Hal-hal Yang Bisa Dilakukan Tanpa Media Sosial

Media sosial sudah menjadi bagian integral pada diri manusia, pada era mutakhir saat ini.

Hampir tak ada waktu terlewat, tanpa media sosial. Hampir tak ada momen yang terselip, tanpa media sosial. Hampir tak ada kegiatan yang berlalu, tanpa terunggah di media sosial.

Apapun itu, hampir semua manusia yang sudah mengenal gadget, tak bisa lepas dari peluk mesra media sosial.

Makan di resto, unggah di akun media sosial. Makan di angkringan, unggah di media sosial. Jalan-jalan di tempat wisata, unggah di media sosial. Periksa di fasilitas kesehatan, wartakan di media sosial. Antri kencing, unggah di media sosial. Lapar, beritakan di media sosial. Berdoa, sebarkan di media sosial.

Sepertinya, hanya kematian diri sendiri yang tak bisa diwartakan di media sosial, oleh manusia. Itu pun, akan diwartakan oleh kawan-kawan dan kerabatnya.

Tetapi, apakah media sosial lantas memberikan keuntungan dan kebaikan yang berbanding lurus dengan pengorbanan untuk bersamanya. Baik waktu ataupun tenaga, juga pikiran?

Apakah semuanya selaras, sebanding, dan juga sudah sesuai?

Ada beberapa orang yang meski mereka tak mau mengakuinya, kecanduan. Tak bisa sedikitpun lepas dari berbagai platform media sosial. Entah Facebook, Instagram, atau WhatsApp [WA]. Tak ada satu pun kegiatannya yang tak luput dari pengunggahan, dan sedikit ata banyaknya berharap mendapatkan tanggapan.

Oke, Portisio….

Jika memang media sosial menjadi ladang sumber penghasilan, tak masalah. Entah itu dengan menjadi selebgram, seleb Facebook, atau berjualan via WA. Tak masalah, jika sebanding antara pengorbanan dengan hasil yang didapatkan.

Akan tetapi, jika bermedia sosial malah menurunkan produktifitas anda, menambah beban-beban pikiran, atau juga menyesaki ruang-ruang batin, saya sarankan anda untuk sejenak rehat dan beristirahat.

Ada banyak hal yang bisa didapatkan atau dihasilkan dengan sejenak mengambil jarak dari media sosial. Sejenak melepaskannya, untuk berkaca sudah sejauh mana media sosial memberikan dampak bagi kehidupan kita. Apakah lebih banyak memberi kebaikan, atau lebih banyak memberikan keburukan.

Begini cara mudah menakar diri sendiri, apakah media sosial memberi kebaikan atau malah keburukan bagi diri kita.

“Jika kita iri melihat teman banyak piknik dan mengunggah fotonya di media sosial, kita sedang dilanda suatu gejala penyakit akut.”

Nah, jika anda merasakan hal itu, istirahatlah. Ada banyak hal yang bisa dilakukan daripada nyengoh di depan layar gadget, dan memupuk rasa iri di hati. Banyak hal yang jauh lebih berguna dilakukan daripada menunggu update status dari mantan. Ada banyak hal yang lebih menarik daripada menunggu apakah teman kerja kita sedang melakukan hal-hal menarik, dan kita hanya bisa melirik. Ada banyak hal yang bisa kita dapatkan, daripada sekadar bermalas-malasan sembari berdalih mager dan semacanya.

Piknik

Piknik yang benar-benar piknik. Bukan piknik yang bertujuan mencari foto-foto bagus, good looking, instagramable, dan lain sebagainya.

Benar-benar piknik yang bertujuan untuk relaksasi, menyegarkan pikiran, menyehatkan badan, dan membantu perekonomian masyarakat setempat dengan jajan-jajan.

Berapa banyak dari kita, yang saat ini tidak asyik menikmati acara pikniknya, atau liburannya di tempat-tempat wisata. Kebanyakan malah berlomba segera foto, dan segera mengunggahnya ke media sosial. Bukan untuk pamer sih, tetapi hanya agar dunia tahu bahwa ia sedang berada di depan plakat suatu tempat wisata. Hal semacam itu bukan pamer sih menurut saya, hanya memberi tahu orang lain saja. Iya, kan?

Cobalah sekali waktu menikmati piknik dengan tekad kesungguhan. Sungguh-sungguh piknik, sebelum anda suatu kali menyesalinya karena tak lagi bisa bersungguh-sungguh melakoni suatu hal atau pekerjaan. Cobalah untuk bersungguh-sungguh dari hal-hal sederhana dan menyenangkan, termasuk piknik.

Hiruplah sebanyak mungkin udara segar, sembari membuka telinga lebar-lebar mendengarkan kicau burung di alam liar, misalnya saja ketika anda sedang piknik di pegunungan. Perhatikan baris hijau pepohonan, untuk memberikan mata anda pandangan selain hanya layar gadget dan beranda media sosial.

Kalau sedang di pantai, cobalah memandang biru luas lautan. Nikmati tiap debur ombak yang selalu bergulung kembali, tanpa sekalipun merasa lelah dan merutuki nasib. Tapi jangan coba-coba melompat dari tebing jika misal anda memandang laut dari ketinggian tebing.

Piknik akan membantu anda membuka wawasan. Bahwa pantai atau pegunungan memang tak seluas media sosial, tetapi ia nyata di depan mata anda.

Olahraga

Kebanyakan duduk sembari bermedsos akan membuat pantat anda menipis, percayalah. Anda tak akan lagi seksi, meski sembari ngemil banyak-banyak.

Hanya perut anda saja yang akan membuncit, tetapi pantat anda menipis. Silahkan bayangkan.

Olahraga itu penting bagi tubuh dan pikiran anda, saudara….
Jauh lebih penting dari update status dan mengunggah foto.

Dampak yang ditimbulkan oleh olahraga, akan langsung mengena pada diri anda, bermanfaat, sekaligus berdaya guna. Tentu anda tak ingin sering-sering update status membeli obat di apotik, atau mengantri periksa dokter, bukan?

Maka dari itu, sejenak rehat atau mengurangi aktifitas media sosial, dan menggantinya dengan olahraga adalah pilihan yang bijaksana.

Syukur-syukur anda meniru Gisela Anastasya yang bermedia sosial sembari tetap berolahraga. Ngomong-ngomong soal Gisel, kok badannya jadi begitu ya sekarang……

Jika olahraga yang anda tekuni adalah bersepeda, tentu takkan bisa sembari bermedsos bukan? Paling tidak selama satu atau dua jam.

Tetapi percayalah, satu atau dua jam bersepeda akan jauh lebih bermanfaat bagi tubuh dan pikiran anda daripada terus menerus spaneng memantau perkembangan berita di media sosial.

Dengan rehat sejenak dan mengambil peluang untuk berolahraga, paling tidak anda akan lebih sehat dan bugar jika suatu saat kembali aktif dalam lini ‘share, like, aminkan’.

Tubuh dan pikiran yang sehat akan mendorong anda untuk lebih positif menyikapi media sosial. Alih-alih menyebarkan hoaks, anda akan menjadi lebih tertarik membagikan video ketika Gisel berolahraga.

Percayalah….Portisio….

Menekuni Hobi

Kecuali hobi anda bermedsos, ya mau bagaimana lagi….

Poin ini untuk anda yang mempunyai hobi di luar media sosial, dan lebih sering kehabisan waktu karena terlalu banyak bermedsos. Tekuni hobi anda, rehat sejenak dari medsos, asal bukan hobi yang merugikan diri sendiri serta orang lain.

Mencuri misalnya, ya jangan.
Ada lho orang yang hobinya mencuri. Bukan karena menginap sejenis penyakit kelainan psikologis, tetapi karena benar-benar mencuri sebagai hobi.

Tekuni hobi yang menyenangkan, membaca buku misalnya.

Kalau hobi anda berolahraga, maka anda sudah merengkuh dua poin dalam satu tujuan.

Menekuni hobi akan membuat pikiran anda teralihkan dari hingar bingar media sosial yang terkadang kurang menyenangkan dan menyehatkan. cobalah untuk kembali pada hobi yang lama anda tinggalkan karena sibuk bermedsos yang unfaedah.

Kalau anda senang menulis, tekuni. Belajar menulis dengan berbagai macam gaya kepenulisan dan gaya bahasa berbeda-beda. Tulislah apapun, pada lembar-lembar kosong aplikasi Word di laptop atau komputer anda. Atau, cobalah untuk menulis pada lembar-lembar kertas, menggunakan pensil atau pulpen. Nikmat, percayalah.

Kelak, ketika anda kembali ke medsos, tulisan-tulisan anda akan mempunyai manfaat lebih, jauh lebih bermanfaat daripada sekadar membagikan tulisan orang lain, yang terkadang sebagian nilai di dalamnya tak sejalan dengan pemikiran atau ideologi kita.

Apapun hobi anda, nikmatilah sebelum nanti datang sepenggal waktu, ketika anda menyadari bahwa terlalu banyak kesempatan yang terlewat untuk menekuni hobi anda. Entah karena kesibukan, karena biaya, karena usia, atau karena masalah kesehatan.

Medsos tetap bermanfaat

Medsos dan dunia digital tetap bermanfaat, dan bahkan akan semakin bermanfaat, karena dunia memang bergerak ke arah sana. Kita tak dapat menolak, atau memungkirinya.

Tetapi kembali lagi, jika medsos sudah membuat anda jenuh dan tertekan, sejenak ambillah peluang untuk beristirahat, dan lakukan hal-hal yang bermanfaat bagi kesehatan anda secara keseluruhan.

Bukan hanya sehat fisik, namun juga sehat psikis.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

10 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *