Gelandang Jangkar

Dua tim sedang bertanding, tribun penuh sesak.

Saya mengenang Roy Keane sebagai seorang pemain sepakbola yang pemarah, dan gemar berkelahi. Betul-betul berkelahi, bahkan di dalam lapangan. Berkelahi dengan pemain lawan, bahkan dengan rekan satu timnya. Ia akan berkelahi dengan pemain lawan, jika dirasa diperlukan dalam strategi. Ia juga akan berkelahi dengan kawan, jika ia rasa kawannya merugikan tim dalam pertandingan.

Hampir tak ada sisi positif secara teknis sebagai seorang pemain sepakbola yang bisa saya ingat mengenai Roy Keane. Perannya di dalam tim hampir tak kelihatan. Penikmat sepakbola dan apalagi penggemar Manchester United (MU) tentu akan lebih mengingat dan mengidolakan David Beckham, Ryan Giggs, mungkin juga Paul Scholes dan bahkan Peter Schemeichel ketika membicarakan pemain MU di era akhir tahun 1990an dan awal tahun 2000an.

Roy Keane tidak akan diingat karena larinya yang cepat, atau umpan dan passingnya yang akurat. Apalagi mengingat tentang golnya, saya yakin jarang yang akan mengingatnya. Tetapi jika membicarakan pemain yang tackling nya bisa mematahkan kaki pemain lawan, atau pemain yang ketika berbicara di dalam lapangan tak bisa pelan, dengan ludah muncrat-muncrat, pasti Roy Keane adalah salah satu yang mudah diingat.

Roy Keane adalah pemain yang terlupakan, pada masa aktifnya.

Beralih dari tanah Britania tempat Roy Keane berada, dan menuju tanah Bavaria, Jerman. Kita akan temui ‘kembaran’ Roy Keane, dalam masa aktif yang sama sebagai pesepakbola. Dia adalah Stefan Effenberg. Pemain tinggi besar yang berposisi sama seperti Roy Keane, gelandang jangkar.

Effenberg tak akan pernah dikenang sebagai pemain dengan pencetak gol yang banyak, atau pemain dengan jumlah umpan terbanyak. Effenberg akan lebih dikenang sebagai pemain yang gemar memelototkan mata, dan mengencangkan urat lehernya untuk memaki pemain lawan, memaki kawan, bahkan memaki pelatihnya sendiri dan wasit.

Effenberg tak segan memaki wasit ketika merasa timnya dirugikan. Tak segan menempelkan wajahnya ke wajah wasit dan mengeluarkan kata-kata kasar. Tak takut diberi ganjaran kartu merah, tak takut diusir dari lapangan. Pelatihnya akan ia beri makian jika merasa tak memberikan instruksi atau mengaplikasikan strategi yang menguntungkan.

Sekali lagi, posisi Effenberg sama dengan Roy Keane, gelandang jangkar.

Setelah masa Roy Keane dan Effenberg berlalu, ternyata masih muncul lagi pemain yang hampir serupa dari tanah Italia. Gennaro Gattuso. Pemain bertubuh pendek namun gempal, dan dengan emosi yang tak lebih panjang dari kedua kakinya.

Gattuso tak segan melayangkan pukulan kepada pemain atau pelatih lawan, jika ia merasa mendapat provokasi dan intimidasi berlebihan. Ia juga akan berdiri paling depan ketika temannya berada dalam situasi siap baku hantam dengan pemain lawan. Gattuso akan berdiri paling depan membela dan melindungi teman-temannya.

Posisi Gattuso dalam timnya, adalah juga gelandang jangkar.

Pada posisi ketiganya sebagai gelandang jangkar, mereka adalah pelindung. Benteng pertama yang akan menghadang serangan lawan, melindungi bek dan juga kiper. Selain pelindung, mereka juga adalah gagang tombak dalam menyerang. Menyokong dan menguatkan ujung tombak penyerang timnya.

Peran mereka tak pernah nampak secara kasat mata. Mereka hanya akan menggiring bola sebentar saja, menyentuh bola seminimal mungkin, sebelum memberikannya pada kawan satu tim.

Bahkan terkadang mereka hanya akan terlihat berlari kesana kemari, tanpa bola. Hanya bergerak ke kanan dan ke kiri, atau sedikit ke depan dan ke belakang. Mereka juga hanya akan terlihat berteriak-teriak kepada rekan-rekannya, meminta untuk bergerak sesuai dengan perintah mereka.

Pemain macam apa mereka itu…

Mereka hanya memicu pemain, pelatih, dan pendukung lawan untuk memaki-maki, mencerca kasarnya permainan mereka. Terkadang, pendukung mereka sendiri akan memaki dan memuntahkan kekesalan karena permainan mereka sama sekali tak bisa dinikmati. Bahkan terkadang dinilai merusak permainan tim mereka sendiri.

Namun sekian waktu setelah era mereka berlaku, sekian tahun setelah mereka pensiun, dunia sepakbola merindukannya. Apa yang terjadi?

Mereka adalah perwujudan nyata dari etos dan kerja keras. Pemain sepakbola yang mencoba untuk terus berlari, memberikan semangat, melindungi, dan berkomitmen terhadap pekerjaan mereka. Menutup segala kelemahan teknis sebagai pemain sepakbola, dengan segala daya dan upaya serta kerja keras. Mereka memberikan contoh nyata, bahwa sepakbola tak selalu tentang bakat dan mukjizat, tetapi terlebih tentang usaha dan kerja keras.

Mereka dirindukan oleh mantan kawan satu timnya, sebagai orang-orang yang penuh dedikasi. Selalu memberikan dorongan serta motivasi, meski terkadang dengan cara yang kasar dan cenderung sulit dipahami. Menjadi dinamo yang menggerakkan seluruh tim untuk bekerja sampai batas maksimal dan optimal, pantang menyerah sebelum peluit akhir dibunyikan, atau sebelum kompetisi resmi terselesaikan.

Mereka dirindukan oleh lawannya, sebagai pemain-pemain yang selalu memberikan penghormatan dan kehormatan dalam setiap pertandingan. Tak pernah menyepelekan dan meremehkan lawan. Selalu menganggap siapapun lawannya sebagai rival yang setimbang. Lawan akan menganggap mereka laiknya gladiator yang memberikan kehormatan dalam tiap pertarungan. Sehingga siapapun lawannya, akan selalu merasa mendapat penghormatan, karena mereka akan melawan dengan kesungguhan. Pun, jika lawan mereka adalah tim-tim kecil yang sebenarnya diatas kertas sama sekali tidak setimbang.

Mereka akan dikenang oleh penggemar, baik kawan maupun lawan, sebagai pemain-pemain yang takkan pernah tergantikan.

Bakat bisa dilahirkan, tetapi etos dan kerja keras bukan sesuatu yang bisa dilahirkan.

Etos dan kerja keras hanya akan hadir oleh dan dengan kesungguhan. Dengan disiplin, dengan terus menerus mengasah mental untuk tak mudah menyerah menghadapi kesulitan. Bahkan jika kesulitan itu serupa ruang-ruang samar yang terlalu menakutkan untuk dilalui.

Kerja mereka untuk sekadar hanya menjadi jembatan antara pemain bertahan dan pemain menyerang, memang takkan pernah terkenang. Orang-orang akan lebih banyak mengenang mengenai kota tujuan, dan bukan jembatan yang mengantar mereka melewati sungai-sungai dan ngarai.

Tugas mereka hanya samar-samar. Peran mereka hanya laiknya partisipan. Keberadaan mereka seperti tak lebih untuk hanya menggenapi permainan. Tetapi justru karena hal itu, mereka menjadi laiknya sufi yang tak membutuhkan ketenaran dan apalagi puja puji. Mereka bekerja dan hidup dalam sepi, dalam hening, menerima segala resiko untuk tenggelam dibawah hingar bingar.

Pernahkah anda bekerja seperti mereka, dalam posisi seperti mereka? Bekerja dalam situasi dan posisi yang samar, tanpa pujian jika pun harusnya kegemilangan berada dalam genggaman?

Pernahkah anda? Ataukah kini anda sedang menjalaninya?

Jangan khawatir, dan tak usah risau. Teruslah untuk bekerja keras, teruslah untuk menjaga dedikasi, dan teruslah untuk menggapai kehormatan.

Kelak anda akan dikenang. Kalaupun tidak, setidaknya anda sudah melakoni kesejatian sebagai manusia. Kesejatian yang diperoleh karena menjalani hidup dan pekerjaan dengan penuh kesungguhan.

Tanpa kesungguhan, manusia hanyalah seonggok daging tiada guna.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *