Gunungkidul Dua

Air Terjun Kedung Kandang

Saya harus menyampaikan Gunungkidul Dua, setelah Gunungkidul Satu. Wajib bagi saya menuliskannya, tetapi tidak wajib bagi anda untuk membacanya.

Gambar yang saya sertakan diatas adalah air terjun Kedung Kandang, yang ada di seputaran Gunung Api Purba Nglanggeran. Sebenarnya pernah saya tuliskan juga pada Wisata Seputar Jogja, tapi tak ada salahnya mengulang disini. Tak ada yang salah dengan suatu pengulangan, kecuali pengulangan terhadap sesuatu yang menyakitkan.

Air terjun Kedung Kandang bisa anda tempuh dengan mengambil arah menuju Nglanggeran ketika anda mengambil jalan dari Jalan Wonosari. Tinggal belok kiri dari jalan besar, dan kemudian ikuti tanjakan curam yang berkelok. Dulu, ketika saya kesana, air terjun itu belum banyak dikenal. Bahkan saya memarkirkan kendaraan dengan menitipkannya di halaman rumah penduduk.

Itulah enaknya berwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta. Keramahan warganya adalah salah satu nilai yang takkan atau jarang bisa kita temui pada tempat-tempat atau lokasi wisata yang lain. Hanya dengan bermodal salam dan ramahtamah, kita bisa menitipkan kendaraan dengan aman.

Bagi anda yang menyukai ketinggian, anda bisa mengunjungi Embung Sriten, puncak tertinggi di Gunungkidul. Dari sana anda akan mendapatkan sudut 360 derajat untuk dapat melihat secara melingkar. Di arah utara bahkan anda akan dapat melihat Rowo Jombor yang berada di Klaten. Jika ingin menuju kesana, pastikan kendaraan anda berada dalam kondisi prima. Prima dan sehat secara keseluruhan. Karena jalan menuju ke Embung Sriten sangat terjal, dengan sudut kemiringan jalan pada beberapa ruas hampir mencapai 45 derajat. Tetapi jangan khawatir, jalan menuju kesana sudah sangat baik. Sudah berupa cor beton yang kualitasnya setara dengan cor beton pada jalan tol.

Jika ingin ke Embung Sriten, saya sarankan datang pada pagi atau sore hari. Pada siang hari cukup panas, bahkan lebih panas daripada mendapati tagihan listrik anda terus naik dari bulan ke bulan.

Apakah hanya ada Embung Sriten dan Kedung Kandang?
Ya tentu saja tidak, anda kira Gunungkidul seremeh itu? Kau salah, Sarmidi….

Gua Pindul sudah saya sebutkan kemarin. Sri Gethuk, tiga air terjun dalam satu lokasi yang berada tepat di tepi Kali Oya sudah lebih dahulu mendunia. Jangan lupakan juga Three Musketeer tiga pantai Baron Krakal Kukup. Belum lagi puluhan pantai lainnya termasuk Pantai Ngrawe yang sekarang sedang hits di pesisir selatan Gunungkidul. Puluhan pantai itu akan menghabiskan stok huruf dan kata yang saya miliki jika harus menuliskannya satu per satu.

Saya asumsikan bahwa anda sudah cukup kelelahan dan teler berputar-putar berwisata di Gunungkidul. Maka saatnya mbadhog makan. Silahkan dari kota Wonosari mengambil arah lurus ke timur menuju Semanu. Nanti sebelum Jembatan Jirak pada kanan jalan akan ada Lesehan Nasi Merah Pari Gogo.

Apa itu? Bengkellll!!!! Tentu saja rumah makan.

Rumah makan Lesehan Nasi Merah Parigogo menyajikan menu khas utama, nasi merah, dan sayur lombok (cabai). Sayurnya adalah paduan lombok, tempe, yang dimasak dengan kuah santan. Rasanya? Tak perlu saya ceritakan, mungkin selera lidah kita berbeda. Tetapi jika anda sampai bilang ‘tidak enak’, harus saya pastikan bahwa anda kurang normal dalam mencecap rasa.

Bung, apakah Gunungkidul hanya pemandangan dan makan-makan? Haaa gundhulmu kuwi, tentu saja tidak.

Gunungkidul adalah sketsa serta lukisan nyata usaha manusia untuk bertahan dari kerasnya alam. Tempat luas untuk banyak belajar mengenai apa itu tekad dan keteguhan. Lahan pertanian dan tanah tandus, serta sulitnya mendapatkan air pada musim kemarau, membuat masyarakat dan penduduk Gunungkidul adalah satu dari sekian penduduk di Indonesia yang bermental baja. Dalam satu tahun, rata-rata lahan pertanian di Gunungkidul hanya bisa panen padi satu kali. Bandingkan dengan tempat lain yang bahkan bisa panen selama tiga kali dalam satu tahun kalender.

Mungkin ini ada kaitannya kenapa saya selalu merasa ‘berada di rumah’ acapkali berada di Gunungkidul. Atmosfer yang ada disana secara keseluruhan, adalah atmosfer pembelajaran. Bukankah rumah adalah tempat dimana anda belajar dan mempelajari segala sesuatu tentang dunia ini, pertama kali? Bahkan sebagian besar hal-hal yang berguna bagi kehidupan anda, didapatkan dari rumah. Anda dapatkan dari belajar di rumah.

Belajar bicara anda dapatkan di rumah, bersama orangtua anda. Belajar berjalan anda dapatkan di rumah, dari kasih sayang orangtua anda. Dua hal tersebut, anda mengakuinya ataupun tidak, adalah faktor utama pendukung kehidupan anda. Senyatanya, anda mendapatkannya dengan belajar di rumah.

Ah, lagi-lagi melodrama dan melankolia.

Rasa-rasanya, kok semakin hari saya merasa sebagai Sagitarius yang memble….

Selamat pagi.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *