Hampir Selesai Ramadan, Sudah Dapat Apa?

Ilustrasi. Gambar : Pixabay

Sudah hampir selesai bulan Ramadan, bulan puasa, sudah dapat apa saudara-saudara….?

Sudah dapat banyak pahala untuk masuk surga? Sudah dapat remisi untuk pengampunan dosa-dosa? Sudah dapat banyak foto buka bersama? Sudah dapat banyak kebaikan dan membaginya? Sudah dapat merasakan bahwa lapar terkadang berguna? Sudah dapat mengerti bahwa berbuka puasa bukan berarti melampiaskan segalany? Sudah paham kalau puasa itu bukan hanya menahan lapar dan haus? Sudah dapat bekal untuk menjalani hidup dalam sebelas bulan ke depan? Sudah dapat apa, saudara….?

Tinggal seminggu usai sudah semua. Rangkaian bulan Ramadan dan ibadah puasa di tahun 1440 Hijriyah ini. Usai sudah semua, dan kelak tahun selanjutnya belum tentu kita dapat lagi menemuinya. Tinggal menyisakan hitungan hari, kita sudah mendapat apa dari bulan Ramadan tahun ini?

Penghayatan-penghayatan apa yang sudah kita lakukan, dan kebaikan-kebaikan apa yang sudah kita endapkan untuk menjalani kehidupan?

Bukankah bulan Ramadan adalah madrasah, tempat kita belajar menuntut ilmu tentang keluasan kehidupan?
Bukankah Ramadan adalah tempat dimana kita mengecilkan diri, agar mengerti arti luas kehidupan. Dengan mengerti luas kehidupan, setidaknya kita menyadari bahwa hidup tak berpusat pada diri kita sendiri. Kita adalah bagian dari semesta, fragmen kecil, sekadar potongan bagian saja.

Dengan mengerti bahwa kita hanyalah fragmen, maka takkan ada ketinggian hati untuk kita berjalan di muka bumi.

Ah, sahabat gorengan yang baik hatinya, kenapa tulisan disini selalu menjurus pada hal-hal yang kaku dan serius….?

Dapat apa sudah selama Ramadan tahun ini?

Gula darah naik?

Kolesterol membumbung tinggi?

Sendi ngilu asam urat datang memburu?

Atau tensi naik anggaran untuk lebaran kurang?

Ahahaha…..

Serius ini, sudah cek darah berapa kali selama Ramadan?
Bagi anda yang gemar mbadog gorengan ketika berbuka, harusnya rajin cek kolesterol paling tidak seminggu sekali. Berarti sampai hari ini [29/05/2019], harusnya anda sudah dua atau tiga kali cek kadar kolesterol. Jangan sampai terlena, dan esok ketika lebaran, anda tiba-tiba njempalik karena kolesterol tinggi.

Ya kan tidak lucu nanti ketika kumpul keluarga anda hanya melihat mereka makan ketupat opor atau rendang, dan juga aneka masakan lainnya. Kan tidak lucu nanti banyak makanan tersaji, dan anda hanya lholak-lholok gigit jari.

Andai Ramadan belum membawa kita pada kesadaran ruhaniah, setidaknya jangan sampai kita tersesat pada dimensi jasmaniah. Sudah tak dapat pengalaman ruhani, dan kita malah tersesat pada jasmani. Bukannya mendapat pencerahan agar langkah hidup terasa ringan, kita malah terbebani masalah tensi dan kolesterol yang menyakitkan.

Pertanyaan saya bukan untuk meledek, atau mengajak berkelahi. Sungguh saya menyarankan anda untuk mengecek kadar gula darah, kolesterol, asam urat, dan juga tensi anda di apotek terdekat. Biayanya jauh lebih murah daripada ketika harus terlanjur terkapar di rumah sakit. Percayalah.

Begini, terkadang beberapa orang enggan mengecek kondisi kesehatannya secara rutin, hanya karena takut ketahuan akan adanya gangguan atau kekurangan kesehatan dalam dirinya.
Apa yang perlu ditakutkan dari sebuah usaha untuk memperbaiki kualitas atau derajat kesehatan?

Ketakutan semacam itu berlebihan saja. Ketakutan yang tak seharusnya hinggap. Toh lebih baik mengetahui dari awal perihal gangguan kesehatan dalam diri kita, untuk kemudian dicari solusi pencegahan atau pengobatannya.

Terkait dengan bulan Ramadan dan juga ibadah puasa, sahabat gorengan pinggir jalan yang baik hatinya….
Terkadang menu berbuka puasa kita sungguh penyakitable.

Sudah gorengan dengan tepung-tepungan, masih ditambah santan kental, masih juga masakannya mengandung minyak. Memang di lidah terasa legit dan nikmat, tetapi…..

Jika itu berlangsung hampir setiap hari, maka hampir juga bisa dipastikan bahwa anda sedang berusaha sesering mungkin menggunakan kartu BPJS.

Bahwa esensi puasa adalah menahan, terkadang kita lupa. Kita hanya fokus pada saat siang hari saja, selepas subuh sampai menjelang maghrib. Tetapi kita lupa setelahnya, lupa diri dan lupa esensi.
Seperti tak ada lagi sisa-sisa ketawadhu’an kita ketika pada siang hari banyak menundukkan kepala dan beribadah. Kita begitu beringas selepas maghrib, dan terkadang lupa diri bahwa manusia adalah makhluk yang penuh batas.

Oh ya, andai Ramadan ini anda tetap baik-baik saja dan sehat-sehat saja, syukurlah. Paling tidak ada hal-hal yang bisa kita dapatkan secara baik selama bulan Ramadan ini. Paling tidak tubuh kita tetap sehat, dan tak dihinggapi kolesterol laknat.

Sebab juga akan sedikit wagu nantinya, jika kita dihinggapi penyakit yang lebih banyak diakibatkan karena keteledoran manusia sendiri, di tengah-tengah bulan suci.

Mosok di bulan suci kita malah kulakan penyakit.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

14 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.