Gareng, Dan Puncak Kerinduan

Tempat ini masih termasuk Semarang atas, seharusnya udaranya sejuk, cenderung dingin. Setidaknya itu yang sekira dua belas tahun yang lalu saya rasakan. Toh ternyata sekarang sama saja. Dengan Semarang bawah, yang kalau siang hari panasnya bisa dijadikan sebagai media try out sebelum ke neraka.

Malam itu saya sedang duduk, di depan kamar hotel, di sebuah taman yang cukup rapi namun tak cukup indah. Hotel ini memiliki model kamar berjajar, langsung masing-masing menghadap pada halaman. Bukan hotel dengan bangunan bertingkat yang pintu kamarnya saling beradu muka.

Kamar gratisan tempat saya terpaksa menginap tepat menghadap pada bangku taman, yang terbuat dari semen. Dengan bentuk kotak yang cukup untuk duduk tiga orang berhimpitan.

Malam itu meski adzan Isya sudah lama berlalu, udara masih terasa hangat, sedikit panas. Hampir tak ada angin, apalagi udara dingin, selain beberapa hembusan yang tak cukup untuk membasuh lengas pada kepala.

Saya duduk menghadap pintu masuk area kamar saya berada. Hotel ini terdiri dari dua lokasi, yang dipisahkan oleh sebentuk jalan kecil beraspal menuju perkampungan. Sengaja saya duduk menghadap pintu masuk, agar sembari bisa melihat lalu lalang peserta latsar CPNS yang menjadi tanggung jawab saya. Ah, bukan tanggung jawab sebenarnya, tetapi tanggungan. Terhadap diri saya sendiri saja saya masih kurang bisa bertanggung jawab, apalagi terhadap 240 orang yang baru saya kenal. Bweeehhh…

Sembari sedikit terkantuk saya nikmati sebatang kretek yang akhir-akhir ini jarang saya sentuh. Udara panas membuat saya tak berselera mengepulkan asap tembakau. Dalam serbuan kantuk yang semakin gencar, sepintas saya melihat sebentuk manusia melangkah dengan diterangi temaram lampu jalan. Langkah yang tak asing, namun sekaligus seperti sudah sekian lama tak saya lihat. Sebentuk manusia yang dari langkah dan perawakannya, tak asing dalam ingatan.

Gareng. Bajingan.

Bedebah itu mengeluarkan senyum khasnya sembari terus melangkah menuju tempat saya berada. Tangan dan mulutnya terlihat asyik menikmati sebatang rokok. Langkahnya terlihat ringan meski harus dengan usaha lebih, karena kaki pincangnya.

Saya lupa kapan terakhir kali bedebah itu datang menemui saya. Kalau tak salah ingat, sudah sekira satu bulan yang lalu. Tepat sebelum saya berangkat ke Semarang.

Gareng termasuk salah seorang yang tidak menyarankan saya untuk pergi, namun juga tidak melarang saya ketika beranjak melangkahkan kaki. Ia hanya berkali bertanya waktu itu, sebelum kepindahan itu, apakah saya sudah benar-benar mempertimbangkan semuanya.

“Aku wis urip suwe banget, ribuan tahun. Bermacam manusia sudah aku ikuti, sudah aku kenali. Termasuk pola pemikiran dan motivasi yang sekarang sedang menjangkitimu. Lebih kurang, polanya sama dengan beberapa orang yang sudah aku kenal terlebih dulu daripada kamu.” Katanya sekira sebulan yang lalu, sembari kami menikmati kopi di teras rumah Piyungan.

“Yang kamu kenali dan kamu memakainya untuk menilai sikap dan keputusanku ini, adalah pola permukaan yang memang bersifat obyektif dan berlaku universal. Namun yang harus kamu tahu Reng, terkadang pola itu menipumu, mengaburkan pandanganmu, menciptakan ilusi untuk kemudian secara sepihak menilai orang lain. Karena ketika seseorang mengambil keputusan, itu sangat bersifat subyektif. Meski dalam pola yang sama secara teori dan kebiasaan umum, tetapi titik koordinat pertimbangannya belum tentu sama.”

Kini sebulan berlalu, dan penceng keparat itu menemui saya lagi. Dengan wajah yang semringah. Entah setan mana yang sedang menempel di otaknya.

“Ngopo Reng? Kok tiba-tiba datang aja, seperti ada yang aneh.” Terpaksa saya mengeluarkan pertanyaan dengan nada curiga.

“Lho kan cah asu. Diparani kanca kok sambutane koyo diparani musuhe. Kobis!” Gareng mendelik dengan mata julingnya. Lucu.

Entah kenapa selalu saja saya merindukan penceng keparat itu, meski pada tiap percakapan selalu berakhir dengan saling memaki. Atau karena Gareng adalah satu-satunya makhluk yang dengan ikhlas dan sukarela selalu bersedia saya pisuhi.

“Kerasan cah?” tanyanya sembari mengambil tempat duduk tepat disebalah, dalam satu bangku yang sama.

“Kerasan apane?”

“Yo uripmu sebulan terakhir iki nyet.” jawabnya ringan sembari masih saja bibir perotnya plengah-plengeh.

“Nek betah trus ngopo? Nek ora yo ngopo?”

“Nah kan cah asu. Jangan membiasakan diri menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.”

“Reng, kamu boleh mengenal ribuan orang selama ribuan tahun. Kamu boleh punya bermacam teori dan landasan berpikir untuk menilai orang dari pengalaman-pengalamanmu. Boleh jadi kamu sudah lebih lama hidup, dan lebih lama mengenal bermacam manusia. Tetapi jangan lupa, aku bisa langsung mengenalmu dengan hanya berbincang sembari menandaskan secangkir kopi waktu itu. Tentu kamu belum lupa?”

“Ah…tai.”

Gareng terdiam, dan kami kembali asyik dengan rokok di tangan masing-masing. Sedikit angin terasa berhembus, masih angin yang terasa hangat.

“Aku hanya tak ingin ada penyesalan terbersit sedikit pun, di dalam pikiranmu.” Gareng kembali membuka percakapan.

“Tak ada ruang-ruang untuk penyesalan. Dan sekaligus pernyataanmu itu, membuktikan kalau pada akhirnya kau tak pernah mengenalku.”

“Bwahahahaha…aku selalu tahu apa yang ada di dalam hatimu. Itu tadi pernyataan dialektika saja. Agar kau tak lupa kalau aku selalu mengawasimu.”

“Cih…sok-sokan.”

“Bukan sok-sokan. Itu kenyataan. Anak kemarin sore sepertimu mana paham.”

“Dan makhluk lumutan dan karatan sepertimu mana masih bisa merasakan.”

“Kobis.”

“Wis kono ndang lungo Reng, aku ngantuk.”

“Ngusir iki?”

“Lhaiyo.”

“Ga ada kopi?”

“Ada.”

“Endi?”

“Kuwi neng warmindo ngisor kuwi.”

“Bajilak, matamu kuwi.”

“Lhah, jare golek kopi?”

“Kowe ra nggawekne? Koyo biasane?”

“Iki neng Semarang su, udu neng Piyungan.”

“Lha nek raono kopi, ngopo aku marani dapurmu?”

“Lhaembuh, makane kono ndang minggat. Aku meh turu.”

Saya tinggalkan saja Gareng sendirian. Mulutnya terdengar terus meracau dan melolong, bahkan setelah pintu kamar saya tutup rapat, dan mata sudah terpejam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *