Gareng Kehilangan

Mungkin dunia memang sedang bergerak menuju tatanan baru. Tatanan yang meski tak benar-benar baru perangkatnya, tetapi baru dalam mekanisme operasionalnya.

Yang dulu diatas dan mengatur, mungkin sedang bergerak menuju bawah untuk gantian diatur. Yang dulu dibawah dan diatur, mungkin secara sadar ataupun tidak juga sedang bergerak keatas untuk ganti mengatur.

Begitulah, silih berganti.

Dimulai dengan tukang bubur yang naik haji. Dulu, mana ada tukang bubur yang naik haji? Sebentar lagi mungkin menyusul tukang kerupuk naik haji, tukang cilok naik haji, tukang sayur keliling naik haji —dan PNS seperti saya akan tetap naik sepeda kumbang seperti Guru Oemar Bakri—.

Ah ya, intermeso sedikit. Itu karena saya benar-benar heran dengan apa yang sedang terjadi ketika saya menuliskan ini. Gareng (anda ingat Gareng? Teman saya?) yang itu, belum ada Gareng yang lain. Masih Gareng yang sama. Gareng yang sok tahu, sok sakti, sok kenal, dan sok bijaksana.

Ada apa dengan Gareng?

Tiba-tiba saja dia datang mencari saya setelah beberapa bulan memang kami tidak bersua muka. Yang lebih mengherankan ; dia berkata kalau merindukan saya.

Sekira tadi selepas Isya’, ketika saya sedang menikmati malam minggu syahdu berteman segelas kopi dan beberapa batang rokok. Saya sedang duduk di lincak teras rumah, yang mengeluarkan bunyi berderit tiap kali saya menggeser posisi duduk. Entah untuk membuang abu sisa rokok pada asbak, atau meraih cangkir kopi yang entah kenapa terletak agak jauh dari tempat saya duduk.
Gareng tiba-tiba muncul dengan wajah mendung, menatap saya dengan sorot marah berbalut iba, kemudian dengan lirih berkata,

“Aku kangen kowe nyet.”

Dia menyelesaikan kalimatnya sembari mengambil tempat duduk tepat disebelah saya. Biasanya dia akan mengambil tempat duduk pada sisi yang berseberangan, dan kami akan memulai perbincangan sembari sambil saling memuncratkan ludah ketika topik mulai memanas.

Tetapi tidak kali ini, dia mengambil tempat duduk tepat disebelah saya, menimbulkan bunyi derit yang nyaring pada lincak bambu yang menopang tubuh kami.

“Rokok.” katanya.

“Itu ambil sendiri.” saya menjawab tanpa menoleh kearahnya.

“Jangan menjadi orang yang mudah menghina dan menyepelekan orang lain meski kamu mendasarkan itu dari pengalaman. Tak mesti pengalaman memberikan gambaran obyektif, walaupun untuk satu hal yang sama.” Gareng menjawab panjang dengan wajah yang kini tertunduk. Saya menolehkan pandangan kearahnya, dan terlihat dua bungkus rokok pada tangan kirinya.

“Untukku?” Saya bertanya dengan nada pelan, sedikit merasa bersalah, meski juga berbalut rasa heran.

“Ya.” Gareng menjawab dengan nada yang masih pelan, juga dengan wajah yang masih tertunduk.

“Tumben.” tetap saja saya harus menghina penceng keparat itu. Hahahaha..

“Ah, cen cah bangsat.” sedikit cerah wajahnya, dan tak lagi tertunduk.

“Tumben bawa rokok? Tumben juga pakai acara kangen?”

“Ra entuk po?”

“Ya boleh to yoo, hanya saja….” saya tak menyelesaikan kalimat, dan memilih mengambil dua bungkus rokok ditangannya. Sebelum dia berubah pikiran dengan maksud pemberian rokoknya.

“Apa?” Heran, tak biasanya juga dia heran dengan kalimat yang tak saya teruskan.

“Enggak.” saya tak meneruskan kalimat. Lebih memilih membuka sebungkus rokok dari dua yang diberikan Gareng. Sebenarnya, apa alasan penceng keparat itu datang mencari.

“Kamu penasaran to kenapa aku datang mencari?” Gareng bertanya lirik, namun seperti biasa dia tahu apa yang sedang saya pikirkan.

“Iyeesss. Ya cepet ndang bilang.”

“Ra sopan.” suara Gareng terdengar merangkak naik.

“Maksudnya?”

“Ya mbok ditawarkan dulu barang air putih kalau tidak mampu membuatkan kopi.”

“Hasshhh.”

“Kamu mulai kehilangan dirimu sendiri.”

“Kopi po teh Reng?”

“Kopi, tanpa gula.”

“Tumben, biasanya sedikit gula.”

“Hidup tidak berdasar pada kebiasaan dan tumben-tumbenan.”

“Haiyah.” saya segera beranjak dari lincak, meninggalkan bunyi derit yang cukup keras.

Memang tumben, biasanya Gareng paling menyukai kopi dengan sedikit gula. Tidak meninggalkan jejak pahit yang keterlaluan, tetapi juga tidak menghilangkan rasa dasar dari kopi. Saya hanya mempunyai kopi Kapal Api Spesial, tak ada yang lain. Sembari menunggu air mendidih, saya memilih untuk meluangkan ingatan, mengingat kapan terakhir ketemu Gareng. Dalam satu tahun terakhir, kami jarang bertemu.

“Nyoh Reng, kopi tanpa gula.”

“Kapal Api?”

“Lhaiya.”

“Nah, kamu kehilangan satu poin penting dan momentum terbaik dalam hidupmu. Padahal, kamu pernah sampai pada kondisi yang menyenangkan itu. Salah satunya, kamu kehilangan momentum untuk banyak-banyak menikmati kopi.”

“Pernah sampai apakah mesti tak boleh beranjak pergi lagi?”

“Betul.”

“Nah.”

“Tetapi manusia tentu saja harus mempunyai filter untuk dapat memilih dan memilih. Kapan dan dimana ia harus tetap tinggal, dan kapan harus meninggalkan.”

“Kopimu Reng.” gusar juga rasanya mendengar ocehan Gareng.

Gareng mengambil gelas kopinya, lincah kembali berderit.

“Nang, aku hanya kasihan padamu.”

“Maksudnya?”

“Sudahkah kamu mendapat apa yang kamu cari? Pengalaman-pengalaman dan apalah yang menurutmu ada dan lantas kamu jadikan alasan dan pijakan langkahmu.”

“Kita sudah pernah membicarakan ini.”

“Dan sampai saat ini kamu masih gusar, ragu atas langkahmu.”

Sebatang rokok kembali saya ambil dari bungkus yang telah terbuka, menyulutnya, menimbulkan bunyi kemritik ringan serta melahirkan percikan api. Asap terlihat mengepul, dan kemudian larut bersama angin yang berhembus tak terlalu kencang.

“Bukankah memang manusia adalah tempat tinggal paling nyaman bagi keragu-raguan?”

“Sekarang kamu memang menyedihkan.”

“Ah, dan kowe tetep wae cerewet Reng.”

Tetapi….apa yang dikatakan Gareng banyak juga benarnya. Pencarian manusia, dan segala hal yang menggagalkannya. Ah…

“Tapi aku tahu segala pembelaanmu atas Langkah-langkah yang penuh keraguan itu.” Gareng berkata sembari nyengir, memperlihatkan barisan giginya yang rapi dibalik mulut dan bibir penceng.

“Ga usah sok tahu.”

“Kamu akan bersembunyi dibalik kredo ini ; yang terpenting bagi manusia adalah proses dan pencarian dalam hidupnya, bukan hasil dan tujuan akhirnya.”

“Itu tahu.”

“Dalam kondisi normal dan ideal, kredo itu bisa diberlakukan. Tetapi dalam kasusmu, itu hanya eskapisme atau pelarian. Pelarian dari hal-hal yang tak bisa kamu tanggung akibatnya, dari sebab yang sudah kamu mulai dengan banyak keraguan.”

“Tai.”

“Dan sekali lagi, aku benar kan? Oleh karena itu, jujur saja, aku merindukanmu.”

“Cerewet.”

“Aku merindukanmu yang selalu gagah dan pongah, meski berada dalam situasi paling sulit yang pernah kamu hadapi. Itu dulu, ketika kamu tak pernah ragu dalam langkahmu. Sekarang, kamu limbung. Karena langkahmu tak lagi mantab dan penuh keyakinan. Banyak keraguan yang menggelayut, karena kamu tak lagi mendasarkan semua keputusan dengan kejernihan. Kamu…berubah.”

“Dan manusia adalah rumah terbesar bagi perubahan.”

“Kamu mulai melantur.” dan Gareng tertawa keras, sekeras-kerasnya. Bangsat betul, kopet.

“Perubahan yang dilakukan manusia, tidak terutama karena kesadaran. Tetapi lebih banyak karena keterpaksaan, dan juga karena kesalahan. Terutama karena salah langkah, dan salah perhitungan. Karena salah berhitung, baru mereka melakukan perubahan-perubahan. Tak usah aku beri contohnya, kamu tentu juga tahu.” Gareng melanjutkan kalimatnya, dan kembali melanjutkan tawanya.

Mau membantah apalagi? Gareng selalu tahu apa yang ada dalam pikiran, dan tentu saja yang terpenting, Gareng selalu tepat menarasikan segala hal yang sedang terjadi dalam hidup saya.

Malam semakin larut, merangkak menuju pagi. Dan gurat garis kerinduan semakin dalam.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)