GUNUNG MERAPI JALAN KAKI

Belum lama ini saya berada dalam situasi antara ingin tertawa keras, dan juga ingin segera mengambil kapur serta papan tulis lalu menggambar peta ala kadarnya, di dalam bus. Keduanya karena sebab yang sama, perihal Gunung Merapi yang tiba-tiba berjalan kaki, dan pindah ke Jawa Timur, di seputaran Malang-Pasuruan tepatnya.

Bus yang ditumpangi anak-anak untuk melakukan study tour baru saja turun dari kawasan Prigen, Pasuruan. Saya yang kebetulan nunut duduk di dalamnya, sesekali tersenyum mendengar komentar mereka perihal Prigen yang baru saja dikunjungi. Ada yang berkomentar mengenai hewan, pertunjukkan, atau Pop Mie seharga 8 ribu rupiah.

“Asem og, mosok Pop Mie regane semono.” Kata seorang anak.

“Ho oh je, aqua 5 ewu.” Sahut anak yang lain.

“Aku nek ngrewangi ibuku dodolan, pop mie ki 4 ewu wis diwenehi banyu. Aku nek dodolan neng kene iso laris manis ya?” Sambung anak pertama yang berkomentar mengenai harga pop mie.

“Haa pindah mrene wae, dodolan sego kucing ro teh panas, buka angkringan.” Saya ingin menyahut, tetapi memilih untuk menahannya, demi ingin lebih banyak mendengar komentar anak-anak.

Bus terus melaju. Setelah jalan berkelok dan hampir sampai di jalan raya Malang-Pasuruan, kembali bus terdengar gaduh.

“Kae gunung apa ya?” Tanya seorang anak.

“Gunung Bromo.” Sahut lainnya.

“Udu!!!” Sebuah suara keras menyahut penuh nada percaya diri.

“Lha terus gunung opo?” Hampir serempak beberapa kawannya bertanya.

“Kae ki Gunung Merapi.” Jawab anak yang nada suaranya penuh rasa percaya diri.

“Mosok ketok seko kene?” Kawannya meragukan.

“Lha yo ketok to. Seko Bantul wae ketok kok.” Jawabnya masih dengan rasa percaya diri.

“Woiya. Ho oh paling Gunung Merapi.” Kawan-kawannya mulai mengiyakan.

Bajilaaaakkkkkk.

Hampir meledak tawa saya mendengar percakapan mereka. Saya setengah berdiri, melongok belakang ke arah asal suara, dan hampir bertanya ;
“Nek kae Gunung Merapi, lha trus Mbah Carik bakule jadah tempe nggon sebelah endi warunge?”

Tapi yaa saya urungkan pertanyaan tersebut, garing begitu. Saya tidak mau ditertawakan anak usia SMP.

Saya kemudian sedikit bersyukur bahwa study tour tidak dilangsungkan di Bandung. Bisa-bisa nanti bus yang kami tumpangi digulingkan Sangkuriang karena tidak terima Gunung Tangkuban Perahu disangka sebagai Gunung Merapi.

Tidak ada yang kemudian patut disesali juga dari ketidaktahuan mereka mengenai hal itu. Bukan karena mereka tak pernah membuka peta, membaca untuk menambah wawasan, dan lain sebagainya. Tidak.
Bukan pula salah guru-guru mereka, tentu juga tidak.
Ketidaktahuan mereka mengenai wilayah-wilayah di negara mereka sendiri, semata saya anggap karena faktor usia. Toh waktu seusia mereka, saya juga tidak tahu kalau ‘Irian Jaya’ dan ‘Papua Nugini’ berada dalam satu pulau yang sama.

Mereka masih muda, bahkan masih dalam kategori anak-anak menurut undang-undang. Dan tidak tahu bahwa Gunung Merapi takkan terlihat dari Prigen, ya bukan perkara yang fatal. Maka saya lebih banyak tertawa saja mendengar celotehan mereka.

Yang cukup fatal adalah jika anak seusia mereka belum mengenal budaya antri dan juga tata krama.

Lebih fatal lagi jika anak seusia mereka belum mulai belajar mengenai nilai sebuah usaha di dalam kehidupan, dalam skala sekecil apapun. Bagaimana mengerti dan memahami serta merasakan setiap usaha dari orang tua untuk mendidik serta membiayai pendidikan juga kehidupan mereka, juga bagaimana mengerti serta memahami cara untuk membalas kasih sayang orang tua dengan selayaknya.
Nilai-nilai pelajaran?
Ga penting!!!!

Jadi yaa kalau mereka, anak-anak itu, menganggap Gunung Merapi sebagai satu-satunya gunung dalam ukuran besar yang tetap bisa terlihat dari manapun termasuk dari Planet Ngarab Saudi ketika kelak mereka melawat kesana, ya tidak masalah.

Yang jadi masalah kalau sampai mereka menjadikan Planet Ngarab Saudi sebagai satu-satunya rujukan untuk memperbaiki Planet Endonesya. Ngeri.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

10 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *