Gubug Renta

Tengah malam [9/7/2021] saya terbangun, hujan, cukup deras, dan cukup lama. Setidaknya sampai saya kembali menarik selimut, hujan masih setia membasahi tanah Piyungan.

Entah kenapa saya langsung terbangun ketika mendengar rintik hujan. Segera saya keluar rumah, duduk di teras, dan cukup lama melihat jutaan rintik air itu jatuh menghujam seakan tanpa lelah.

Tiba-tiba saja juga entah kenapa pandangan saya kabur, dan berganti ingatan pada lebih dari dua puluh lima tahun yang lalu, di Banteran. Pada rumah yang lebih tepat disebut gubug, berdinding bambu, berlantai tanah, tanpa listrik, tanpa kamar mandi. Tempat saya lahir, tumbuh, berkembang, dan menghabiskan masa kecil hingga hampir dewasa.

Rumah yang padanya saya membungkuk hormat sedalam-dalamnya. Rumah yang sempoyongan menahan beban, bahkan jika itu sekadar hujan ringan.
Entah kenapa ingatan tiba-tiba dengan brutal menyeruak mengantar menuju kesana.

Saya pernah teringat suatu kali hujan turun cukup deras. Saya yang sedang tidur tiba-tiba terbangun oleh suara gaduh. Suara Mamak dan Bapak yang sedang sibuk memasang ember di sana-sini demi menampung tetes air hujan dari sela genting yang menua.

Waktu itu, saya hanya terpikir kenapa hujan seakan kejam terhadap rumah kami. Sembari menatap keatas kenapa genting-genting tua yang tak lagi saling merapat itu masih ada di sana. Baru sekian tahun kemudian saya mulai sedikit paham bahwa hujan tidaklah kejam, dan tak semata genting-genting tua yang mulai rentan karena usia itu memang menghendaki ada di sana. Bukan, semata bukan hanya itu saja. Tetapi memang karena keadaan yang membuat kami tidak bisa memasang genting-genting baru, sehingga hujan yang tak terlampau deras pun membuat ember-ember harus ikut berjibaku menampung tetes dari sela genting.

Gubug sederhana bekas kandang ayam dan tempat menyimpan kayu bakar milik Mbah Buyut itu hanya memiliki satu ruang utama, satu pintu untuk masuk dan keluar, tanpa sekat permanen. Ruang utama itu tanpa kursi tamu, hanya kursi plastik tanpa sandaran, dan satu meja kayu cukup besar yang berfungsi untuk melakukan semua hal. Semua hal mulai makan, sekadar mengobrol, belajar, membaca, bahkan bermain.

Lantai tanah pada ruang utama itu menjadi satu-satunya arena bermain yang sangat menyenangkan. Saya bisa mengingat sering berpura-pura memancing di sana, dengan tikar sebagai kapalnya, dan lantai tanah itu sebagai lautnya. Sering saya akan berteriak seolah mendapatkan ikan, dan Mamak akan ikut berteriak senang, berpura-pura mengambil ikan fiktif dari kail saya yang juga fiktif, kemudian akan seolah menggorengnya.

Tapi itu adalah arena menyenangkan yang hanya privat bagi saya. Karena sejauh saya bisa mengingat, tidak ada teman sebaya yang pernah ikut bermain bersama di kapal menyenangkan itu, ikut memancing atau sekadar duduk sembari menikmati suasana. Ah, tidak ada suasana yang bisa dinikmati oleh anak-anak selain saya saat itu, di sana, di atas lantai tanah dengan tikar tipis sederhana.

Saya akan menaruh hormat sedalam-dalamnya pada rumah atau gubug sederhana itu, karenanya saya bisa belajar banyak hal. Tentang penerimaan atas segala sesuatu yang datang pada diri saya, untuk tak terlalu banyak bertanya atas satu kata bernama derita.

Bagi sebagian besar orang, kondisi itu bisa berarti adalah derita. Sejauh saya mengingat, semua rumah teman saya saat itu sudah berdinding tembok, dengan genting kuat anti bocor, dan tentu saja sudah dialiri listrik untuk menopang aktifitas sehari-hari.

Kesimpulan saya itu berdasarkan pada kenyataan bahwa sampai saya lulus SD, tak pernah ada kegiatan belajar kelompok berlangsung di rumah saya itu. Selalu berlangsung di rumah kawan-kawan saya, bergantian. Saat itu, saya memaklumi saja bahwa tentu belajar di atas lantai tanah beralas tikar tidaklah nyaman bagi yang tidak terbiasa. Tentu belajar di atas lantai keramik atau semen tanpa tikar jauh lebih nyaman. Oleh karena itu saya manut saja ketika kawan-kawan memutuskan akan belajar kelompok dimana, di rumah siapa.

Bertahun setelahnya saya baru bisa mulai belajar memahami, bahwa bagi sebagian besar orang, berkawan itu tentu saja juga dengan memilah dan memilih, terutama memilah dan memilih mengenai kenyamanan, keuntungan, dan bahkan kemanfaatan.

Dari rumah itu saya belajar untuk tidak terlampau banyak mengeluh perihal hidup atau kehidupan. Toh kehidupan adalah subyektifitas personal bagi masing-masing jiwa untuk menjalaninya. Bisa jadi suatu hal terasa berat bagi sebagian, namun terasa ringan bagi sebagian lain. Bisa jadi kehidupan serasa siksaan bagi sebagian, namun anugerah bagi lainnya.

Dari rumah sangat sederhana itu saya belajar banyak hal, untuk tak terlampau risau menjalani kehidupan. Kehidupan laiknya tikar yang bisa berubah menjadi kapal semu, yang akan memercikkan kebahagiaan tergantung bagaimana kita menyikapinya.

Rumah itu memberikan contoh teladan bagi saya, untuk menerima semua hal dari kehidupan dengan senyum dan ketulusan.
Ia menerima hujan sebagai kawan, tanpa mengeluh bahwa air hujan masuk dari gentingnya yang renta. Ia menerima angin yang menerpa bagai sejawat lama, meski tubuhnya yang dari anyaman bambu mulai lapuk menua. Ia menerima kegelapan bagai bagian dari dirinya, yang tak bisa ia lawan hanya dengan lampu minyak yang sempoyongan menyala.

Saya belajar banyak darinya, untuk menerima semua. Untuk menerima alam, makhluk, manusia. Untuk menyalami semuanya, baik yang dengan tulus mengulurkan jabat tangan persaudaraan, atau mereka yang mempunyai niat culas dalam pergaulan. Untuk menerima semuanya tanpa banyak bertanya.

Saya mengambil banyak pelajaran dari gubug renta itu, untuk tidak pernah menolak apapun yang datang dalam kehidupan. Entah terasa manis atau pahit, entah yang terrefleksi sebagai bahagia atau nestapa.

Dari tempat lahir dan tumbuh serta berkembang itu saya mengambil banyak simpul manfaat sebagai bekal kehidupan. Untuk selalu belajar dan mencari pengalaman, untuk sebanyak mungkin mengulurkan jabat tangan persaudaraan, untuk sebanyak mungkin mencari kawan.

Perihal tak ada yang mau menerima uluran tangan persaudaraan itu, atau tak ada yang mau dengan tulus berkawan, itu urusan belakangan. Toh saya sudah terbiasa menjalani kehidupan dalam sepi dan kesunyian.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *