Habis-Habisan

Ilustrasi Swalayan
Ilustrasi Swalayan

Rencana awal, saya hanya ingin membeli hand soap isi ulang ketika siang tadi ke swalayan dekat kosan. Kebetulan sabun cuci tangan saya di kosan hampir habis, karena tempo hari menjadi martir untuk ngepel lantai kamar kos ketika pindahan. Tak perlu saya ceritakan kenapa sabun sebotol itu hampir habis hanya untuk ngepel lantai. Tak perlu saya ceritakan betapa dahsyat peninggalan penghuni kos terdahulu. Nanti anda tak doyan makan…

Sembari mencari rak tempat dimana sabun tangan harusnya bisa ditemukan, saya iseng melihat-lihat apa saja barang yang ‘laris’ ditengah gempuran Covid-19.

Pertama yang saya dapati laris manis adalah Bearbrand. ‘Susu Beruang’ itu lhoo…
Padahal selama lima bulan lebih saya sering ke toko tersebut, rak tempat Bearbrand berada tak pernah selengang itu. Biasanya sih selalu penuh. Tetapi siang tadi, rak tempat dimana susu beruang itu berada, hampir kosong. Hanya tersisa beberapa kaleng saja. Secara sepintas saya perhatikan, tak lebih dari lima belas kaleng.

Barang yang juga laris manis adalah antiseptic. Eh, tak tahu juga persisnya, laris manis atau memang tak tersedia. Karena tak ada satu pun antiseptic tersisa pada rak dimana seharusnya ia berada. Tiba-tiba saja kok masyarakat menjadi ‘sangat higienis’.

Tetapi Covid-19 memang dahsyat. Ia mampu membuat prediksi banyak ahli meleset jauh. Pada awal mula kemunculannya sekira dua bulan lalu di Kota Wuhan, Provinsi Huabei, Republik Rakyat China, beberapa ahli memperkirakan bahwa Covid-19 [waktu itu masih disebut Corona] hanya akan menjadi semacam virus endemik. Virus yang tak akan menyebar luas kemana-mana. Tetapi ternyata saat ini sudah dinyatakan sebagai pandemi, wabah global. Hiiiii….

Sampai saat ini, dan jika tidak tertangani secara baik dalam beberapa waktu ke depan, rasa-rasanya kok Covid-19 bisa menyebabkan goncangan dan stabilitas dalam kehidupan sosial masyarakat. Langkanya beberapa perangkat kesehatan yang diyakini bisa menjadi ‘penangkal’ virus tersebut adalah salah satu penanda. Kenapa? Karena tidak memiliki atau tidak bisa mengakses alat-alat tersebut akan menimbulkan kepanikan tersendiri di dalam masyarakat. Apalagi, saat ini belum ditemukan obat dari virus tersebut [meskipun saya yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa China sudah memiliki obat atau antivirus dari Covid-19].

Belum adanya obat yang bisa menyembuhkan penyakit tersebut adalah salah satu sumber kepanikan utama. Oleh karena itu memang msyarakat berusaha untuk mencegah agar tidak terjangkit. Cara pencegahannya tentu saja dengan mengkonsumsi makanan atau minuman dengan kandungan nutrisi yang tepat, dan juga menggunakan alat-alat kesehatan yang juga tepat. Nah, ketika dibutuhkan banyak orang, tentu saja barang-barang tersebut menjadi seperti mendadak ‘hilang’ dari pasaran. Hal itulah yang menurut saya akan menimbulkan goncangan, jika tak segera tertangani dengan tepat.

Setelah ‘puas’ melihat dan mengidentifikasi barang-barang ‘langka’, saya segera menuju rak tempat sabun tangan seharusnya berada. Dan…..
Habis…..Habis-habisan….

Hand soap pun mendadak menjadi barang langka. Tahu begitu, tempo hari saya tidak mengepel lantai menggunakan sabun tangan. Tetapi dasar saya ini bukan manusia visioner, maka saya tak bisa membaca masa depan dengan cukup baik. Bahkan terkadang pilihan-pilihan yang saya lakukan dalam hidup ini terasa terjal. Ahahahaha…

Sampai beberapa kali saya memutari swalayan yang luas bangunan tokonya hampir separuh lapangan sepakbola itu, hanya untuk mencari dan memastikan keberadaan sabun tangan, siapa tahu masih terselip seplastik sisa. Namun tetap tak saya temukan.

Pada akhirnya saya menyerah, dan memilih melupakan sabun cuci tangan. Saya cari pasta gigi yang di kosan juga sudah habis, sebungkus kopi, tisu, dan kacang kulit. Sembari berjalan pelan menuju kasir, saya kembali mengedarkan pandangan mencari sabun cuci tangan, tetap tak ada. Anehnya, body wash malah masih banyak tersedia. Sabun mandi banyak tersedia di rak toko tersebut. Jangan-jangan, sabun cuci tangan yang habis itu dipakai juga buat mandi…?

Ditengah banyaknya barang yang mulai langka dan habis di pasaran, yang beberapa pekan lalu dimulai dari masker, saya berharap masyarakat tak kehabisan satu hal penting di tengah kondisi seperti ini. Bolehlah masker habis, antiseptic habis, hand soap habis, tapi jangan juga habis-habisan untuk satu hal ini.

Yaitu, mental untuk bertahan.

Pada kondisi seperti ini, pada puncak kulminasi semacam ini, pada akhirnya manusia harus sadar bahwa mereka bukanlah agresor. Pada hakikatnya manusia bukan penyerang, namun adalah pemain bertahan. Bukankah peradaban manusia ada sampai saat ini karena ‘bertahan’, dan bukan karena ‘menyerang’?

Nah, selalu ada hikmah datang bersama dengan cobaan. Pada kasus ini, dengan mengambil framing yang lebih luas, sudah saatnya manusia berhenti menyerang alam. Menghentikan agresinya terhadap alam, lahan, dan segala sumber daya penyokong hidup serta kehidupan peradabannya. Menghentikan perusakan hutan, menghentikan perusakan lahan produktif, dan meminimalisir pencemaran lingkungan.

Tahukah anda kenapa jahe menjadi mahal saat ini? Karena habitat tempat tumbuhnya jahe, sudah banyak berganti menjadi bangunan. Tidak percaya? Lihat saja disekitar anda.

Mental bertahan kita jangan sampai ikut habis-habisan. Dan dengan itu, seraya juga mengembalikan hakikat kemanusiaan kita, untuk menjadi pemimpin di muka bumi. Yang namanya pemimpin, bukan menghabisi, tetapi mengayomi. Tugas manusia adalah mengayomi alam semesta, bersama-sama bertahan dengan alam dan lingkungan. Karena tanpa alam lingkungan, manusia takkan bisa bertahan. Kalau sudah tak bisa bertahan, berarti….

Nah, selamat bertahan, semoga Tuhan senantiasa melindungi anda.

Salam.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *