegagalan?
Ketika berhasil, anda melihat hanya pada hasil akhir dan satu faktor utama?
Ketika gagal, anda mencari suatu hal atau pihak lain yang patut untuk disalahkan?

Silahkan untuk dijawab, kemudian juga sedikit saja lakukan kontemplasi, kenapa kita mudah menyalahkan pihak lain atas suatu kegagalan?

Silahkan dijawab juga, ketika ada suatu keberhasilan, kenapa kita cenderung mendewakan keberadaan satu kapten, pemimpin, dan bukannya berbicara mengenai kolektifitas serta kerjasama?

Apakah memang kita cenderung bergerak sebagai suatu individu, bangga dengan diri sendiri, dan cenderung mengabaikan orang lain?
Apalagi katakanlah, ketika kita berada dalam posisi penting, dan kita adalah poros keberhasilan dalam suatu tujuan.

Kita akan cenderung membusungkan dada, dan melupakan peran serta orang atau pihak lain.

Baru ketika ada kegagalan dalam proses yang sedang kita jalani, kita akan mencari pihak-pihak yang membuatnya gagal, dan enggan menyalahkan diri sendiri untuk kemudian meminta maaf serta melakukan koreksi.

Nampaknya untuk hal seperti ini, kita satu derajat berada dibawah garam. Kita kalah oleh sebentuk zat bernama garam. Dan kita enggan mengakui bahwa garam satu derajat lebih unggul daripada kita.

Garam tak mempermasalahkan ketika namanya tak disebut atau dipuja ketika tujuan menemui keberhasilan.
Sekaligus garam pun mau menerima konsekuensi ketika harus menanggung beban ketika tujuan membentur kegagalan.

Tetapi karena itulah perbedaan manusia dengan garam. Manusia memang tak harus seperti garam, dan garam pun jangan sampai menjadi seperti manusia.

Garam biarlah tetap dengan sifatnya, dan manusia biar saja juga tetap dengan kelakuannya.

Bisa hancur dunia kuliner dan masakan jika garam tiba-tiba bersifat serta bersikap laiknya manusia.

Bisa terbengong-bengong juga bulan, bintang, serta matahari jika menemui manusia mempunyai sifat serta sikap seperti garam.

Tetapi setidaknya saat ini, ada juga manusia yang menghargai dan mengakui keberadaan garam dengan sedemikian baiknya. Menempatkan garam dalam posisi yang baik serta terhormat. Mengakui bahwa garam adalah sumber dari segala baik buruk masakan, dan dengan itu memberikan penghormatan serta penempatan yang semestinya.

Jika anda sering membuka Instagram ataupun Youtube, pernahkah anda menemui seorang chef yang menaburkan garam dengan signature gaya yang seolah sudah terpatenkan. Ia menaburkan garam dalam setiap akhir penyajian semua olahan masakannya. Dengan penuh gaya ia menaburkan garam, menempatkan garam dalam sorot lampu panggung utama.

Mungkin memang hanya Nusret ‘salt bae’ yang mampu menempatkan garam dalam letak yang terhormat.

Kita? Kapan-kapan saja kali ya….

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

13 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.