Gunungkidul Satu

Dari kota Jogja, anda akan melewati jalan Wonosari, mengambil arah lurus ke timur agak mengarah tenggara. Di depan, anda akan melihat baris pegunungan yang menjulang, serupa benteng besar yang tak kalah megah dengan The Great Wall di China. Itulah baris pegunungan seribu, baris pegunungan yang membentang sepanjang Gunungkidul sampai ke Bantul. Itulah pegunungan yang pada pangkal ujung utara (atau timur?) terdapat Gunung Didi Kempot Api Purba Nglanggeran. Gunung Api Purba yang kini semakin terkenal karena lagu Banyulangit itu. Yang hampir setiap pendengar musik campursari atau dangdut koplo kini menjadi penasaran dengan Gunung Api Purba tersebut.

Ketika anda melaju lurus ke arah timur dari kota Jogja itu, anda akan sampai pada persimpangan jalan berupa pertigaan dengan lampu lalu lintas. Ketika sampai di tempat tersebut, tepat di depan anda benteng alami itu tinggi menjulang. Pada musim penghujan akan berwarna hijau, sedangkan pada musim kemarau akan berwarna cokelat kekuningan. Dikarenakan daun pada pepohonan yang tumbuh asri di seluruh tubuh bukit itu.

Selepas pertigaan, anda akan mulai naik, itu adalah perbatasan Piyungan yang berada di Bantul, dan Patuk yang merupakan salah satu pintu gerbang Gunungkidul. Ketika sudah hampir sampai pada puncaknya, dengan ditandai ruas jalan yang tepat berada pada tebing bukit, anda akan melihat pemandangan indah. Pemandangan Bantul dan Sleman sebenarnya, tepat dari jalan yang sedang anda lalui. Itulah Puncak Hargo dumilah.

Mana? Hargo dumilah?

Iya, hargo dumilah, yang memiliki arti ‘Gunung Penerangan’.
Kalau saya artikan maknanya secara serampangan, hargo dumilah memiliki arti ‘Puncak Penerangan’. Orang Jawa memiliki filosofi mengenai ketinggian, hirarki spiritual, yang banyak digambarkan dengan pendakian pada puncak-puncak gunung. Mungkin anda akan lebih familir dengan kata hargo dumilah pada punca Gunung Lawu. Dan akan lebih mengenal tempat di tepi ruas jalan Jogja-Wonosari itu dengan nama Bukit Bintang.

Bahkan Google menamai tempat itu sebagai Bukit Bintang, dan bukan bukit atau puncak hargo dumilah.

Kini, anda sudah tahu? Bukit Bintang itu aslinya bernama hargo dumilah. Entah siapa yang pertama kali mencuatkan nama bukit bintang. Ah…

Selepas hargo dumilah, selepas spot foto dengan tulisan ‘GUNUNGKIDUL’ yang terpampang dengan gamblang, silahkan pilih anda akan menuju kemana.

Mengambil arah belok kiri lurus wae rasah nyawang spionmu sing marai ati nambah mbebani, anda akan sampai di Gunung Api Purba Nglanggeran. Belok ke kanan anda akan menuju Puncak Becici. Ketika mengambil arah lurus, anda akan menuju kota Wonosari, ibukota Kabupaten Gunungkidul.

Jangan tertipu ketika anda bertemu seseorang yang mengatakan bahwa ia berasal dari Wonosari. Tanyakan lagi, Wonosari atau Gunungkidul? Karena Wonosari itu hanyalah satu dari delapan belas kecamatan yang ada di Gunungkidul. Maka bisa jadi orang yang menyebutkan berasal dari Wonosari itu, sebenarnya berasal dari Semanu, Rongkop, Karangmojo, atau juga Nglipar.

Dari Wonosari, silahkan pilih anda akan kemana. Ke kanan, atau ke kiri. Jika ke kiri, anda akan menuju Goa Pindul. Jika ke kanan, maka anda akan menuju pesisir pantai. Silahkan berwisata.

Tetapi, apakah lantas Gunungkidul hanyalah tempat, hanya sekadar destinasi wisata?

Bagi saya, tidak. Tetapi terserah menurut anda yang menjelajahi berbagai tempat tak lebih dari sekadar untuk mengetahui tempat-tempat baru. Karena tak ada yang salah dengan niat dan pemaknaan seseorang dalam setiap perjalanannya.

Tetapi bagi saya, Gunungkidul lebih dari suatu destinasi wisata. Gunungkidul adalah sepenggal memori yang dari waktu ke waktu semakin rigid dalam ingatan saya. Pertama kalinya saya bepergian ‘cukup jauh’, adalah dengan melintasi Gunungkidul menuju Wonogiri. Sekira dua puluh dua tahun yang lalu, bersama Bapak dengan mengendarai sepeda motor Honda C70.

Waktu itu, bahkan belalang belum marak dijual di pinggir-pinggir jalan. Didi Kempot juga belum terpikir untuk menangis di Puncak Gunung Nglanggeran dan menuliskan lagu Banyulangit.

Dalam kurun waktu dua puluh dua tahun tersebut sampai dengan saat ini, begitu banyak hal yang berubah dari Gunungkidul, dalam wajah yang bisa saya nikmati dengan mata telanjang. Pada jalan-jalannya yang kian hari semakin lebar dengan kualitas aspal cukup baik. Pada bangunan-bangunan di pinggir jalan, bahkan pada kesadaran masyarakatnya mengenai pengelolaan tujuan wisata. Tetapi ada satu hal yang —sampai saat ini— tidak berubah dari Gunungkidul bagi saya. Ia serupa rumah.

Tak pernah saya merasakan kepercayaan diri yang begitu tinggi ketika melintas pada ruas jalan atau daerah-daerah selain di sekitar tempat asal dan tempat tinggal, seperti ketika melintas Gunungkidul. Melintas di Gunungkidul, saya tak merasakan kekhawatiran apapun, terhadap hal apapun. Entah saja, ia serupa kampung halaman.

Bahkan saya merasa lebih percaya diri melintas di hampir semua daerah Gunungkidul, daripada melintas di wilayah Kabupaten Sleman sebelah barat.

Apakah saya sedang mendramatisir? Apakah karena judulnya Gunungkidul maka saya sedang mempromosikannya? Apakah kemudian saya dan tulisan ini menjadi demikian tendensius?

Terserah saja, karena bahkan saya merasa tulisan ini tidak mempunyai tema pokok selain hanya terdiri dari barisan huruf dan tumpukan paragraf.

Saya hanya sedang curhat sebenarnya. Tentang apa?

Tentang keniscayaan-keniscayaan hidup yang terkadang menghampiri kita tanpa persetujuan. Tentang kenyataan-kenyataan yang terkadang datang dan membuat kita seketika menolak kehadirannya sebagai suatu kenyataan.

Ah ya, ini masih Satu. Besok (andai) ada Dua dan Tiga, akan saya ceritakan kenapa anda harus mengunjungi Gunungkidul.

Selamat siang.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *