Gareng Mencari Jawaban

Tak jelas benar tujuannya kali ini. Kadang ia ke utara, kadang ke selatan, kadang ke barat, kadang ke timur, kadang ia berhenti tanpa melakukan apa-apa dalam waktu yang lama. Hanya diam saja mematung, dan terkadang seperti orang gila. Pernah suatu kali, ia berhenti berjalan tepat ditengah jalan sebuah persimpangan. Alhasil, bunyi klakson kendaraan berteriak-teriak menyuruhnya minggir. Begitu juga satu dua suara dari mulut pengendara meneriakinya orang gila. Ia bergeming, berhenti, matanya menatap lurus tanpa jelas benar apa yang ditatapnya. Tak kosong pandangan itu, membingungkan.

Kali ini, aku yang menguntitnya. Kuikuti kemana saja Gareng keparat itu pergi. Dan sepertinya, ia tak menyadari kali ini bahwa ia sedang kuikuti. Ataukah ia berpura-pura tidak tahu aku mengikutinya? Bisa jadi.
Tetapi setelah sekian lama kami saling mengenal, aku bisa mengambil suatu langkah tertentu untuk menguntitnya, tanpa ia tahu bahwa aku sedang menguntit.

Kadang kekeluarkan kamera untuk mengabadikan momen langka ini. Seperti ketika ia ditabrak becak karena berjalan tak memperhatikan kiri dan kanan. Ketika ia tersungkur dan dipisuhi banyak orang, aku tak menolongnya, dan lebih memilih untuk mengambil gambar dan kejadian monumental itu. Gareng tertabrak becak. Modyar…

Namun tetap saja ada terbersit sedikit rasa kasihan, ketika suatu kali kudapati Gareng berhenti didekat penjual gorengan. Sembari memegang perutnya, ia menatap gerobak penjual gorengan yang menampilkan tatanan tahu susur, tempe mendoan, dan bakwan dalam formasi yang menggoda untuk membeli. Tapi Gareng hanya menatapnya, mengelus perutnya, kemudian berlalu pergi melanjutkan berjalan. Mungkinkah ia lapar?
Ah, Gareng tak pernah kepincut makanan bahkan ketika sebenarnya berhari-hari ia belum makan. Makanan dan segala rupa budaya serta aktifitas yang berkaitan dengan seremonial nguntal itu, bagi Gareng dianggap tak lebih dari sekadar sandiwara. Sandiwara ya sandiwara saja, tak ada esensi yang berguna bagi hakikat kemakhlukannya. Maka aku tahu bahwa ia takkan kepincut gorengan.

Tapi kenapa ia mengelus perutnya?

Akhirnya kutepis juga perasaan kasihan yang sempat timbul itu. Penceng keparat seperti Gareng tak usah dikasihani. Lagipula justru ia akan marah-marah ketika aku tahu sedang menyimpulkan suatu rasah kasihan terhadapnya.

“Kalau kamu belum bisa mengasihani dirimu sendiri, jangan pernah terpikir untuk berinfak rasa kasihan terhadapku. Dasar manusia manusia fakir perasaan. Pekok!” katanya.

Maka aku hanya bisa melongo mendengar serapahnya. Makhluk satu itu memang tak pernah bisa sedikitpun diberikan rasa kasihan.

Dan kali ini aku benar-benar hampir khilaf untuk kesekian kali merasa kasihan kepadanya. Kenapa ia hanya berjalan tanpa tujuan? Dan andai tanpa tujuan, kenapa pandangannya selalu padat dan penuh serta tajam. Tak sekalipun ia terlihat menatap kosong ke depan. Pandangannya selalu berisi tentang nyala dan harap, meski tak jelas benar apa yang ia harapkan.

Sekali waktu aku melihatnya sedang ‘berbincang’ dengan seekor anjing. Makhluk itu sudah benar-benar gila.
Gareng terlihat berjongkok dan mulutnya berkomat-kamit terlihat berbicara dengan anjing itu. Dan yang membuatku heran, anjing itu terlihat menganggukkan kepalanya berkali-kali. Gila, benar-benar gila. Apakah Gareng juga mewarisi ilmu dari Prabu Angling Darma yang bisa berbicara dengan hewan?
Tidak mungkin, ponokawan sepertinya memang mempunyai berbagai macam ilmu serta kadigdayan, tetapi jelas bukan ilmunya para raja atau kesatria.

Aku melihat dengan mata kepala sendiri, setelah Gareng berlalu pergi, anjing itu menangis. Apakah mereka putus? Apakah anjing itu sebenarnya pacar Gareng. Aku tak tahu persis. Atau sebenarnya anjing itu menangis karena tidak tega menolak pernyataan cinta Gareng?
Tak jelas juga, aku tak mungkin bertanya pada anjing, dan tak mungkin pula bertanya langsung kepada Gareng. Aku sedang menguntit, dan jangan sampai ketahuan kalau aku sedang menguntit.

Suatu waktu ketika siang sedang terik-teriknya dan terdengar kumandang adzan dhuhur, Gareng berhenti didekat sebuah masjid. Tak kusangka ia terlihat memasuki beranda masjid, menuju tempat wudhu, dan kulihat ia melakukan ritual wudhu seperti yang dilakukan orang-orang Islam ketika akan melakukan sholat. Kukira, ia akan kemudian memasuki masjid dan ikut berjamaah berdua dengan muadzin di masjid itu, tetapi ternyata setelah berwudhu Gareng keluar dari lingkungan masjid, dan kembali berjalan sembari menyulut sebatang rokok.

Gemblung, gerah dan ingin mencari kesegaran saja kok pakai gaya wudhu segala, pikirku.

Tetapi yang tak kusangka, setelah habis sebatang rokok yang disulutnya setelah berwudhu tadi, ia sholat dipinggir jalan. Diatas trotoar dibawah pohon mahoni pinggir jalan. Edan meneh, ada masjid kenapa malah sholat di trotoar?

Setelah empat rakaat sholat dan salam, Gareng terlihat menengadahkan kedua tangan, laiknya orang berdoa. Tumben ia berdoa seformal itu?

Berhari-hari aku menguntitnya. Bahkan hari ini, sudah lewat sebulan, dan bahkan mungkin hampir dua bulan. Tak ada tanda-tanda kemana tujuannya. Aku takkan menyerah, dan akan kuikuti terus sampai kapan ia berjalan tanpa tujuan.

Yang aku heran, ia tidak pernah tidur. Bedebah. Karena ia tidak tidur, maka aku juga harus menahan diri untuk tidak tidur. Kalau sampai sebentar saja aku memejamkan mata dan tidur, Gareng akan hilang dari pandangan mata, dan takkan kutahu lagi kemana ia pergi.

Bangsat betul, sudah lelah kaki dan mataku ini mengikutinya pergi. Apa yang sedang dicarinya, dan apa pula tujuannya?

Hingga tadi siang ketika menjelang sholat Jumat kudapati ia memasuki sebuah masjid, aku dibuat semakin terheran-heran. Setelah berwudhu, Gareng naik ke mimbar, mengucapkan salam, dan seseorang mengumandangkan adzan. Gemblung, Gareng menjadi khatib khutbah Jumat?

Selesai muadzin mengumandangkan adzan, Gareng berdiri di mimbar. Gila, ia benar-benar menjadi khatib. Aku mengambil tempat duduk di serambi, dibalik tembok yang didekatnya ada sebuah jendela. Dari sana aku bisa mengawasi Gareng, dan kuduga karena akan sibuk berkhutbah, Gareng takkan melihatku.

Setelah terdengar Gareng mengajak jamaah untuk senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa, bersholawat, ia memulai khutbahnya. Khutbah yang benar-benar singkat :

“Jamaah sidang Jumat yang Insya Allah selalu berada dalam lindunganNya. Pernahkah sekali waktu di bulan suci Ramadhan yang hanya tinggal menyisakan beberapa hari ini, kita menyadari suatu hal yang sebenarnya penting serta juga mendasar bagi manusia dalam menjalani kehidupannya di dunia? Dalam waktu kehidupan dunia yang sangat singkat ini, berapa banyakkah waktu kita habiskan untuk menilai kehidupan orang lain? Berapa banyakkah waktu kita yang dihabiskan untuk mengamati kehidupan orang lain? Berapa banyak waktu yang kita setorkan sekadar untuk melihat apa yang orang lain kerjakan?”

“Jamaah sidang Jumat yang saya hormati. Apakah kita diciptakan untuk saling memberikan penilaian antar sesama manusia? Apakah kita diutus didunia hanya untuk saling mengamati? Apakah kita hanya diberika tugas oleh Tuhan untuk melihat apa yang dikerjakan oleh orang lain? Apakah tidak sia-sia hidup dihabiskan hanya untuk mengambil foto orang tertabrak becak? Untuk mengamati orang berkomunikasi dengan anjing? Untuk memberi nilai pada orang yang sholat di trotoar? Atau untuk melihat orang yang mengelus perutnya didepan penjual gorengan?”

“Jamaah Jumat yang berbahagia. Bahagiakah kita dengan hidup yang demikian?”

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *