Hanya Berjarak Dua Jam Perjalanan

Perjalanan dengan kendaraan bermotor tentu saja, bukan perjalanan dengan hanya langkah sepasang kaki.

Kalau dengan sepasang kaki, yang bahkan jika dipaksa untuk terus menerus melangkah dengan cepat tanpa istirahat, saya yakin akan membutuhkan waktu paling tidak dua hari. Entahlah…

Semua bermula sekira setahun yang lalu, ketika kesempatan bertemu dengan peluang, dan bersatu dalam momentum yang tepat. Tepat menurut saya pribadi, tentu saja.

Saya selalu menyukai masa lalu, sejarah yang bercerita tentang apa dan bagaimana saat itu, sehingga membentuk dan menceritakan apa dan bagaimana saat ini. Saya selalu percaya bahwa apa yang terjadi pada masa lalu, berkelindan erat membentuk apapun yang terjadi pada saat ini.

Sedang yang terjadi pada saya saat ini, bahkan saya yakin 100% bahwa itu terjadi karena apa yang telah saya lakukan dimasa lalu.

Tentu saja tak selamanya membaca ulang sejarah hidup akan menyenangkan. Ada kalanya itu seperti mengulang cerita pahit yang harusnya dilupakan.

Terkadang membaca ulang masa lalu akan membuka luka dan serasa menaburkan garam diatasnya, perih.

Namun tetap saja membaca ulang masa lalu demikian pentingnya bagi saya, agar saya mensyukuri apa yang terjadi saat ini. Bahkan, jika pada masa saat ini terasa perih dan juga tak menyenangkan. Membaca masa lalu akan memberikan gambaran jelas dan pembanding konkret, bahwa kehidupan selalu mengulang siklusnya. Pengulangan baik-buruk, pahit-manis, bahagia-nestapa, dan berbagai macam paradoks lainnya.

Jika sudah begitu, melihat dan membaca masa lalu akan memberikan ketenangan bagi saya. Setidaknya, saya sebenarnya pernah mengalami hal-hal yang buruk dan mencemaskan dimasa lalu. Jika saya merasakan dan mengalaminya lagi dimasa ini, setidaknya yang berbeda hanya pada waktu dan tempatnya.

Hanya berselang dua jam perjalanan dengan kendaraan bermotor, dan tiba-tiba saya sudah berada pada lingkungan yang jauh berbeda.

Semua juga sebagai akibat dari perbuatan saya dimasa sebelum-sebelumnya. Saya selalu merasa diri sebagai sosok pendobrak nan revolusioner yang akan bisa mengubah stagnasi keadaan korup status quo, dan mengantarnya pada era yang lebih cerah dan gemilang. Saya selalu merasa bagai Ernesto ‘Che’ Guevara yang merevolusi Amerika Selatan ‘seorang diri’. Saya selalu merasa seperti Tan Malaka yang berjuang dari tengah keheningan.

Tetapi saya lupa, jalan keduanya adalah jalan yang hanya bisa ditempuh dengan rasa sakit dan kesepian. Kegemilangan keduanya saya baca dari buku-buku, dan sudah jauh dari era dimana mereka menghunus segala idealisme untuk diperjuangkan. Saya lupa, bahwa mereka menjadi ‘terhormat’, jauh setelah mereka mati.

Dan yang saya lupakan, bahwa saya bukanlah keduanya.

Jangankan mencetuskan revolusi untuk mengubah tatanan suatu kantor agar menjadi lebih baik, bahkan berbicara pun takkan ada yang mendengarkan. Tetapi akal pikiran saya saat itu terlalu bebal untuk dapat mengerti dan memahami, segala yang saya perjuangkan itu hanyalah subyektifitas.

Subyektifitas pemikiran saya sendiri. Sedang orang lain, merasa semuanya sudah dan sedang baik-baik saja. Senyatanya, merasa sebagai revolusioner dan idealis semacam itu mengantar saya pada situasi-situasi yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Situasi yang mungkin dulu juga dialami oleh Guevara maupun Tan Malaka.

Situasi yang mengantar mereka pada sepi dan sunyi, juga keterasingan.

Satu hal yang luput saya baca dari sejarah masa lalu Guevara ataupun Tan Malaka, apakah pernah setidaknya sekali mereka menyesal dengan pilihan hidup yang revolusioner dan penuh idealisme semacam itu? Adakah teladan yang bisa saya ambil mengenai keteguhan hati dan ketebalan mental mereka? Apakah pernah sekali waktu mereka merokok dan menyesap kopi sembari berdialog dengan pilihan hidup dimasa sebelumnya?

Pilihan hidup yang membuat ‘masa kini’ mereka berteman dengan malaria dan hutan belantara, serta hidup berdampingan dengan ancaman dan segala aktifitas yang jauh dari kata stabilitas.

Mungkin pada masa itu, mereka berdua berjuang bukan karena ingin mendapat sesuatu selain memperjuangkan apa yang mereka yakini. Berjuang menegakkan prinsip hidup serta idealisme, yang itu berhubungan erat dengan hajat hidup orang banyak.

Sedang saya? Apa yang saya perjuangkan?

Bukankah sebenarnya saya sedang lari dan menghindar?

Tetapi bukankah Tan Malaka juga berlari? Bukankah Guevara juga berlari?

Bukankah mereka juga tak lantas selalu berhasil? Dan yang terpenting, bukankah mereka tetap berjuang dengan penuh kehormatan, meski hasil gemilang tak mesti didapatkan?

Bermula dari sekira satu tahun yang lalu, dan medan rimba terbentang di depan.

Tetapi, bukankah lebih menyenangkan berjalan ditengah rimba belantara asing dengan memelihara satu tujuan dan beberapa harapan, daripada berjalan menyusuri keramaian kota dengan tanpa harapan dan tujuan?

Terlalu banyak pertanyaan dalam jarak dua jam perjalanan, namun setidaknya kelak itu akan cukup membantu, untuk menuliskan barang dua atau tiga buku. Semoga.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

212 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *